Trending | News | Daerah | SemenPadangFC

Daerah

Sumbar Perlu Moenek si Ahli Strategi Fiskal dan Desentralisasi

Padang, Prokabar – Hari ini sudah bermunculan nama-nama kandidat calon gubernur, tapi taka da yang fokus bisa membangun ekonomi, kecuali DR. Reydonnyzar Moenek alias Donny Moenek.

Moenek merupakan pakar desentralisasi fiskal dan investasi daerah. Keahlian ini yang diperlukan Sumatera Barat, bukan sekedar hoyak-hoyak, ahli politik, ahli agama, ahli segala ahli saja. Moenek tak bisa membanggakan diri sebagai ahli agama, ahli adat atau ahli huku,, ia bisa tak tertanding dalam fisal dan investasi daerah. Itu sebabnya banyak yang berkehendak agar Moenek focus di sana dan membawa Sumbar maju.

Kenapa begitu, hal ini disebabkan Sumbar hanya 1/3 daerahnya yang bisa digarap. Moenek pernah berkata, “tanah ulayat” bukan hambatan, tapi potensi. Menuut dia, pemberdayaan desa menjadi sebuah keniscayaan dalam menumbuhkan kembangkan potensi ekonomi masyarakat dan pertumbuhan desa atau nagari. Selama ini hak ulayat atas tanah dianggap sebagian orang sebagai penghalang masuknya investasi.

“Saya melihatnya terbalik, justru hak ulayat atas tanah itu harusnya menjadi kekuatan Sumatera Barat, bagaimana kemudian aset yang tadinya tidak dimanfaatkan, tidak mempunyai nilai tambah ekonomis, kemudian kita ubah menjadi bernilai ekonomis,” kata Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI DR. Reydonnyzar Moenek, pada prokabar.com, Minggu (26/1).

Menurut dia, tanah ulayat merupakan aset yang dimiliki secara turun-temurun hak ulayat adat atas tanah dikonversi sedemikian rupa menjadi bentuk penyertaan modal.

“Jadi hak ulayat itu kita buat menjadi hak yang mempuyai nilai ekonomi, namun bukan untuk diperjualbelikan atau dibaliknamakan. Dia hanya boleh dimanfaatkan dengan cara penyertaan modal (inbreng) yang digunakan usahakan dan dimanfaatkan secara bersama-sama dengan investor yang masuk ke Sumbar. Jadi hak ulayat itu tidak menjadi penghambat invenstasi tapi malah bisa menjadi kekuatan masyarakat untuk peningkatan perekonomian,” katanya.

Dikatakan, hak ulayat itu justru menjadi keberpihakan kita untuk melindungi aset-aset yang dimiliki masyarakat yang ada di Sumatera Barat bahwa itu adalah hak turun-temurun yang tidak boleh diperjualbelikan.

“Tapi nantinya tentu ada metode dan kuantifikasi aset. Kita hitung nilai aset yang akan disertakan dalam penyertaan modal. Dalam penyertaan modal itu dihitung bersama masuk dalam neraca dilakukan dalam usaha bersama jadi ada prinsip cosharing dan cofinancing. Cosharing dari masyarakat adat sementara investor mendapat jaminan kepastian akan investasi yang ditanamnya, sebab belanja terbesar dalam investasi adalah pengadaan lahan,” katanya.

Jadi kenapa tidak jadikan hak ulayat itu menjadi kekuatan yang nantinya akan dibuat payung hukumnya berupa Perda tentang mekanisme dan tata cara penyertaan modal kepada investasi swasta yang masuk ke Sumatera Barat.

“Dengan itu akan memberikan kepastian kepada pemerintah daerah untuk memfasilitasinya dan investor pun betul-betul merasa terbantu,” katanya.

Maka Moenek, bisa menjadi sosok yang pas untuk itu. Belum lagi jika dia bisa memaksimalkan zakat, membuat Padang Industrial Park terisi, mengeruk Teluk Bayur, memperbanyak turis datang. Ia memiliki jejaring yang kuat ke pusat.

“Saya suka Pak Moenek yang maju, sebab beliau energinya berlebih dan serius dalam bekerja,”kata Syawal seorang warga Padang yang selalu memantau pemberitaan soal Moenek di medsos.(laf)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top