Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Ta’aruf : Lifestyle vs Lillahi Ta’ala

Dibaca : 131

Oleh : Eda Elysia

Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Salah satu hal yang unik saat ini, ketika ta’aruf bukan lagi hal yang dirahasiakan tetapi sudah jadi konsumsi publik. Banyak istilah di kalangan milenial menyebut jomblo itu bukan sesuatu yang menyedihkan lagi loh, tapi pilihan terbaik. Ketika ditanya, “kamu kok masih jomblo…?” Berbagai respon muncul untuk menjawab pertanyaan ini, seperti ga baik pacaran sama yang bukan muhrimnya, memperbaiki diri untuk si dia, dan ada juga yang bilang saya sekarang udah hijrah.

Ta’aruf menjadi populer sejak munculnya film “Ayat-Ayat Cinta”, yang memberikan dampak besar bagi cara pandang individu terhadap ta’aruf. Ketika ta’aruf yang lebih familiar di komunitas pengajian saja, semakin dikenal dan menjadi idaman memilih “si dia yang tepat bagiku.” Muncul sesuatu yang menggelitik saat santer diberitakan, banyaknya public figure/artis yang memilih ta’aruf untuk mengenal pasangan.

Dari sekian banyak artis yang melalui ta’aruf, satu kata untuk mewakili alasan mereka yaitu “hijrah.” Walaupun tak menepis alasan dari beberapa artis yang juga pendakwah, ta’aruf dipilih karena sesuai dengan anjuran agama.

Menyoroti artis/public figure yang memilih ta’aruf, ibarat dua sisi mata uang. Terlepas ada sisi positif dan negatif, yang pasti ini merubah gaya hidup generasi muda untuk mengenal pasangan. Lifestyle yang mengarah menjadi role model, ketika melihat artis yang notabene besar di dunia hiburan saja memilih ta’aruf.

Meski kita tahu ta’aruf menjelma menjadi lifestyle, pada titik inilah penyebab banyak orang salah kaprah memaknai ta’aruf. Ada yang menganggap ta’aruf anti pacaran, ta’aruf sebagai hijrah atau parahnya lagi jika menjadikan ta’aruf sebagai modus.
“…. Saya ta’aruf loh…” tapi kebablasan kepoin akun instagram, whatsaap atau facebook. Kebanyakan mereka tidak tahu makna ta’aruf itu sebenarnya apa, tapi sekedar ikut-ikutan teman atau pemahaman agama yang masih setengah-setengah. Ada lagi yang curi-curi kesempatan untuk ketemu atau melakukan percakapan melalui media online padahal ta’aruf yang sesuai kaidah agama Islam tidak memperbolehkan yang demikian.

Hal ini diperkuat oleh pendapat dari Ustad Urwatul Wusqa, Lc, MA yang dikenal sebagai Ketua Ikadi (Ikatan Dai Indonesia) Sumatera Barat dan Akademisi Pendidikan Indonesia bahwa ta’aruf itu upaya untuk mengenal calon pasangan dengan cara yang tidak dilarang agama Islam. Ta’aruf dilakukan melalui perantara dan yang menjadi poin penting disini bukan dilakukan langsung berdua. Perlu diingat bahwa ketika seseorang memutuskan ta’aruf dianjurkan ada perantara sebagai penghubung melalui beberapa tahapan dan apa yang dipertanyakan mengenai segala hal yang akan menguatkan hubungan setelah pernikahan nanti. Misalnya poin-poin menyangkut hal pribadi.

Ini makna mendalam yang sesungguhnya dimana ta’aruf itu murni karena Allah. Ta’aruf is not easy but this is need sustainability. Menjaga pandangan, memiliki rentang waktu, melalui perantara (ustadz/murabbi), diketahui oleh orang tua kedua belah pihak dan melalui proses istikharah untuk menemukan jawaban hingga pada keputusan melanjutkan atau tidak.

Penyadaran bagi mereka yang menjalani ta’aruf saat ini, yang dinilai mulai salah kaprah karena dorongan dari luar seperti ikut-ikutan teman, tuntutan lingkungan bahkan sampai bela-belain ikut komunitas hijrah. Kalau memang ta’aruf itu sejatinya karena Allah, karena benar seseorang untuk kita itu sudah tertulis di “Lauhulmahfuz” dan butuh ikhitar di dalamnya yang dilakukan sesuai anjuran agama Islam melalui ta’aruf.(*)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top