Oleh : Beni Putra Ananda
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan kebudayaan dan sejarah. Salah satunya sejarah pemotongan kuntjit terhadap orang- orang china secara paksa oleh kaum para ulama dan santri di wilayah Cirebon pada tahun 1913. Sejarah itu dituliskan dalam bentuk naskah kuno yang ditulis langsung oleh Jaka Sari. Jaka Sari merupakan orang atau saksi hidup yang menyaksikan langsung sejarah itu terjadi pada masa lampau. Dengan kata lain naskah ini merupakan catatan pribadi dari sang penulis.
Kuntjit sendiri merupakan gaya atau model rambut berupa kuncir atau disebut juga dengan taucang. Pada saat itu model rambut taucang merupakan model rambut wajib bagi semua pria Tionghoa. Model rambut taucang juga seseorang itu menjunjung tinggi ajaran konghucu. Dan apabila rambut model taucang ini dipotong, maka hal itu dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap leluhur nenek moyang mereka.
Sejarah pemotongan kuntjit ini berawal dari konflik antara pribumi dengan orang-orang china yang tinggal di daerah mereka atau hanya menumpang, awalnya kedatangan orang-orang china dianggap menguntungkan dan sambut baik oleh pribumi. Namun lama kelamaan muncul rasa tidak puas pribumi terhadap orang- orang china kaya. Orang- orang china yang kaya mulai memperlihatkan sifat asli mereka. Pribumi menganggap perilaku orang- orang china ini sudah tidak pantas dan sudah melanggar hukum. Hal ini disebabkan karena orang- orang china ini mulai menganggap derajat mereka lebih tinggi daripada pribumi sehingga mereka bebas mau berbuat apa saja. Dan akhirnya pribumi mengganggap mereka sebagai penjajah di tanah mereka sendiri.
Karena rasa tidak puas inilah para pribumi yang mayoritas kaum ulama dan santri bersepakat akan memberontak terhadap orang- orang china. Mereka berkumpul dan berunding untuk menyusun rencana pemberontokan. Sehingga terjadilah peperangan kaum ulama dan santri dengan orang-orang cina. Para ulama bertekad untuk memotong kuncir orang- orang cina yang telah berbuat seenaknya secara paksa walaupun harus berkorban nyawa.
Para ulama dan santri sudah membulatkan tekad dan terus menerus berperang melawan orang- orang cina. Perperangan pecah, tidak sedikit korban yang berjatuhan akibat perang ini baik itu dari pihak kaum ulama maupun pihak orang- orang china. Karena banyaknya korban yang berjatuhan pihak china terpaksa dipukul mundur disebabkan sedikitnya anggota mereka dibandingkan anggota dari kaum ulama dan santri.Untuk sementara kaum orang- orang cina memutuskan bersembunyi dan menyusun strategi baru.
Setelah dipukul mundur, orang- orang cina bukanya menyerah malah mereka berniat menyerang balik kaum ulama dan santri setelah mereka menyusun rencana baru. Namun Tidak berselang lama, orang- orang cina kembali memperoleh kekalahan dan untuk kali ini mereka dipaksa menyerah kemudian ditangkap. Seluruh orang cina terpaksa pasrah dan tunduk kepada pemerintah. Para lelaki china yang masih hidup usai berperang diwajibkan memotong kuncirnya dan disaksikan oleh pemerintah. Kemudian baru diperbolehkan pulang kerumah masing- masing. Begitu juga dengan kubu ulama dan santri, mereka juga kembali ke rumah masing- masing.
Orang- orang cina yang masih hidup merasa sangat beruntung karena tidak dihabisi oleh kaum ulama dan santri. Mereka memutuskan ketika masih ada diantara mereka, orang- orang cina yang rambutnya masih dikuncir mereka akan langsung memotongnya sendiri- sendiri. Untuk sebagai rasa penyesalan mereka terhadap kelakuan mereka yang lampau. Karena mereka menyadari kesalahan mereka. Mereka masih untung tidak diusir, karena mereka di sana hanya berstatus tamu.(*)
















