Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Terbakarnya Tagline Padang Kota Tercinta Diduga Kurang Perawatan

Dibaca : 422

Padang, Prokabar – Terbakarnya tagline “Padang Kota Tercinta” di puncak Gunung Padang yang dibangun dengan dana Rp6,37 miliar, Sabtu (30/11), mengundang perhatian banyak pihak.

Salah satunya anggota DPRD Kota Padang wismar Panjaitan. Minggu (1/12), Wismar menyempatkan diri mengunjungi puncak Gunung Padang.

Dia menduga pemicu terbakarnya aset bernilai miliaran itu diduga karena kurangnya perawatan dan pengawasan dari pihak terkait selama ini.

Wismar Panjaitan sangat menyayangkan peristiwa terbakarnya ikon Kota Padang itu.

Menurutnya, Walikota harus tegas menyikapi persoalan ini dengan serius. Sehingga, OPD terkait yang bertanggungjawab mengurus aset pemerintah Kota Padang benar-benar serius dan melakukan tugasnya.

Proyek besar tulisan raksasa itu, menurut Wismar bukanlah hal yang sepele. Tulisan itu dibangun sebagai ikon Kota Padang dan dianggarkan dengan dana yang cukup fantastis.

“Anggarannya itu sekitar Rp 6,37 miliar dari APBD Kota Padang. Kita sangat prihatin, baru sekitar setahun selesai dibangun, sudah ludes terbakar. Kalau kita gunakan dana itu untuk pendidikan, sudah berapa sekolah yang bisa dibangun,” ungkapnya.

Kader Partai PDI Perjuangan yang sudah dua priode duduk di DPRD Padang ini juga mengatakan dengan peristiwa kebakaran tersebut samgat wajar masyarakat Kota Padang mempertanyakan kualitas pembangunan proyek tersebut dan pihak terkaiat harus dipertanggungjawabkan.

Katanya, untuk pemasangan landmark atau tulisan raksasa Padang Kota Tercinta itu, dianggarkan padang 2017 lalu dan realisasi pembangunan 2018. Artinya, baru sekitar setahun lamanya dibangun, tulisan itu sudah terbakar.

“Karena ini adalah aset Kota Padang yang nilai sangat besar, makanya saya mencoba naik keatas bukit ingin melihat langsung dan memastikan kondisi kebakaran itu. Kita juga sempat bertanya kepada beberapa warga disana apa penyebab kebakaran itu,” ungkap Wismar.

Dari pantauan yang dia lakukan, lanjut Wismar, terlihat ada beberapa hal yang diduga bisa menyebab terjadinya kebakaran tersebut. Potensi kebakaran itu dilihat dari sisi safety bangunan, perawatan, dan pengawasan dari pihak terkait.

Soal safety terlihat sangat lemah, dari peninjauan yang dilakukan travo listrik di tulisan raksasa yang terbuat dari baja WF HBM dengan berat sekitar 40 ton sangat berpotensi terjadinya korsleting. Pemasangan travo jaraknya hanya sekitar 2 meter dari bangunan tanpa perlindungan yang baik dan letaknya pun sekitar 30 cm dari tanah.

“Seharusnya travo atau sumber listrik itu harus jauh dari jangkauan manusia, atau dibuat boks besar agar betul-betul terhindar dari hujan. Apalagi saat ini musim penghujan, bisa saja kebakaran itu dipicu karena korsleting,” ungkapnya.

Kemudian, lanjutnya, soal perawatan. Terlihat sangat minim perawatan yang dilakukan oleh pihak terkait terhadap aset Kota Padang bernilai miliaran itu. Hal ini dibuktikan dengan semak belukar yang sudah membalut tiang tiang bangunan.

“Sekitar lokasi bangunan rumput panjang dan melilit tang bangunan, nampaknya tidak pernah dibersihkan dan dirawat. Ini juga berpotensi terbakar jika ada orang yang bakar lahan di dekat sekitar lokasi bangunan,” terangnya.

Kemudian soal pengawasan. Seperti pengakuan warga di sekitar lokasi, panjutnya, malam hari tidak ada penjagaan. “Seharusnya dengan nilai aset sebesar Rp6,47 miliar itu, harus ada yang mengawasi dan bertanggungjawab menjaganya,” tambah Wismar.

Sebelumnya, pemasangan ikon huruf raksasa di Gunung Padang dibangun untuk menambah daya tarik wisata di Kota Padang, khususnya kota pinggir laut tersebut atau yang ingin berkunjung ke Gunung Padang. Pengunjung yang datang ke Pantai Padang bisa berfoto dengan latar belakang tulisan besar di Gunung Padang di kejauhan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebduayaan Kota Padang, Arfian, menyebut kebakaran ikon kota padang itu diduga terjadi akibat arus pendek.

Dia juga mengatakan bahwa aset tersebut sampai saat ini belum ada serah terima dari Dinas PU ke Dinas Pariwisata. “Belum diserahterimakan dari Dinas PU ke Dinas Pariwisata. Kita berharap dibangun lagi dan baru diserahterimakan,” jelas Arfian. (mbb)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top