Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Tekan Angka Kekerasan pada Anak dan Perempuan, Pemko Padang Ingin Maksimalkan P2TP2A

Dibaca : 345

Padang, Prokabar — Untuk menekan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Padang, Pemerintah Kota Padang melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) melakukan sosialisasi pendampingan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Palanta Rumah Dinas Wali Kota Padang, Kamis (19/3).

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Padang Heryanto Rustam menjelaskan bahwa Pemko Padang terus berupaya menekan tingginya angka kekerasan pada anak dan perempuan.

“Kita berharap keberadaan P2TP2A ini,  dapat dimanfaatkan untuk menangani persoalan kekerasan terhadap anak dan perempuan anak. Sehingga hadirnya lembaga ini dapat dirasakan oleh korban kekerasan dalam mendapatkan hak-haknya.” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, tujuan sosialisasi ini dapat memberikan pelayanan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi perempuan dan anak seperti KDRT, trafficking, eksploitasi, penelantaran dan lain sebagainya.

“Sehingga ke depan diharapkan dapat meminimalisir terjadi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Padang.” ungkapnya.

Hal selaras juga disampaikan Kabid Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak, DP3AP2KB Kota Padang Nurhayati, menurutnya, tindakan kekerasan terhadap anak dan perempuan tidak saja berupa fisik tapi juga non-fisik.

“Kekerasan non-fisik terhadap anak bisa terjadi tanpa disadari oleh tenaga pendidik dan hal itu dapat berdampak negatif terhadap mental si anak. Sehingga bisa berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak.” ungkapnya.

Lebih lanjut ia memaparkan, secara tidak sadar banyak ditemui tenaga pendidik, khususnya Paud yang memberikan perhatian berbeda kepada anak didiknya. Padahal, semua anak punya hak diperlakukan sama tanpa memandang statusnya.

“Ada beberapa faktor yang membuat tenaga pendidik bersikap diskriminatif dan pilih kasih terhadap anak didiknya. Diantaranya faktor sosial, gratifikasi, gender dan lainnya.” terangnya. (*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top