Oleh : Fathiyah Ikhsani Siregar
Sumatera sedang tidak baik-baik saja. Hujan turun tanpa jeda, banjir merendam rumah, jalan, hingga sawah, dan di beberapa daerah tanah ikut longsor. Aceh, Sumatera Utara, khususnya Tapanuli Tengah hingga Sumatera Barat, semuanya mengalami hal yang sama. Air naik tiba-tiba, dan warga harus menyelamatkan diri dengan segala cara yang mereka punya.
Namun, yang terasa paling menyakitkan bukan hanya air bah itu sendiri, tetapi lambatnya respons dari pusat. Lebih menyedihkan lagi, Presiden bahkan tidak memasukkan musibah ini sebagai bencana besar yang membutuhkan penanganan cepat. Seolah-olah Sumatera hanyalah catatan pinggir, bukan halaman utama negeri ini.
Di tengah arus deras, warga melihat kayu-kayu raksasa terseret air. Bukan ranting, bukan dahan kecil, tapi kayu sebagaimana batang pohon seumur manusia. Pertanyaan itu pun muncul, pelan tapi menusuk. Air mungkin turun dari langit, tapi kayu-kayu itu jelas tidak. Dari mana asalnya kalau bukan dari hutan yang telah lama dijarah?
Bukit Barisan yang dulu berdiri seperti penjaga tua yang bijak, kini tampak seperti tubuh yang dipotong sedikit demi sedikit. Gundul. Kosong. Bukan karena alam yang berubah dalam semalam, tetapi karena tangan-tangan yang mengeruknya tanpa malu. Namun ketika bencana datang, masyarakat justru yang disalahkan. Mereka dituding tidak menjaga alam, seolah-olah penebangan gelap dan tambang liar itu dilakukan oleh rakyat biasa, bukan oleh mereka yang punya izin dan kuasa.
Sementara itu, nomor darurat yang disebarkan ke mana-mana tidak bisa dihubungi. Seperti ikut hanyut bersama banjir. Dan lagi-lagi kita melihat pola lama yang terulang, masyarakat menolong masyarakat. Para pemuda menurunkan perahu seadanya, bapak-bapak membantu membongkar pintu rumah untuk membuat rakit, ibu-ibu memasak makanan panas dengan kompor yang setengah terendam. Semua bergerak karena tidak ada waktu menunggu. Karena jika mereka menunggu, tidak ada siapa pun yang akan datang.
Lebih menyedihkan lagi, ketika masyarakat berjuang hidup-mati, sebagian media justru sibuk membahas hal-hal yang bahkan tidak penting bagi hidup orang banyak. Ada yang ribut soal tumbler hilang, ada yang mengulas hubungan artis yang retak, ada yang memenuhi beranda berita dengan drama yang tidak mengurangi atau menambah apa-apa bagi rakyat yang sedang kebanjiran. Seakan-akan bencana di Sumatera hanyalah suara kecil di sudut ruangan, kalah oleh keributan hal-hal remeh yang disulap menjadi headline.
Begitulah nasib Sumatera hari ini. Rumah-rumah terendam, hutan-hutan hilang, masyarakat saling mengulurkan tangan, sementara sebagian pemimpin dan sebagian media seperti lebih sibuk pada hal-hal yang tak ada hubungannya dengan keselamatan rakyat.
Padahal, kami tidak meminta hal besar. Hanya empati. Hanya keberpihakan. Hanya pengakuan bahwa bencana ini nyata dan butuh tindakan cepat. Hanya keberanian untuk menghentikan perusakan hutan, apa pun risikonya. Hanya kehadiran negara saat rakyat sedang berada di titik paling rapuh.
Wahai Bapak dan Ibu yang terhormat, kami ingin mengingatkan. Sumatera ini juga Indonesia. Sumatera bukan halaman belakang. Sumatera adalah salah satu penyokong terbesar ekonomi negeri ini. Jangan hanya ingat kami ketika bicara soal sumber daya. Ingatlah juga ketika kami tenggelam, ketika kami meminta bantuan dengan suara yang hampir tak terdengar.
















