Daerah

Tugu Fotocopy Simbol Sukses Masyarakat Atar


Bangunan tugu biasanya untuk peringatan bersejarah, namun masyarakat Atar malah membuat tugu fotocopy.

Dibaca : 924

Tanah Datar, Prokabar – Bangunan tugu biasanya untuk peringatan bersejarah, namun masyarakat Atar malah membuat tugu fotocopy.

Tugu fotocopy yang terletak di Kenagarian Atar, Tanah Datar Sumatera Barat.

Tugu ini sebagai bentuk simbol jika masyarakat Kenagarian Atar banyak yang berprofesi sebagai pengusaha fotocopy.

Bahkan, usaha mereka telah tersebar di beberapa provinsi di pulau Jawa dan Sumatera.

Pembangunan tugu Fotocopy ini atas usulan masyarakat rantau.

Berdasarkan data Kenagarian Atar, total penduduk atar saat ini sebanyak 5.400 kepala keluarga, dua pertiganya berada di perantauan.

Arti kata hampir 3.000 orang masyarakat Atar telah berada di perantauan.

“Kalau kita perkirakan itu ada 3.000 orang warga kita di perantauan, semuanya bisa kita sebut sebagai pengusaha fotocopy,” ujar Walinagari, Halyu Pardi saat di kantornya, Senin (29/3).

Awal Ide Tugu Fotocopy

Wali Nagari mengatakan jika sejarah dari perjalanan masyarakat Atar dengan fotocopy bermula dari seorang perantau, H Yuskar.

Beliau mencoba merintis usaha Fotocopi di Jawa Barat, berhasil hingga sukses sampai saat ini.

“Itu awalnya dari tokoh masyarakat kita bapak H Yuskar, dan saat ini telah banyak juga tokoh masyarakat yang sukses di usaha ini,” lanjutnya.

Sampai saar ini, tradisi merantau masih melekat bagi masyarakat Atar. Biasanya, seusai tamat dari sekolah, pemuda Atar biasanya akan langsung pergi merantau.

Awalnya, mereka akan bekerja sebagai karyawan di tempat fotocopi, sekalian untuk belajar mengoperasikan mesin buatan negara barat itu.

Jika telah lancar, mereka akan diusahakan perantau lain untuk bisa mandiri.

“Ada juga yang tamat sekolah langsung merantau, ada juga yang putus sekolah dan memilih untuk merantau,” ungkap Aswir, Sekretaris Nagari Atar.

Negeri Atar merupakan daerah dengan topografi perbukitan. Datarannya yang mengandung batu, sehingga pertanian di Nagari itu kurang berkembang.

“Kalau ekonomi di kampung itu bergerak di bidang perkebunan, seperti karet. Kalau pertanian, sawah kita hanya punya tadah hujan. Satu rumah di Atar ini, bisa kita sebut punya ladang atau sawah,” sambung Walinagari.

Pandemi covid 19 yang melanda, turut dirasakan oleh masyarakat Atar. Jika biasanya mereka menerima kiriman dari perantauan, namun saat ini hal tersebut mulai berkurang.

“Kalau bicara pandemi, tentu semua terdampak. Perantau terdampak, masyarakat di kampung juga. Ekonomi perantau kita terdampak untuk saat ini karena, orang tidak sekolah, kuliah juga tidak. Padahal mereka bergantung pada itu,” tutup Aswir. (eym)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top