Budaya

Topi Ekor Kuda, Karya Syekh Angku Saliah Yang Masih Dilestarikan

Padang Pariaman, Prokabar – Selain nilai-nilai keteladanan dan amalan kebaikan yang dititipkan ke anak cucunya, ternyata Syekh Ungku Saliah juga meninggalkan sebuah kerajinan tangan berupa

Topi Ekor Kuda. Topi dari bulu ekor kuda yang dirajut tersebut terus diwarisi masyarakat sekitar Gobahnya di Kampuang Bendang, Nagari Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto.

Empat puluh empat tahun silam lamanya, Topi tersebut masih terus dilestarikan sebagai pakaian sehari-hari tokoh agama seperti Tuanku, Imam, Katib, Katik dan Bilal. Masyarakat umum juga banyak pula yang memakai dalam keseharian mereka.

Topi tersebut konon diajarkan ke murid Angku Saliah untuk melatih fokus dan kesabaran dalam diri. Nilai-nilai tersebut juga menjadi amalan pada masyarakat.

Sidi Nurdin (78) adalah salah satu dari beberapa orang pelestari topi tersebut. Ia saat ini satu-satunya yang eksis pembuat dan memproduksi Topi Ekor Kuda. Ada yang lain, namun bahan yang digunakan tidak lagi bahan asli ekor kuda, melainkan dari benang nilon.

“Saya sejak tahun 1970 membuat atau memproduksi Topi Ekor Kuda. Alhamdulillah, pemesan dan pelanggan cukup banyak. Saat ini Kedai Silungkang dan beberapa kedai lainnya sudah menjadi langganan tetap saya. Namun sayang, bahan baku sudah sangat sulit didapatkan, membuat usaha ini semakin berkurang produksinya,” kata Sidi Nurdin kepada Prokabar.com cerita dirumahnya, Lubuak Bareh, Kampuang Bendang, Sungai Sariak, Padang Pariaman, Sumbar, Jumat (3/8).

Dahulu lanjutnya, banyak orang yang membantu saya membuatkan Topi Ekor Kuda ini. Terutama di sekitar Gobah Syekh Ungku Saliah. Bahan didapat di Pasar Ternak Payakumbuh, Solok, Batu Sangkar, Sijunjung dan Padang Pariaman ini. Namun kondisi semakin berubah, bahan baku didapat hanya di Payakumbuh. Itupun hanya beberapa cupak, untuk bahan dua buah topi saja.

Di masa Kepemimpinan Bupati Anas Malik (1980-1990), usaha saya menjadi idola dan primadona. Pasalnya, sangat disukai Bupati serta mempromosikannya pada tamu-tamu yang datang Ke Padang Pariaman.

“Tamu dari Pemerintah Pusat maupun Provinsi lainnya sangat senang dan bangga setelah mendapat cendramata Topi Ekor Kuda dari Bupati Anas Malik. Dan saya sebagai pemilik dan pelestari karya Angku Saliah ini sangat senang dan bangga pula,” tutur Kakek Bersuku Mandahiling tersebut.

Kelangkaan bahan baku Topi Ekor Kuda ini juga dirasakan pasangan suami istri Amran Syukur (52) dan Bahdiah (44). Mereka tinggal di sekitar Gobah Syekh Ungku Saliah. 

Mereka dahulunya pekerja dari Sidi Nurdin. Akibat kelangkaan bahan, membuat hubungan kerja mereka terputus. Sekarang pasangan suami istri ini mencoba membuat Topi Ekor Kuda tersebut dari benang nilon. Selain itu, mereka juga membuat lukah belut.

“Bahan yang sudah siap kami jual dan titipkan ke pedagang Ijar (37), tetangga depan rumah. Meski untung tidak banyak, setidaknya itu dapat menambah tambahan ekonomi kami,” ungkap Amran Syukur dan Bahdiah secara kompak curhat kepada prokabar.com.

Menurut mereka, pemesan Topi Ekor Kuda ini sudah sampai ke Kalimantan, Brunai Darusalam, Malaysia, Pulau Jawa dan Singapura. Bahkan di pedagang online juga banyak dijualkan.

Selain memiliki tuah Angku Saliah, topi ini sangat diminati di luar negeri. Terutama ukuran besar dan panjang. Untuk orang Minang secara umumnya, banyak dipakai tokoh adat, tokoh agama seperti Tuanku dan Imam dari Tokoh Agama Syatariah. 

Saat ini mereka membutuhkan bantuan terkait sulitnya bahan baku langku. Mereka pengrajin Topi unik dan langka ini bantuan Pemkab Padang Pariaman, mencarikan solusi terbaik mendapatkan bahan tersebut. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top