Daerah

Tidak Punya Kebun Kopi, Tapi Terkenal Penghasil Bubuk Kopi

Dibaca : 458

Tanah Datar, Prokabar – Aneh tapi nyata. Tidak memiliki ladang atau kebun kopi, namun Nagari Koto Tuo di Kecamatan Sungai Tarab,Tanah Datar bisa terkenal sebagai daerah penghasil kopi.

Tak tanggung tanggung, hasil produksi bubuk kopi Nagari Koto Tuo telah memasuki pasar berbagai kabupaten kota di Sumatera Barat.

Bahkan, kopi Koto Tuo juga telah sampai pemasarannya hingga ke Pekanbaru dan pulau Kalimantan.

Karena tidak memiliki perkebunan kopi, pelaku usaha kopi di nagari ini pada umumnya mendatangkan bahan baku biji kopi dari luar provinsi.

Dalam arti kata, Nagari Koto Tuo hanya melakukan pengelolaan biji kopi mulai dari merendang, menggiling, mengemas dan memasarkan.

“Kalau untuk biji kopinya kita datangkan dari Sungai Penuh, selain itu kita juga menggunakan biji kopi lokal yang kita dapat dari agen-agen di Tanah Datar,” ujar Hamdi salah seorang pengusaha kopi.

Hamdi menuturkan, hampir 80 persen penduduk Nagari Koto Tuo, perekonomiannya bergantung kepada produksi bubuk kopi.

Keberadaan usaha bubuk kopi ini, juga otomatis menyerap tenaga lapangan kerja, khususnya bagi ibu rumah tangga.

“Untuk satu pelaku usaha bias menyerap 5 hingga 10 orang tenaga kerja,” ungkapnya.

Selain itu, pelaku usaha juga sudah menciptakan puluhan merek dagang kopi, baik usaha berskala rumahan, hingga berskala besar. Satu merek telah memiliki pasar masing-masing.

Meski tidak seperti pabrik kopi berskala besar, namun bagi masyarakat Koto Tuo mereka bisa menghasilkan bubuk kopi 2 hingga 3 ton dalam satu hari produksi.

Bahkan, satu pelaku usaha kopi ada yang memproduksi hingga 1 ton dalam satu hari.

“Kalau rata-rata produksi oleh pelaku usaha itu, lebih kurang 2–3 ton. Ada juga yang hanya produksi hingga 1 ton,” tambahnya.

Meski masyarakat telah melakoni usaha bubuk kopi sejak lama, namun pelaku usaha masih saja menghadapi berbagai kendala di Nagari itu.

Terlendala kemasan

Selain modal usaha, proses pengemasan dan kemasan masih terasa sulit bagi pelaku usaha.

“Selain modal, kemasan juga sangat penting. Kita kesulitan untuk mendapatkan kemasan yang biasanya kita pesan dari Medan atau Jakarta,” katanya.

Halaman : 1 2

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top