Tinjauan Ekologi Penyebaran Virus Corona

Penulis -

Kamis, 30 April 2020 - 14:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ratna Wilis S.Pd, MP

Dosen Geografi UNP dan Mahasiswa S3 Ilmu Lingkungan, Pascasarjana UNP

 

Penyebaran Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) di seluruh dunia sejauh ini terpantau tidak mempunyai suatu pola penyebaran yang jelas mengikuti suatu faktor tertentu. Secara ekologis, virus termasuk salah satu komponen ekosistem yang “hidupnya” tergantung dari komponen-komponen lainnya, yaitu komponen biotik, abiotik dan interaksi dinamis didalamnya.

Demikian juga dengan Covid-19 ini, yang hidupnya menumpang pada inang dan suatu media tertentu sebagai pelindungnya. Komponen-komponen ekosistem tersebut akan dicoba dijadikan pisau analisis penyebaran Covid-19 berdasarkan review hipotesis kajian-kajian yang telah ada sebelumnya.

Konon, hasil penelitian menyebutkan bahwa jenis virus corona ini pertama kali menjangkiti seseorang di Wuhan setelah dia makan sup kelelawar. Dari Wuhan yang terletak di Provinsi Hubei di Tiongkok ini virus corona menyebar dan membawa petaka ke seluruh dunia, tanpa kecuali. Di negara-negara yang berada di lintang tinggi belahan bumi utara, seperti negara-negara di benua Eropa (Perancis, Ingris, Italia, Spanyol, Jerman), Asia Tengah (Iran) dan Amerika Serikat menunjukan tingkat kasus penularan dan kematian yang sangat tinggi dibandingkan negara-negara yang terletak di wilayah tropis, misalnya.

Untuk memutus rantai penyebaran virus ini, masing-masing negara menerapkan kebijakan yang berbeda-beda namun intinya sama, yaitu mengurangi interaksi antar manusia atau secara familier sebagai istilah social distancing dan physical distancing. Itulah sedikit fakta tentang penyebaran virus corona yang akan dicoba diulas dari sudut pandang ekologi.

Fakta menunjukkan bahwa virus corona kemungkinan besar memang berinang di kelelawar, ya memang kelalawar tempat berinang berbagai jenis virus, ada lebih 100 virus berinang di mamalia yang bisa terbang ini. Namun kenapa kelelawar tidak mengelami seperti yang dialami manusia jika terinveksi virus corona?

Hasil penelitian terbaru menunjukan hasil temuan bahwa bukan jenis virus yang ada di kelelawar yang mempunyai kemiripan genetik terdekat dengan virus yang menjangkiti manusia, tetapi jenis virus corona yang berinang di trenggiling, hewan pemakan semut bersisik yang merupakan mamalia paling diperdagangkan di dunia, diduga sebagai perantara virus tersebut.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Trenggiling diperdagangkan untuk diambil daging dan sisiknya, yang digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Semua spesies trenggiling yang ada, masuk keluarga Manidae, yang berstatus terancam punah; tiga dari empat spesies trenggiling yang ada di Asia, yaitu di Cina (Manis pentadactyla), Sunda (M. javanica]) dan Filipina (M. culionensis) yang terdaftar sebagai spesies terancam punah IUCN. Hingga sekarang belum jelas apakah kelelawar atau trenggiling yang menjadi asal muasal virus yang sekarang menjadi wabah global ini.

Benang merah ekologis dari fakta ini adalah interaksi dinamis dalam ecosystem dalam hal ini berupa rantai makanan dalam ekosistem dimana manusia yang berada dipuncak pyramid rantai makanan telah berupaya menguasai semua komponen yang ada dalam ecosystem. Beberapa factor pendorongnya adalah adanya krisis pangan yang menyebabkan kelaparan, tradisi atau gaya hidup yang ingin menunjukan eksistensi kemanusiaannya atas komponen lainya dalam eksositem.

Untuk kasus ini, dorongan gaya hidup lebih menonjol dibandingkan kekurangan pangan. Dampak pertumbuhan ekonomi yang pesat diantaranya meningkatnya jumlah orang-orang kaya baru yang berkemampuan untuk melakukan apa yang diinginkan. Dan tradisi obat-obatan kuno yang menggunakan hewan langka sebagai bahan obat secara kekinian sudah tidak up to date lagi walaupun dibungkus dengan nuansa gaya hidup modern yang disajikan dalam menu-menu di restoran dan hotel mewah.

