Nasional

Turki Belajar Manajemen Haji dengan Indonesia

Mekkah, Prokabar — Sebagai negara pengirim jemaah terbesar di dunia, Indonesia dinilai berhasil menyelenggarakan seluruh prosesi haji dengan tertib dan teratur. Jemaah haji Indonesia pun dikenal patuh.

Apresiasi ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Haji dan Umrah Turki Remzi Bircan saat menggunjungi Misi Haji Indonesia, di Kantor Urusan Haji Indonesia, di Makkah. “Sehingga, kami ingin sekali belajar bagaimana mengelola haji seperti Indonesia,” ujar Remzi, dilansir dari MCH Kemenag, Kamis (22/8).

Hadir dalam pertemuan tersebut Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Nizar Ali, Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Endang Jumali, para Pengendali Teknis PPIH, serta Kepala Daerah Kerja Makkah Subhan Cholid.

Saat ini menurut Remzi, Indonesia memiliki kuota tiga kali lipat lebih besar dari Turki. “Turki memiliki kuota sebanyak 80ribu jemaah. Itu terdiri dari 30 ribu jemaah haji khusus dan 50 ribu jemaah haji reguler,” imbuhnya.

Namun, lanjut Remzi, dengan jumlah jemaah yang besar ini Indonesia dinilai dapat mengorganisasi dengan baik. Padahal bagi pihaknya, melakukan pergerakan dari Makkah ke Arafah, kemudian dari Arafah ke Mina dengan membawa 80 ribu jemaah saja sudah merupakan kesulitan tersendiri.

Maka dalam kesempatan pertemuan tersebut, Remzi bermaksud membangun silaturahmi untuk kemudian dapat berbagi ilmu dan pengalaman dengan Indonesia. “Pembicaraan ini kami harap dapat kita dilanjutkan di Jakarta, Indonesia atau pun di Ankara, Turki,” ujar Remzi.

Sementara Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Nizar Ali menyampaikan terimakasih atas apresiasi yang diberikan. “Alhamdulillah, kita diberikan kehormatan oleh Turki untuk bertukar informasi,” kata Nizar.

“Kita dipandang sebagai pengelola ibadah haji yang rumit, karena dari sisi jumlah jemaah haji yang datang ke sini terbesar di dunia. Lalu kita juga dikenal jemaah haji yang paling tertib, paling penurut, sehingga ini mereka butuh belajar dari kita,” imbuhnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama 45 menit tersebut, Remzi sempat terkejut dengan perbandingan jumlah jemaah dengan petugas haji. Turki memiliki 2500 petugas untuk melayani 80 ribu jemaah haji. Sementara, Indonesia hanya memiliki 4300an petugas untuk melayani 231 ribu jemaah haji.

“Mereka tadi sempat kaget juga dengan jumlah hotel yang kita sewa di Makkah. Di Makkah ini Indonesia menyewa 173 hotel, sementara di Madinah ada 106 hotel. Mengorganisasi ini jelas tidak mudah,” kata Sri Ilham.

Belum lagi menurut Sri Ilham, jumlah maktab jemaah haji Indonesia di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) jauh lebih besar dari Turki. Sebanyak 214 ribu jemaah haji reguler Indonesia pada 1440H/2019M ini terbagi dalam 73 maktab, sementara Turki hanya memiliki 12 maktab untuk 50ribu jemaah.

“Banyak sebenarnya yang ingin dibicarakan, tapi kali ini waktunya terbatas. Nanti insyaAllah akan dilanjutkan di Indonesia atau Turki,” tutur Sri Ilham. (*/hdp)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top