Opini

TdS di Pasaman, Ada Urat Leher yang Tegang dan Umpatan Terpendam

Oleh Chandra Firman
Alumni FBS UNP

Etape 2 Tour de Singkarak (TdS) 2019 dari Pasaman dan finish di Bukittinggi selesai sudah, Minggu (3/11). Gagap gempita acara yang dipusatkan di depan Kantor Bupati Pasaman itu. Tapi, semuanya hanya sekejap. Tidak ada manfaat yang berarti. Malahan, mengganggu yang ada.

Apa bukti? Aktifitas pasar yang ada di Lubuk Sikaping terhalang, jalan-jalan kota ditutup, tak bisa masyarakat beraktifitas seperti biasanya. Belum lagi amak-amak yang beranak kecil. Terkurung di pasar, anak menangis di rumah. Mudarat yang banyak ada akibat TdS di Pasaman.

Parahnya, Pasaman malah merugi. Anggaran habis ratusan juta rupiah yang didapat tidak ada. Para pembalap, pendamping hingga panitia hanya setor wajah ke Pasaman. Lalu pergi. Menginap pun tidak, melihat-lihat lokasi wisata pun tidak. Belanja atau membeli makanan atau produk khas Pasaman juga tidak. Apa untungya bagi Pasaman? Masyarakat terhibur! Iya, hanya sebentar, tapi lihat besar biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk hiburan tidak lebih satu jam ini, habis Rp220 juta lebih, itu baru untuk operasional peserta, belum operasional Pasaman sebagai tuan rumah, habis ratusan juga lagi.

Bupati dan jajarannya dengan gagah mengatakan ajang ini sebagai promosi wisata, produk masyarakat dan daerah di Pasaman. Bagaimana pula itu bisa terjadi. Rimba panti, objek wisata yang mendunia saja, sudah seperti hutan belantara saat ini. Tidak ada pemeliharan. Bonjol yang dikenal sebagai lokasi wisata sejarah dengan titik kulminasinya, enggan wisatawan untuk singgah. Tidak ada daya tarik, sebab tak terurus juga.

“Apo yang kadicaliak dek bule-bule nin, patuang Imam Bonjol se ikonik Pasaman, balumuik. Ndak tarawat. Yang ado sampah nan baserak sudah acara tu nyo. Batua-batua sajolah pemerintah nin, wisata apo nan dipromosiannyo. Ota e jo nyah,” kata salah seorang pedagang di Pasar Lama Lubuk Sikaping, Mak Nal, sembari tegang urat lehernya menanggapi TdS.

Di lain sisi, TdS seyogyanya memang terasa bagi daerah yang benar-benar mengelola objek wisata dan hiburan layak lainnya. Perihal Pasaman, pemerintahan belum siap. Hanya menjalankan seremonial tanpa simbiosis multualisme alias saling menguntungkan.

Simbiosis multualisme bisa saja direalisasikan Pemkab Pasaman atas TdS ini. Caranya, tarik diri dulu dari keikutsertaan, dua atau tiga tahun, bila sudah ada perubahan ikut lagi. Jangka dua atau tiga tahun ini, bangun perubahan khusus di bidang pariwisata. Berdayakan objek-objek fital pariwisata, bangun fasilitas penunjang, perbaiki mental masyarakat untuk menjamu wisatawan, dan buat hitung-hitungan dengan pemerintah provinsi. Kasarnya, kalau tak ada untung bagi Pasaman, kami tak mau ikut.

Hitung-hitungan ini, bisa berupa paket wisata yang dipadu dengan pagelaran TdS. Peserta pendamping atau panitia diminta menginap dan menikmati segelintir paket wisata yang telah disusun dan dibangun di tahun-tahun Pasaman absen sebelumnya.

Bawa mereka raun-raun ke objek wisata yang ada. Maka, terjadi simbiosis multualisme. Dagangan masyarakat laku dibeli para peserta, dan paling penting ciptakan kerinduan pagi peserta untuk balik ke Pasaman. Namun, jika pemerintah tidak bisa membuat perubahan dan ciptakan simbiosis multualisme di bidang pariwisata, sudahilah keikutsertaan dalam TdS ini. Gunakan anggarannya untuk pembangunan atau kegiatan yang lebih banyak manfaatnya bagi masyarakat. (*)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top