Budaya

Tenun (Songket) Koto Gadang Terancam Punah

Dibaca : 177

Agam, Prokabar — Kelestarian Songket Khas Koto Gadang masih terpajang indah di Amai Setia. Menjadi saksi bisu pengrajin Bundo Kanduang dimasa tempo dulu. Namun kini, tidak banyak pengrajin lagi di sini.

Koto Gadang, Negeri tokohnya para pejuang. Nagari yang dipenuhi pahlawan yang tidak tanggung-tanggung perannya di Negara Kesatuan Republik Indonesian ini. Diawali lahirnya sosok Ulama Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Haji Agus Salim, Rohana Kudus, Soetan Sjahril, Jenderal Rais Abin dan lainnya.

Dahulunya merupakan pemukiman sekaligus markas kolonial Belanda sejak era VOC jaya di Ranah Minang. Banyak Bangsa Belanda hidup berdampingan dengan masyarakat, hingga membuat sekolah-sekolah untuk anak cucu mereka. Kondisi itu membuat anak-anak pribumi kalangan bangsawan, berkesempatan mencicipi dunia pendidikan. Dan membuka gerbang kemajuan generasi bangsa pada saat itu.

Setelah menempuh pendidikan modren ala Belanda, generasi Minang itu juga tidak luput dengan pendidikan khusus dari generasi tua. Yakni Pendidikan Surau. Hal inilah yang menerpa mental dan karakter para Tokoh Nasional berdarah Minangkabau, meski mengikuti pendidikan modren ala Belanda namun tetap teguh dengan Keimanan dan Ketaqwaan Kepala Tuhan Yang Maha Esa.

Pondasi dasar telah tertanam kuat, mengakar hingga jiwa dan raganya. Pendidikan Surau telah memupuk falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Disertai konsep pemikiran luas “Alam Takambang Jadi Guru”.

Selain peninggalan bangunan dan rumah bersejarah, terdapat sejumlah bukti kejayaan dan Kebesaran Nagari Koto Gadang. Yakni Songket Khas Koto Gadang.

Akan tetapi kejayaan itu, seakan-akan tinggal nama dan hampir punah ditelan masa. Tidak banyak lagi pengrajin disertai karya-karya tenun itu diproduksi. Meski demikian, kesempatan untuk membangkitkan masih bisa dilakukan dengan perhatian serius dari pihak berkepentingan.

Susi, satu-satunya penenun sekaligus penjaga Rumah Kerajinan Amai Setia Koto Gadang menjelaskan, tidak banyak lagi peminat generasi muda untuk belajar menenun atau Songket. Selain tingkat kesulitannya cukup tinggi, hobi generasi di era globalisasi ini sudah sangat menjauhkannya dari kearifan lokal tersebut.

“Kami sudah berusaha mencoba berbagai upaya untuk merangkul gadis remaja dan wanita dewasa, untuk bisa menjadi kader regenerasi kami. Namun apa daya, minat dan hobi mereka sudah jauh dari panggang dengan api. Kondisi ini membuat kami kesulitan untuk mengembangkan songket atau tenun Koto Gadang,” ungkapnya.

Halaman : 1 2

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top