Tanah Datar, Prokabar – Dinas Pariwisata dan Olah Raga Kabupaten Tanah Datar mengatakan untuk beberapa malam kedepan atau selama event Tour de Singkarak dihelat, seluruh hotel di Tanah Datar akan terisi penuh, terkhusus pada etape 3, 4 dan 5. Sekitar 400 lebih peserta dan official akan menginap di Luhak Nan Tuo.
“Emersia, Pagaruyung dan Homestay itu akan penuh terisi,” ujat Efrison, Kabid Pariwisata Dinas Parpora Tanah Datar
Efrison, juga mengatakan jika pelaksanaan Tour De Singkarak 2019 di Tanah Datar, setidaknya pemerintah Tanah Datar mengalokasikan anggaran kontribusi sebesar Rp220 juta. Anggaran tersebut diperuntukan untuk hadiah, transportasi, dan penginapan.
“Seluruh kabupaten kota sama, kecuali yang grand start dan finish itu berbeda. Anggaran itu ada berdasarkan MOU kita,” ucap Erison.
Sementara itu, menanggapi perhelatan TDS yang untuk ke 11 kalinya digelar di Tanah Datar dan Sumatera Barat Umumnya, Pengamat kebijakan publik Universitas Andalas Aidinil Zetra mengatakan telah seharusnya pemerintah kabupaten kota melakukan evaluasi terhadap event Tour De Singkarak yang digadang gadangkan sebagai media promosi wisata ke dunia international itu.
Menurut Aidinil, event yang disertai kontribusi APBD daerah, maka semestinya pemerintah bisa melihat ada atau tidaknya dampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan dan peningkatan ekonomi masyarakat setempat.
Ia menjelaskan, sudah 11 kali TDS digelar di Sumatera Barat, maka idealnya TDS bagi pariwisata l bukan lagi memberikan mamfaat kepada promosi, melainkan harus memberi efek kebawah. Pemerintah provinsi dan daerah jangan hanya melihat pada sisi promosi saja, melainkan harus menyigi manfaat ekonomi terhadap masyarakat.
Jika pemerintah tidak berfikir dampak yang ditimbulkan dari event TDS terhadap ekonomi masyarakat, maka pemerintah bisa dikatakan gagal menyelenggarakan event berskala international itu.
” jika efek menetes kebawahnya kecil, sementara modal yang dikeluarkan besar, artinya pariwisata itu tidak berdampak positif pada masyarakat. Bagi daerah yang berfikir mamfaat dari TdS itu kecil, maka bagus mereka mengundurkan diri. ada penyertaaan modal atau kontribusi dari APBD dalam penyelenggaran event itu, sementara masyarakatnya rugi,” ucap pria kelahiran Bukitinggi 10 Februari 1970 Ini.
Dampak sosial penyelengaraan TDS bagi Sumatera Barat sangatlah berat. Dimana dalam konteks ini, masyarakat harus menyesuaikan agendanya dengan pelaksanaan balapan sepeda di suatu daerah (kabupaten). Tak jarang, waktu pelaksanaan event itu, masyarakat kerap dirugikan, baik dari sisi waktu maupun ekonomi.
“Misalnya, mereka (masyarakat) harus mengurungkan niat melakukan kegiatan. Kemudian jika mereka dalam pejalanan, harus berhenti berjam jam untuk menunggu. Itu efeknya jika diakumulasikan artinya efek itu harus diimbangi dengan mamfaat ekonomi kepada masyarakat baik secara lansung maupun tidak lansung,” jelas Aidinil
Adinil juga menegaskan selama TDS digelar ia bahkan belum melihat adanya efek mamfaat ekonomi terhadap masyarakat yang meningkat secara lansung. Masyarakat lebih cenderung dirugikan karena berbagai hal dan faktor.
Kedepannya, pemerintah daerah mesti mengukur dampak ekonomi, sosial dan psikologis masyarakat dari event yang diselenggarakan. Pemerintah jangan hanya memikirkan dampak lansung terhadap hunian hotel saja yang berdampak positif terhadap peningkatan APBD, melainkan juga mesti memikirkan yang berhubungan lansung dengan masyarakat.
“Yang langsung berhubungan dengan masyarakat itu, apakah masyarakat dilibatkan dalam penyediaan sarana sarana penginapa untuk para tamu tamu itu?? Atau hanya melibatkam hotel hotel besar saja. Kemudian, penyewan penyewaan kendaraan, apa melibatkan perusahan perusahan besar saja atau melibatkan masyarakat secara umum. Kemudiannya lagi, restoran restoran, apakah yang merasakan hanya restoram besar saja arau dirasakan lansung oleh restoran restoran kecil yang dilewati. Itu efek menetes kebawah, kalau tertahan diatas, itu hanya event yang menhabiskan anggaran saja,” tutup Aidinil. (eym)
















