Oleh : Khairul fadli rambe
Kadiv Riset dan Jaringan Publik UKM Surau Konstitusi
Universitas Imam Bonjol Padang
Mencicipi gorengan yang sebelumnya disajikan, asli rasanya sangat menggetarkan jiwa. Di mana memberikan persepsi bahwa orang-orang yang kuliah di Universitas Islam Negeri memiliki standar keilmuan yang tidak relevan dengan kebutuhan pasar. Seolah-olah mengatakan, setiap lulusan dari Universitas Islam Negeri itu hanya menghasilkan orang-orang yang ”ahli surga” tapi ”susah cari dunia”.
Dengan hantaran irama yang syahdu, kita dibuat terkesima dengan presentasi yang dibangun atas dasar keresahan ini, yang mengandung aroma memikat sehingga menggugah selera untuk dapat menikmatinya. Tapi, di balik keindahan dan daya tariknya, kita perlu bertanya lebih jauh, apakah itu inti dari uneg-uneg yang mau disampaikan? Atau, jangan-jangan, kita hanya terbuai oleh estetika dan melupakan substansi yang sebenarnya?
Kalau kata pak Subhan Ajrin—Dosen UIN Imam Bonjol Padang ”Kritis memang penting, tapi harus dilandasi dengan keadilan wacana.” begitu kira-kira sindiran manis dari beliau.
Berbicara tentang ilmu pengetahuan, terlalu remeh kalau tujuannya hanya untuk mudah dalam mencari pekerjaan, apalagi jika kita merujuk pada sindiran bahwa lulusan Universitas Islam Negeri kesulitan mendapatkan pekerjaan. Justru di sinilah letak urgensi untuk melampaui pandangan sempit yang menganggap ilmu pengetahuan semata-mata sebagai alat untuk mencari nafkah.
Dengan analogi sederhananya begini. Ilmu itu kayak peta sama kompas buat ngejalanin hidup. Orang yang punya ilmu, meskipun awalnya nggak langsung jadi bos, tapi dia punya gambaran jelas mau ke mana dan bisa ngambil keputusan yang benar di setiap belokan. Sementara, orang yang nggak dibekali dengan ilmu, meskipun mungkin secara kebetulan berada di posisi yang lebih tinggi, ibaratnya jalan nggak menggunakan peta. Bisa aja nyuruh-nyuruh, tapi arahnya nggak jelas, keputusannya bisa ngaco, dan ujung-ujungnya bisa hilang arah.
Ilmu pengetahuan, dari mana pun kita mendapatkannya, adalah fondasi peradaban, pendorong inovasi, dan pemantik kebijaksanaan. Sejalan dengan itu, Allah menegaskan dalam hadis Rasulullah SAW bagi orang-orang yang menunutut ilmu, derajatnya akan diangkat. Pengangkatan derajat ini bukan hanya di dunia, dengan berupa kemuliaan dan kehormatan di antara sesama manusia, tetapi juga di akhirat kelak.
Secara substansi, kuliah itu bukan cuma soal dikasih ilmu atau dilatih biar bisa kerja doang, tapi yang paling penting, ”kuliah itu membentuk pola pikir”. Begitulah kira-kira yang diungkapkan bg rahmat sitepu dalam diskusi di warung kopi kala itu.
Di dunia perkuliahan, pikiran kita diasah supaya bisa mikir lebih dalam, di mana nggak gampang percaya akan berita hoax, bisa memberikan masukan yang masuk akal, dan dapat memecahkan masalah dengan cara yang sistematis.
Jadi, esensi dari kuliah itu untuk melatih kita supaya melihat dunia ini lebih luas, nggak gampang dibohongin, dan bisa mengambil keputusan yang lebih benar dalam hidup. Bukan cuma buat mencari kerja aja bung.
Nah, yang salah itu justru ekspektasi kita sendiri kalau selesai kuliah itu pasti langsung gampang dapat kerja. Namun, realita di lapangan… wah sangat-sangat tidak menjanjikan.
Tetapi…
Justru sesungguhnya, orang-orang yang tamat kuliah dari Universitas Islam Negeri itu berpotensi besar untuk mengisi berbagai ceruk kehidupan. Karena idealnya, lulusan dari Universitas Islam Negeri mempunyai basis kekayaan ilmu agama dan juga umum. Mereka dapat mengimplementasikannya menjadi jurnalis yang beretika, pengusaha yang bertanggung jawab sosial, akademisi yang mencerahkan, atau bahkan pemimpin yang berintegritas. Jika ini dapat diterapkan, asli ini sebagai daya tarik bagi lulusan dari kampus Universitas Islam Negeri.
Kalau kata bapak muhammad Taufik–dosen UIN Imam Bonjol Padang ”Tak penting di mana kuliahnya, yang penting siapa yang kuliah.”
Oleh karena itu, sindiran sebelumnya justru harus menjadi tamparan bagi kita untuk membuktikan bahwa ilmu yang didapatkan di Universitas Islam Negeri–dengan segala kekhasannya– mampu menghasilkan individu-individu yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki landasan moral dan spiritual yang kuat, sehingga mampu memberikan kontribusi yang unik dan berharga bagi bangsa dan negara.
“Ukuran keberhasilan ilmu pengetahuan tidak hanya terletak pada seberapa cepat seseorang mendapatkan pekerjaan, tetapi lebih pada dampak positif yang dapat ia berikan kepada lingkungan dan kemanusiaan secara luas”. Begitulah kira-kira makna syair Rabindranath Tagore.
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















