Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Terkait Ibadah Tarawih dan Jumat, MUI Agam Minta Umat Muslim Ikuti Imbauan MUI Sumbar

Dibaca : 539

Lubuk Basung, Prokabar — MUI Kabupaten Agam melalui Ketua Harian, Alwisral Imam Zaidallah mengungkapkan terkait peribadatan sholat berjemaah baik sholat fardu, Jumat hingga Tarawih di bulan bulan suci Ramadhan nantinya tetap harus mengikuti himbauan MUI Sumatera Barat dan Ulama-ulama besar lainnya.

Telah banyak ulama besar yang menyampaikan dalil dan himbauan terkait bahaya wabah Covid 19. Sehingga masyarakat hendaknya mematuhi dan memahami himbauan tersebut. “Kabupaten Agam memang masih daerah kuning dan belum ada korban tercampak. Namun kewaspadaan dan pencegahan lebih baik, ketimbang sudah banyak terdapat nantinya,” ungkap Ketua Harian MUI Agam.

Alwisra mengatakan sesuai Maklumat MUI Pusat dan MUI Provinsi Sumatra Barat, larangan untuk sementara telah diedarkan. Adapun dalil terkait ajuran tersebut yakni:

Ketika Abu Ubaidah Ibn al-Jarrah ra mengomentari keputusan Amirul Mukminin Umar Ibn al-Khatthab ra untuk menghindari wabah yang berjangkit di syam (Thaun Amawas) dengan ungkapannya:

أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ
“Apakah engkau hendak lari dari taqdir Allah?”

Umar Ibn al-Khatthab ra menjawabnya dengan kalimat:

لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ
“Seandainya selain engkau yang mengatakannya wahai Abu Ubaidah !”

Kemudian beliau memberikan jawaban dengan tamsilan:

نَعَمْ، نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ إِبِلٌ هَبَطَتْ وَادِيًا لَهُ عُدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا خَصِبَةٌ وَالْأُخْرَى جَدْبَةٌ أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ

“Ya, kami lari dari taqdir Allah menuju taqdir Allah juga. Bukankah jika kamu menggembala unta dan turun ke sebuah lembah yang di sana ada dua tepi lembah, yang satu subur dan yang satu tandus, lalu ketika kamu menggembala di tepi yang subur berarti kamu menggembala dengan taqdir Allah? Dan bukankah pula ketika kamu menggembala di tepi lembah yang tandus, kamu juga menggembalanya dengan taqdir Allah ?”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Alwisral Imam Zaidallah melanjutkan, jika memang ada daerah yang benar aman dan belum terjangkit Cocok 19, kemudian jemaahnya tetap bersekukuh untuk melaksanakan solat berjemaah. Maka ada tiga poin sesuai yang dimaksud Buya Gusrizal.

Yaitu, pertama jamaah yang menunaikan ibadah di masjid tersebut adalah jamaah tetap dan tidak bercampur dengan jamaah dari luar.

Kedua, wilayah dimana masjid dan jamaah berada telah dilakukan karantina (pembatasan sosial) oleh Gugus Tugas sesuai instruksi Gubernur Sumbar nomor 360/391/BPBD-2020 terhadap wilayahnya setelah dinyatakan bebas dari kemungkinan mewabahnya Virus Corona (Covid-19) oleh pihak berwenang.

Hal ini kita yakini akan sulit membatasi orang lain untuk ikut beribadah. Apalagi ada perantau yang sudah terlanjur pulang, kemudian belum diketahui apakah terdampak atau tidaknya, ikut pula sholat berjemaah.

“Jemaah masjid atau misalkan ini memang harus memastikan betul keamanan individunya. Harus benar-benar terbebas dari Covid 19. Apalagi sangat banyak OTG atau Orang Tanpa Gejala. Akan membahayakan banyak orang jika ini terjadi,” pungkasnya. (rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top