Daerah

Taman Bumi Sianok Maninjau Resmi Jadi Geopark Nasional, Ini Tanggapan Pemkab Agam

Agam, Prokabar — Geopark atau Taman Bumi Ngarai Sianok-Maninjau secara resmi menjadi Geopark Nasional dari Menteri Pariwisata (30/11) lalu. Dan penerimaan sertifikat diterima langsung Bupati Kabupaten Agam, Indra Catri di Pongkor, Kabupaten Bogor.

Penerimaan prediket Geopark Nasional bersamaan 3 kabupaten/kota Se-Sumbar seperti Sawahlunto, Bukittinggi dan Sijunjung. Hal tersebut jelas semakin mengangkat dan memajukan pariwisata Sumatra Barat menuju wisata mancanegara nantinya.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Agam, Erniwati, saat ditemuai Prokabar.com di ruangannya, Rabu (5/12), Geopark Sianok Maninjau yang juga akan masuk ke Unesco Global Geopark nantinya dapat meningkat kunjungan pariwisata, terutama wisatawan mancanegara (wisman).

Di Kabupaten Agam sendiri yang masuk Taman Bumi itu terdapat 34 goesite (lokasi). Di antaranya Danau Maninjau, Goa Inyiak Janun, Tarusan Kamang Magek, Ngarai Sianok, Tirta Sari, Bukik Takuruang, Jenjang Seribu dan Janjang Koto Gadang.

Melalui pengakuan Geopark Nasional tersebut dimungkin Pemerintah Kabupaten Agam akan mendapatkan bantuan kuncuran dana dari Menko Maritim dan Menteri Pariwisata.

Awalnya, Pemerintah Kabupaten Agam sudah melakukan perencanaan master plant 2019 dengan berkoordinasi Pemkot Bukittinggi dan Dinas Pariwisata Sumbar. Hal tersebut berkaitan Geopark Sianok Maninjau masuk di dua wilayah, yakni Pemkab Agam dengan Pemkot Bukittinggi. 

Namun, akibat ada kesalahan teknis anggaran itu ditiadakan dalam penetapan APBD Provinsi Sumatra Barat tahun 2019. “Kami terpaksa melakukan perencanaan dan pengusulan kembali di tahun 2020,” Ungkap Erniwati.

Di sisi lain, Kemendes juga menjadi peluang bagi pengembangan pariwisata. Ada anggaran khusus selain dari dana desa. Terutama melalui pembentukan dan pengelolaan BUMNAG. Ada kuncuran dana pusat seperti pengelolaan homstay serta pengempangan pariwisata berbasis penelitian, sejarah, edukasi pelajar dan pendidikan. “Dan kita di Selingkar Danau Maninjau punya itu semua. Museum Hamka, Kutupchanah Haka, Makam Syekh Muhammad Amrullah, Rumah Cagar Budaya Rasuna Said dan Tradisi Rakik-rakik,” jelasnya.

Pemerintah Kabupaten Agam sendiri, saat ini memang terfokus kepada peningkatan pariwisata religius dan budaya Danau Maninjau. Tidak hanya unggulan dari Sumatra Barat akan tetapi juga destinasi unggulan Nasional.

“Makanya, kami harus benar-benar memanfaatkan peluang tersebut sebaik-baik mungkin sehingga meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat nantinya,” tuturnya.

Untuk anggaran fisik dana DAK kita mendapat Rp1,9 Milyar lanjutnya. Hal tersebut terkait pembangunan lanjutan objek wisata Linggai. Sedangkan non fisik untuk promosi, sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat dengan nilai Rp720 juta. 

“Pemberdayaan kelompok sadar wisata atau pokdarwis harus kita tingkatkan. Tanpa dukungan masyarakat dengan konsep sapta pesona, maka hal ini bisa menjadi sia-sia. Untuk itu, kita harus menggandeng seluruh komponen masyarakat. Merasakan langsung dampak positif wisata religius dan budaya yang akan kita rancang nantinya,” terang Kadisparpora Kabupaten Agam tersebut.

Untuk kunjungan pariwisata ke Kabupaten Agam di tahun 2016 ke 2017 terjadi penurunan. Namun dimungkinkan di tahun 2018 ini terjadi peningkatan. “Di tahun 2017 terdapat jumlah kunjungan bekisar 19.755 Jiwa. Dibanding 2016, mencapai 32.019 jiwa. Namun di 2018 ini, data belum kita rekap. Dimungkinkan terjadi peningkatan,” tutupnya. (rud)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik

To Top