Manusia yang berada di puncak piramida rantai makanan, sudah semestinya secara bijak dapat memilah dan memilih makanan untuk menjaga keberlanjutan ekosystem itu sendiri. Jika salah satu dari komponen ekosystem hilang, maka ketidakseimbangan akan terjadi, dan kita, manusia dan komponen-komponen lainnya dalam ecosystem tinggal menunggu waktu untuk punah.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Fakta berikutnya dari hasil review beberapa kajian menunjukan bahwa sebaran virus corona yang secara spasial lebih banyak terjadi di negara-negara dengan posisi lintang tinggi dibandingan negara-negara yang berada di lintang rendah (tropis). Hasil tracking menunjukan pola penularan yang telah terjadi dalam pola timur dan barat, penyebaran virus dari Wuhan ke Korea Selatan, Jepang, Iran, dan Italia Utara, kemudian menjalar ke Amerika Serikat bagian Barat Laut, Spanyol, dan Prancis. Tetapi pada saat yang sama, virus gagal menyebar secara signifikan ke negara-negara di utara (seperti Rusia dan Mongolia) dan Cina bagian selatan.

Jumlah pasien dan kematian yang dilaporkan di Asia Tenggara jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan daerah beriklim. Beberapa kajian dengan kesimpulan awal menyatakan bahwa negara-negara di lintang tinggi belahan bumi utara mempunyai kerentanan penyebaran virus corona yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara tropis karena peran dari cuaca dan iklim. Iklim tropis disinyalir membantu menghambat penyebaran virus tersebut karena kondisi iklim tropis dapat membuat virus lebih cepat menjadi tidak stabil.

Kondisi ideal untuk virus corona ialah temperatur sekitar 8-10 °C dan kelembapan 60%-90%. Secara ekologis, hasil-hasil kajian tersebut menujukan adanya peran komponen ecosystem abiotic untuk menunjang kelangsungan hidup komponen biotik. Virus corona yang kitan anggap sebagai komponen biotik memerlukan komponen abiotic sebagai media pelindung hidupnya.

Seperti juga halnya manusia yang memerlukan kondisi atmosfer yang nyaman untuk kelangsungan hidupnya. Jika kondisi atmosfer telah berubah dan tidak sesuai lagi dengan kenyamanannya, maka manusia dapat beradaptasi dengan kondisi atmosfer yang baru tersebut. Hal yang sama juga dapat dilakukan oleh virus dengan apa yang kita kenal dengan istilah bermutasi.

Begitulah pengaruh komponen abiotic dalam suatu dinamika interaksi pada suatu ecosystem sehingga komponen biotik harus menyesuaikan dengan kondisi lingkungannya jika ingin kehidupannya berlanjut.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Hasil kajian terkini menunjukkan jika ‘non-cuaca’ lebih berperan di dalam penyebaran penyakit visur corona yang meledak begitu dahsyat hingga saat ini. Belajar dari kasus penyebaran virus corona di Wuhan, yang menunjukan bahwa adanya faktor transmisi manusia ke manusia dalam penyebaran virus corona. Penerapan lockdown di Wuhan dengan upaya pembatasan mobilitas orang, interaksi sosial, dan pembatasan jarak secra fisik serta upaya intervensi kesehatan masyarakat yang lebih intensif, akhirnya kasus penyebaran virus ini dapat berkurang secara signifikan. Dalam kajian ekologi manusia, pembatasan-pembatasan yang diterapkan ini tentu akan memberatkan manusia sebagai mahluk social.

Dengan melihat relita yang ada bahwa keganasan virus corona yang mudah menular dengan tingkat kematian yang relative tinggi membuat sebagian manusia rela dan mungkin terpaksa melakukan social and physical distancing itu. Namun sebagian manusia lainnya tidak memperdulikannya, bukan mereka tidak sayang akan nyawa yang satu-satunya itu, tapi ada factor lain yang sangat kuat mendorong untuk mengabaikan pembatasan-pembatasan itu.

Selain sebagai makluk sosial, manusia secara individu memerlukan makan sebagai salah satu kebutuhan dasarnya. Kebutuhan dasar inilah yang kadang membuat manusia mengabaikan perintah, kehilangan kesabaran dan bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkanya sehingga tanggalah statusnya sebagai makluk sosial.

Sebagian manusia lainnya mengabaikan karena tidak tahu, mungkin informasi mengenai kajian-kajian tentang virus corona tidak tersampaikan kepada mereka. Tetapi sebagai, kita sebagai manusia yang diciptakan-Nya menjadi mahluk paling sempurna di muka bumi, secara kodrati dengan akal dan fikirannya akan berikhtiar untuk tetap menjaga keberlangsungan hidupnya dengan secara sadar akan patuh dan taat akan perintah pembatasan-pembatasan yang harus dilakukan, sembari berdoa untuk memohon agar dapat terus menjaga keseimbangan dalam ekosistem dengan menghindarkan sifat tamak, rakus dan egoism di dalam ekosistem bumi.(*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 
Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB