Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Tergerusnya Bahasa Minangkabau di Lingkungan Kampus

Dibaca : 251

 

Oleh : Reska Caesar Westi

Mahasiswi Sastra Daerah FIB Unand

 

Minangkabau adalah suku yang tersebar di banyak daerah di Indonesia. Hal ini disebabkan karena budaya minang yang mengharuskan para pemudanya berkelana ke berbagai daerah dan kembali untuk membangun kampungnya. Namun, lama kelamaan banyak pemuda tersebut menetap di daerah perantauan, untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Secara historis, wilayah budaya minangkabau berasal dari Luhak Nan Tigo yang meliputi Kabupaten Tanah Datar, Agam, dan Lima Puluh Kota. Lalu budaya ini menyebar ke daerah sisi barat dan timur Luhak Nan Tigo, sehingga wilayah budayanya menyebar ke seluruh Sumatera Barat, bagian barat Riau, bagian selatan Sumatera Utara, bagian Timur Jambi, dan bagian utara Bengkulu.

Dalam 25 tahun terakhir, muncul kecenderungan di kalangan anak muda keturunan Minangkabau di Sumatera Barat, tidak hanya di perkotaan, tetapi juga perdesaan, untuk menggunakan bahasa Indonesia campur aduk dalam pergaulan sehari-hari.

Tinggal di lingkungan orang-orang berbahasa minang tapi tidak semua orang bisa berbicara bahasa minang dengan baik dan benar . kebanyakan orang minang asli banyak yang tidak bisa berbahasa minang. Bahasa minang sudah bercampur dengan bahasa melayu. Dewasa ini, banyak mahasiswa minang memakai bahasa INDOMI di lingkungan kampus.

contoh : kemana aja kamu tadi dek?
aku disini-sini aja nyo

kata- kata seperti itu sering kali dijumpai. dalam lingkungan perkuliahan. Jadi, kebanyakan mahasiswa berinteraksi dengan menggunakan bahasa indonesia minang (INDOMI), kebanyakan mahasiswa sudah lama belajar di daerah minang, akan tetapi masih belum begitu mahir menggunakan bahasa minang,walaupun mengerti apa yang dibicarakan dan sering menggunakan bahasa campur-campur agar terlihat lebih keren atau merasa dirinya tidak pantas untuk menggunakan bahasa daerahnya. Tetapi tidak semua mahasiswa berpikiran seperti itu. Seharusnya kita yang berasal dari daerah minang harus bisa membagakan atau melestarikan bahasa minang.

Di kampus-kampus, sering terdengar mahasiswi berkomunikasi dengan sesama dalam bahasa campuran antara bahasa Betawi, Indonesia, dan dialek Minang yang sangat kental.

“Lu ini baa ko? Gua ‘kan sudah bilang ka pai lai?” (Kamu ini bagaimana? Saya ‘kan sudah bilang mau pergi?). Demikian terdengar pembicaraan seorang mahasiswi kepada rekannya di FakultaIlmu Budaya Universitas Andalas Padang, Kampus Limau Manis, beberapa waktu lalu.

Tidak hanya di lingkungan kampus, di dalam lingkungan keluarga suku Minang, terutama pasangan muda, juga sudah lama ditemukan orang tua yang tidak lagi menggunakan bahasa ibu mereka dalam berkomunikasi di kehidupan sehari-hari. Akibatnya, anak-anak mereka pun tidak sepenuhnya berbicara dengan bahasa Minang meski berdomisili di kampung sendiri, Sumatera Barat.

Tergerusnya bahasa Minang akibat dilanda badai globalisasi memang sulit dihindari karena arus informasi yang makin deras menyusul kemajuan teknologi informasi serta serbuan media sosial, tetapi setidaknya bisa dikurangi jika kesadaran tersebut dimulai dari keluarga dengan melestarikan bahasa ibu mereka kepada anak-anak.

Bahasa Minang dengan jumlah penutur sebanyak 6,5 juta jiwa, terbesar kelima terbesar di Tanah Air setelah Jawa (75 juta), Sunda (27 juta), Melayu (21 juta), dan Madura (13 juta), memang tidak mengalami nasib tragis, seperti bahasa Hamap di Kabupaten Alor (NTT) dengan jumlah penutur hanya seribu orang dan diambang kepunahan.

Akan tetapi, serbuan istilah asing yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari di media sosial, secara perlahan bisa menggantikan dan merusak kosakata Minang yang sudah ada sebelumnya.Lunturnya penggunaan bahasa Minang salah satunya disebabkan oleh faktor sosiologis, yaitu gaya hidup dan takut dianggap kampungan bila menggunakan bahasa daerah. Tidaknya adanya kesadaran, rasa memiliki dan rasa bangga akan bahasa daerah juga ikut berperan terkikisnya bahasa Minang dalam kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi, berkurangnya penutur bahasa Minang di kalangan anak muda di Sumatera Barat, terutama di kampus, tidak selalu disebabkan oleh masalah gaya hidup ataupun rasa malu dianggap orang desa.

Pengikisan bahasa ini terjadi bukanlah tanpa sebab. Penyebabnya antara lain kurangnya pemahaman mengenai bahasa. Selain itu, media pun turut berpartisipasi dalam hal ini. Bahasa gaul yang sering dipakai di media (terutama televisi, media yang elektronik yang paling sering digunakan oleh masyarakat Indonesia) menjadi acuan bagi pemuda/i dalam berkomunikasi, padahal bahasa yang digunakan bukanlah bahasa Indonesia standar.

Akibatnya, pemuda/i yang tidak mengerti mengenai pentingnya bahasa dengan mudahnya menerapkan bahasa gaul tersebut dalam kehidupan sehari-harinya dengan harapan dianggap sebagai pemuda gaul, seperti yang terlihat di televisi.(*)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top