Agam, Prokabar – Syekh Muhammad Amrullah adalah kakek kandung dari Buya Hamka. Ulama bergelar Tuanku Kisai tersebut cukup harum namanya hingga saat ini. Tokoh ulama dan penyiar agama Islam di kelarasan IV Koto (Sungai Batang, Tanjung Sani, Maninjau dan Bayur) dan pada umumnya di Kabupaten Agam.
Ia anak dari pasangan Siti Saerah (anak kandung dari Tuanku Pariaman) dengan Abdullah Saleh Tuanku Syekh Guguk Katur. Amrullah memiliki saudara kembar bernama Bayanullah dan lahir pada bulan Rajab, 1256 Hijriah. Bayanullah sendiri lebih mendalami ilmu silek tuo dan merantau ke Negeri Jiran Malaysia, hingga meninggal di sana.
Amrullah setelah khatam Quran di sebuah surau Sungai Batang, sekitar umur 14 tahun langsung dibawa kakeknya Tuanku Pariaman atau Tuanku Nan Tuo atau Syekh Abdullah Arif ke Koto Tuo, tempat si kakek menetap dan mengembangkan Ilmu Agama Islam. Beliau menganut paham atau tarikat Syatariah.
Pada tahun 1282 Hijriah atau 1864 Masehi, Amrullah mendapat gelar Fakih Kisai dan kembali ke kampung halaman untuk menyiarkan agama Islam. Ia mendapat ijazah dan mengajarkan Ilmu Tafsir, Fiqih, Tasauf, dan Ilmu-ilmu alat seperti Nahwu, Sharaf, Manthik, Ma’ani, Bayan dan Badi’
Menurut Ninik Mamak Kanagarian Sungai Batang, Nasbir Khatib Sinaro (62), Syekh Muhammad Amrullah adalah guru sekaligus penyiar Islam yang cukup termashur di zamannya. Banyak murid dari berbagai daerah belajar ilmu agama kepadanya. Salah satu murid terbaiknya adalah Syekh Sulaiman Ar Rasulli atau Inyiak Canduang Parabek.
“Syekh Muhammad Amrullah merupakan cucu dari seorang ulama besar yang datang dari Ulakan Tapakis Pariaman, Bernama Syekh Abdullah Arif. Ia mengajar Agama Islam di lima tempat di Kabupaten Agam. Seperti di Banuhampu, Koto Tuo, Koto Gadang, Parabek Bukittinggi serta di Sungai Batang tepatnya di Masjid Jamiak, tempat orang danau berhimpun pada masa itu,” kata Nasbir.
Pada saat itu lanjutnya, belum ada satupun ulama yang ada di Salingka Danau Maninjau, kecuali tumbuh dari silsilah Kakek Hamka, yakni Syekh Muhammad Amrullah. Setelah itu lahirlah Ayah Hamka, Abdul Karim Ambrullah atau Haji Rasul. Dan kemudian dilanjutkan Buya Hamka sendiri.
“Dari kecil kakek Hamka itu, sudah didik dan diasuh oleh Bapaknya Syekh Abdullah Saleh dan ibunya Siti Saerah (anak dari Syekh Tuanku Pariaman). Apa saja ilmu yang dimiliki Abdullah Saleh dipelajari pula oleh Syekh Muhammad Amrullah. Hingga berumur 14 tahun, ia dibawa dan dididik oleh sang kakek Syekh Abdullah Arif atau Tuanku Pariaman ke Koto Tuo,” ungkap Khatib Sinaro.
Ia melanjutkan Tuanku Kisai hingga akhir hayatnya 1923 Masehi, meninggal di kampung halamannya, Jorong Nagari, Kenagarian Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Makamnya terletak dekat di Masjid Syekh Amrullah, masjid tempat tumbuh besarnya Buya Hamka mendapat pendidikan dasar ilmu agama Islam.
“Beliau saya ketahui memiliki 8 orang istri dan 17 orang anak. Namun paling terkenal dan paling menonjol adalah Dr. Syekh Abdul Karim Amrullah atau Inyiak Rasul atau Haji Rasul. Ayah kandung dari Buya Hamka itu sendiri meninggal di Jakarta pada 2 Juni 1945. Mereka adalah keluarga ulama hebat dan patut ada generasi penerus selanjutnya,” tutup Nasbir Khatib Sinaro. (rud)
















