Target Indonesia Jadi Lumbung Beras Dunia! Alex Indra Lukman Desak Kementan Rumuskan Peta Jalan dan Stop Wacana Gudang Baru

Penulis -

Kamis, 29 Mei 2025 - 16:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Prokabar – Top manejer Badan Urusan Logistik (Bulog) mesti memiliki intiusi dan kecakapan bisnis yang mampu membaca dinamika pasar di tempatnya bertugas.

“Cara pandang kita dalam mengelola potensi sektor pertanian, harus segera diperbaharui. Sehingga, Asta Cita Presiden Prabowo di sektor ketahanan pangan, memang akan memberikan kemaslahatan bagi 29,34 juta petani (Data Sensus Pertanian 2023) yang ada di negara ini,” tegas Ketua Panitia Kerja Penyerapan Gabah dan Jagung Komisi IV DPRI RI, Alex Indra Lukman dalam pernyataan tertulis, Kamis.

Desakan ini disampaikan politisi Fraksi PDI Perjuangan ini, merespon wacana pembangunan 25 ribu gudang improvisasi berbahan tahan lama oleh pemerintah.

Pembangunan gudang dengan daya tahan 5-10 tahun yang diwacanakan Presiden Prabowo Subianto sebagaimana diungkapkan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, dimaksudkan sebagai solusi jangka pendek untuk menampung hasil panen yang terus meningkat.

Diketahui, stok cadangan beras pemerintah melimpah bahkan mencatatkan rekor tertinggi dalam 57 tahun terakhir. Menembus angka 3,502.895 ton untuk penyerapan periode Januari-Mei 2025.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Dijelaskan Alex, merujuk Keputusan Presiden No 29 Tahun 2000, Bulog mempunyai tugas melaksanakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang manajemen logistik melalui pengelolaan persediaan, distribusi dan pengendalian harga beras serta usaha jasa logistik.

“Hari ini, sebagian tugas itu telah dilaksanakan dengan baik oleh Bulog. Gabah petani telah diserap dengan harga wajar. Stok beras juga telah mencatatkan rekor tertingginya sepanjang sejarah,” terang Alex.

Ditengah kegembiraan petani ini, ungkap Alex, Badan Pangan malah menebar kabar petakut pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi 2025 di Kementerian Dalam Negeri, Senin (26/5/2025).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pangan, Pudji Ismartini menilai, harga beras tidak bisa dibiarkan terus bergerak naik. Harga beras mesti segera diiintervensi alias “dijinakan.”

Pada Rabu (28/5/2025), Panel Harga Badan Pangan mencatat, harga rata-rata beras nasional di tingkat eceran sudah mencapai Rp13.805 per kg. Harga ini lebih tinggi 10,44% di atas HET. Data diakses pukul 13.05 WIB.

Baca Juga :  ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Sementara harga beras premium lebih mahal 4,87% dari HET, tercatat berada di Rp15.626 per kg. Sedangkan harga beras SPHP, sudah 1,01% di atas HET, dilaporkan ada di Rp12.626 per kg.

“Di titik ini lah, intiusi bisnis top manejer Bulog diperlukan. Sehingga, ketika terjadi gejolak harga beras, pilihan untuk menjinakannya bukan lah sebuah opsi,” tegas anggota DPR RI Dapil I Sumatera Barat ini.

Penting diingat, urai Alex, beras merupakan komoditi yang gampang rusak. Durasi waktu penyimpanan, akan sangat memengaruhi kualitas.

“Bulog harus segera merumuskan aliran keluar dan masuk beras dengan lebih terencana. Dengan begitu, harga di tingkat petani selalu terjaga, kebutuhan pangan nasional juga bisa terpenuhi,” tegasnya.

Selain itu, Alex menilai, membangun gudang baru untuk menjawab kebutuhan Bulog, bukan lah pilihan bijak.

Karena, keberadaan sebuah gudang baru, akan disertai berbagai komponen biaya yang bersifat tetap. Artinya, ini akan bertentangan dengan semangat efesiensi yang diwacanakan pemerintah.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

*Pemasok Beras Dunia*

Alex yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPR RI meminta, jajaran Kementrian Pertanian untuk segera merumuskan peta jalan Indonesia jadi lumbung beras dunia.

Dengan lahan pertanian yang sangat luas serta faktor musim yang tak dimiliki negara lain, urai Alex, target itu bukan lah sebuah hal yang muskil diwujudkan.

Terlebih, berbagai inovasi di bidang pertanian telah dilahirkan petani Indonesia, salah satunya dari Sumatera Barat.

Yakni pola bertanam dengan metode “Sawah Pokok Murah.” Metode bertanam padi dengan menekan biaya produksi hingga ke angka sangat minimalis.

“Peta jalan jadi lumbung beras dunia ini, mesti didukung riset berkelanjutan terhadap berbagai inovasi yang telah sukses dilakukan petani,” tegas Alex.

“Kita semua harus terus berkolaborasi, baik pemerintah, dunia usaha dan perguruan tinggi. Kami di DPR tentu akan mendukungnya secara penuh,” tutup Alex. (*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo
ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia
Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI
Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok
Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut
Jelang Muktamar Muhammadiyah, 10 PWM Sepakati Risalah Bukitinggi
Rahmat Saleh Dorong Keterbukaan Tata Niaga Impor Gula
ADPI Sukses Launching IADP melalui Technical Guidance Book Chapter Writing – Springer.

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:39 WIB

ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Rabu, 30 September 2026 - 17:37 WIB

Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI

Rabu, 23 September 2026 - 10:46 WIB

Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok

Selasa, 22 September 2026 - 12:04 WIB

Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB