Prokabar.com – Sumatera Barat jadi salah satu dari tiga besar provinsi yang tak patuh dalam memakai masker dan menjaga jarak.
Dua provinsi lagi yaitu Gorontalo dan Maluku Utara. Dewi Nur Aisyah selaku ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19 mengatakan data tersebut berdasarkan kepatuhan warga dalam mengenakan masker dan menjaga jarak di lingkup desa dan kelurahan.
“Jadi tiga provinsi dengan kepatuhan memakai masker rendah adalah Gorontalo, Sumatera Barat, Maluku Utara. Sedangkan untuk jaga jarak, mirip, cuma bedanya Maluku Utara naik jadi peringkat kedua, Sumatera Barat jadi peringkat ketiga,” kata Dewi.
BACA JUGA :
-
Masinton Pasaribu Sebut Jiwa Pemimpin Puan Maharani Alami dan Natural
-
Kolaborasi KKN UIN IB & Unand Sukseskan Kegiatan 1 Muharram di Limau Manis
Dewi merincikan dari rendahnya tingkat kepatuhan provinsi dalam memakai masker. Yaitu pertama Gorontalo 70,24 persen, kedua Sumatera Barat 59 persen dan ketiga Maluku Utara 53,33 persen.
Sedangkan dari tingkat kepatuhan terendah menjaga jarak pertama Gorontalo 71,43 persen, kedua Maluku Utara 60 persen, dan ketiga Sumatera Barat 56,32 persen.
Pengamat sosial Silfia Hanani menyebut penyebab Sumbar masuk 3 besar tak patuh prokes kerena kurang terintegrasinya para tokoh dalam mengedukasi masyarakat.
“Sumbar nomor 3 tidak patuh prokes memakai masker. Sumbar perlu edukasi tentang mitigasi bencana pandemi Covid-19. Edukasinya secara terintegrasi dilakukan antara tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat,” kata Silfia kepada wartawan Prokabar, Minggu (8/8/2021).
BACA JUGA :
-
Boeing Batal Luncurkan Kapsul Starliner ke Luar Angkasa
-
CNN Pecat Tiga Karyawannya Karena Tidak Melakukan Vaksinasi Covid-19
Silfia menginginkan semuanya agar bisa menyesuaikan diri untuk membentengi diri dari ancaman virus Covid-19.
“Sebab masalah ini masalah mengubah perilaku dan menyesuaikan dengan cara-cara yang bisa membentengi diri dari ancaman virus tersebut. Sekarang kita harus membiasakan diri dengan segala yang bisa menjadikan kita terhindar dari ancaman virus ini,” tambahnya.
Dosen IAIN Bukittinggi itu mengajak agar semua elemen mampu berintegrasi untuk mengedukasi masyarakat.
“Persoalannya sekarang adalah masyarakat masih banyak yang melabrak karena edukasi kepada masyarakat yang belum terintegrasi disampaikan oleh semua kita,” tutup Silfia.
















