Ta’aruf : Lifestyle vs Lillahi Ta’ala

Penulis -

Kamis, 26 Maret 2020 - 22:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Eda Elysia

Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Salah satu hal yang unik saat ini, ketika ta’aruf bukan lagi hal yang dirahasiakan tetapi sudah jadi konsumsi publik. Banyak istilah di kalangan milenial menyebut jomblo itu bukan sesuatu yang menyedihkan lagi loh, tapi pilihan terbaik. Ketika ditanya, “kamu kok masih jomblo…?” Berbagai respon muncul untuk menjawab pertanyaan ini, seperti ga baik pacaran sama yang bukan muhrimnya, memperbaiki diri untuk si dia, dan ada juga yang bilang saya sekarang udah hijrah.

Ta’aruf menjadi populer sejak munculnya film “Ayat-Ayat Cinta”, yang memberikan dampak besar bagi cara pandang individu terhadap ta’aruf. Ketika ta’aruf yang lebih familiar di komunitas pengajian saja, semakin dikenal dan menjadi idaman memilih “si dia yang tepat bagiku.” Muncul sesuatu yang menggelitik saat santer diberitakan, banyaknya public figure/artis yang memilih ta’aruf untuk mengenal pasangan.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Dari sekian banyak artis yang melalui ta’aruf, satu kata untuk mewakili alasan mereka yaitu “hijrah.” Walaupun tak menepis alasan dari beberapa artis yang juga pendakwah, ta’aruf dipilih karena sesuai dengan anjuran agama.

Menyoroti artis/public figure yang memilih ta’aruf, ibarat dua sisi mata uang. Terlepas ada sisi positif dan negatif, yang pasti ini merubah gaya hidup generasi muda untuk mengenal pasangan. Lifestyle yang mengarah menjadi role model, ketika melihat artis yang notabene besar di dunia hiburan saja memilih ta’aruf.

Meski kita tahu ta’aruf menjelma menjadi lifestyle, pada titik inilah penyebab banyak orang salah kaprah memaknai ta’aruf. Ada yang menganggap ta’aruf anti pacaran, ta’aruf sebagai hijrah atau parahnya lagi jika menjadikan ta’aruf sebagai modus.
“…. Saya ta’aruf loh…” tapi kebablasan kepoin akun instagram, whatsaap atau facebook. Kebanyakan mereka tidak tahu makna ta’aruf itu sebenarnya apa, tapi sekedar ikut-ikutan teman atau pemahaman agama yang masih setengah-setengah. Ada lagi yang curi-curi kesempatan untuk ketemu atau melakukan percakapan melalui media online padahal ta’aruf yang sesuai kaidah agama Islam tidak memperbolehkan yang demikian.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Hal ini diperkuat oleh pendapat dari Ustad Urwatul Wusqa, Lc, MA yang dikenal sebagai Ketua Ikadi (Ikatan Dai Indonesia) Sumatera Barat dan Akademisi Pendidikan Indonesia bahwa ta’aruf itu upaya untuk mengenal calon pasangan dengan cara yang tidak dilarang agama Islam. Ta’aruf dilakukan melalui perantara dan yang menjadi poin penting disini bukan dilakukan langsung berdua. Perlu diingat bahwa ketika seseorang memutuskan ta’aruf dianjurkan ada perantara sebagai penghubung melalui beberapa tahapan dan apa yang dipertanyakan mengenai segala hal yang akan menguatkan hubungan setelah pernikahan nanti. Misalnya poin-poin menyangkut hal pribadi.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Ini makna mendalam yang sesungguhnya dimana ta’aruf itu murni karena Allah. Ta’aruf is not easy but this is need sustainability. Menjaga pandangan, memiliki rentang waktu, melalui perantara (ustadz/murabbi), diketahui oleh orang tua kedua belah pihak dan melalui proses istikharah untuk menemukan jawaban hingga pada keputusan melanjutkan atau tidak.

Penyadaran bagi mereka yang menjalani ta’aruf saat ini, yang dinilai mulai salah kaprah karena dorongan dari luar seperti ikut-ikutan teman, tuntutan lingkungan bahkan sampai bela-belain ikut komunitas hijrah. Kalau memang ta’aruf itu sejatinya karena Allah, karena benar seseorang untuk kita itu sudah tertulis di “Lauhulmahfuz” dan butuh ikhitar di dalamnya yang dilakukan sesuai anjuran agama Islam melalui ta’aruf.(*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB