Pasaman, Prokabar — Tour de Singkarak (TdS) 2018 sukses diselenggarakan. Miliaran rupiah anggaran dikucurkan untuk penyelenggaraan. Di Pasaman saja, lebih Rp500 juta anggaran dikucurkan. Di balik itu semua, ternyata masyarakat Pasaman menilai azas manfaat tidak seindah kesuksesan acara, khususnya di Pasaman.
“Buktinya, pariwisata apa yang dipromosikn Pasaman dalam beberap kali ikut serta TdS. Semua promosi hanya di atas kertas lalu dibacakan. Bertolak belakang dengan kenyataan,” kata Afrizal, (31) salah seorang pemerhati wisata di Pasaman.
Lihatlah air panas di Rimbo Panti yang digadang-gadangkan. Penduduk lokal saja berdiri bulu kuduknya saat berendam. Sebab tinggi pula lumutnya dari pada air. Belum lagi fasilitas WC atau permasalahan sampah sembarangan di objek wisata itu.
“Apalagi, wisata edukasi sejarah seperti di museum Tuanku Imam Bonjol. Bagaimana puka tertarik wisatawan datang ke sana, cat patung Tuanku Imam Bonjol saja, berlumut. Sudah begitu sejak beberapa tahun silam,” lanjut Afrizal.
Tidak saja Afrizal, masyarakat Pasaman lainnya juga berpendapat serupa. Enaknya TdS di Pasaman hanya sebatas pembalap lewat itu saja, sebab jadi tontonan. Tidak ada yang lain manfaat yang didapat. Malahan mudarat yang banyak.
“Jalan ditutup, aktifitas warga terhenti. Terutama aktifitas pasar. Kasihan kita, kepada pedagang yang sepi pembeli lantaran konsumen ragu-ragu belanja, sebab jalan ditutup untuk beberapa saat,” kata Rinal, warga Lubuk Sikaping.
Masyarakat menilai, pada intinya TdS memang membawa azaz manfaat. Namun itu bagi daerah yang benar-benar berpotensi dan serius menggarap wisata.
“Ikutlah Pasaman, tapi jangan setiap tahun. Benahi dulu wisata kita, baru ambil bagian. Jangan seperti ini juga, selesai TdS, pulang peserta ke negaranya, tidak ada keinginan mereka untuk kembali ke Pasaman,” tutup Rinal. (Ola)
















