Malang, prokabar – Empat hari sudah usai insiden mengerikan di Stadion Kanjuruhan, Malang pada hari Sabtu (01/10) lalu. Tapi cerita duka terus mengalir, dan satu persatu terus muncul ke permukaan.
Salah satunya yang masih jadi sorotan, bahkan masih jadi trending topic adalah Pintu 13, yang disebut-sebut sebagai “kuburan massal” karena disanalah korban paling banyak meninggal.
Hari ini, tagar Kengerian di Pintu 13 masih jadi trending topic di Twitter.
Ya, Pintu 13 Stadion Kanjuruhan memang jadi salah satu pintu keluar yang menjadi sorotan karena sempat tertutup usai momen polisi mengeluarkan gas air mata.
Seperti diwartakan bola.com, terlihat beberapa area di stadion masih terdapat garis polisi, terrmasuk Pintu 13. Loster udara di Pintu 13 juga jebol. Juga masih ada terlihat darah di Pintu 12 dan Pintu 13 itu.
Salah seorang korban yang selamat dari pintu maut tersebut. Salah satunya, Elmiati (33), warga Sumpil, Blimbing, Kota Malang. Dia kehiolangan suami dan anaknya harus kehilangan nyawa. Yakni Rudi Harianto (34) dan Virdy Prayoga (3).
“Waktu itu saya tidak ingat berapa kali tembakan gas air mata yang ke tribun. Saya duduk di bagian tengah di tribun 13,” Elmiati mengisahkan.

“Lalu kami buru-buru keluar. Anak saya digendong suami ada didepan. Saat mau turun tangga keluar, kami terpisah,” lanjutnya.
Waktu itu Elmi menyebut jika pintu 13 sudah tidak terkunci. Namun meski dalam kondisi terbuka tapi masih terasa sempit untuk kerumunan suporter yang hendak keluar.
Sehingga ada lubang udara yang dijebol untuk akses keluar lain. Tak disangka, itu jadi kebersamaan terakhir mereka.
Elmi yang tak bisa menembus kerumunan akhirnya kembali ke tribun sambil menunggu asap gas air mata hilang. Tentu dengan menahan perih di bagian mata. Dia tidak sendirian. Elmi bersama beberapa temannya.
“Setelah agak reda, saya memilih keluar lewat pintu lain. Pintu yang mengarah ke dalam lapangan. Kebetulan waktu itu sudah dibuka. Kami sempat ditolong anggota TNI menyiram wajah dengan air untuk mengurangi efek gas air mata,” sambungnya.

Suporter Arema FC atau Aremania, Eko Prianto (39 tahun) juga salah satu dari sekian ribu suporter Arema yang menjadi saksi mengerikannya tragedi di Stadion Kanjuruhan.
Eko mengatakan malam itu dia sengaja tak masuk ke stadion, meski tiket sudah di tangannya. Dia lebih memilih menemani kawannya yang tak punya tiket.
“Tanggal 1 Oktober, saya punya tiket, tapi saya tidak masuk. Saya ada di luar, saya dan teman saya cuma keliling di luar stadion,” kata Eko, dikutip CNNIndonesia.com.
Eko kemudian berkeliling untuk mengamati kondisi. Ia melihat banyak sekali aparat berjaga-jaga di sekitar Stadion Kanjuruhan.
Saat itu kondisi masih aman bahkan sampai peluit panjang akhir babak kedua dibunyikan. Namun tak berapa lama, Eko mengaku mendengar suara letupan gas air mata dari arah dalam.
“Setelah peluit dibunyikan masih keadaan kondusif. Saya berpikir, alhamdulillah meskipun kalah Aremania mereka sudah dewasa. Tapi beberapa menit kemudian ada suara seperti tembakan beberapa kali,” ujarnya.
Ia pun mendekat ke gerbang stadion, mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ternyata yang ia dapati adalah gedoran dari arah dalam dilanjutkan teriak-teriakan minta tolong.
“Saya berada dekat gate 10, di situ pertama kali saya dengar ada suara gedor-gedor pintu, suara minta tolong, suara jeritan,” ucapnya.
Ia kemudian melihat seorang perempuan sudah tak sadarkan diri. Eko dan kawannya pun mengevakuasi perempuan tersebut ke tempat yang lebih aman.
“Pertama kali saya lihat ada perempuan sudah lemas, pingsan. Sama rekan-rekan ditolong. Setelah itu satu, dua, tiga, jumlah korban terus bertambah. Saya menolong ada lima orang,” kata dia.
Eko kemudian melihat hal yang lebih parah di gate 13 dan 14. Di sana dia menyaksikan sendiri banyak perempuan dan anak-anak yang tergeletak. Posisinya bertumpukan.
Dia mencoba membuka paksa pintu gerbang gate 13, dengan segala cara. Tapi upayanya itu tak berhasil karena pintu hanya terbuka sebagian.
Di tengah cerita, Eko kemudian tak bisa meneruskan perkataannya. Tangisannya pecah, dia hanya bisa tertunduk.
“Di gate 13 di situlah titik semacam kuburan massal teman-teman saya, Aremania. Aku enggak kuat mas,” ujar Eko sambil terisak.

Setelah sedikit tenang, Eko melanjutkan ceritanya. Ia mengatakan dia kemudian mencari pertolongan ke aparat keamanan yang malam itu bertugas di Kanjuruhan untuk mengevakuasi korban yang bergeletakan. Tapi penolakan justru didapatkannya.
“Saya lari ke aparat keamanan, petugas dari TNI-Polri. Pertama saya minta tolong ke kepolisian. Mereka tidak mau, takut terjadi apa-apa,” ucapnya.
“Ke aparat yang pakai baju loreng, juga ditolak, saya malah mau dipukul sama beliau sambil bilang ‘temenku yo onok sing kenek cok’,” tambah Eko.
Bagi Eko, peristiwa malam itu adalah kejadian paling buruk selama lebih dari hampir 30 tahun dia menjadi Aremania. “Ini kejadian paling buruk dan bukan yang pertama. Tapi saya minta kejadian, tragedi 1 Oktober ini, harus diusut tuntas,” pungkas dia.(*)
















