Daerah

Sumbar Kini Miliki 200 Petak Tambak Udang Paname

Agam, Prokabar — Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatra Barat, Ir. Yosmeri mendampingi Danrem 032/Wirabraja saat melihat lokasi Demplot Tambak Udang Paname Kodim 0304 Agam melalui teknologi Bios 44 di Gasan Kaciak, Nagari Tiku Selatan, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Minggu (12/1). Ia membeberkan Sumbar saat ini sudah memiliki 200 Petak Tambak Udang Paname di beberapa Kabupaten dan Kota

“Jika satu petak menghasilkan minimal 1 ton sekali panen maka minimal hasil produksi udang Paname di Sumatra Barat diperkirakan mencapai 200 ton hasil produksi sekalipanen,” ungkapnya.

Meski demikian, Itu belum mencukup membangun kultur budidaya di Sumatra Barat. “Kita inginkan semua draf pesisir ini dapat dikembangkan menjadi tambak udang. Persoalannya sekarang adalah daerah pesisir ini tidak dirancang menjadi membudidaya tetapi tata ruangnya untuk perubahan pemukiman dan pertanian. Dan untuk itulah kita dengan pemda kabupaten berkomunikasi kiranya perda direvisi tata ruang. Nah Kabupaten Agam dengan Kabupaten Padang Pariaman telah melakukan revisi tata ruang. Saat ini sedang dalam pembahasan di pusat,” terangnya.

Jika sudah keluar segala persoalan yang selama ini dianggap tidak sesuai dengan tata ruang, kendala regulasi itu tidak ada lagi. Kenapa, karena tanah-tanah di pinggir pantai ini banyak tidak tergarap. Mungkin ada pertanian tapi tidak efektif, ada perkebunan tapi terbangkalai atau lahan tidur yang cukup luas.

Maka solusinya adalah tambak udang ini. Jadi ini salah satu upaya peningkatan teknologi, peningkatan pendapatan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan secara umum serta penyerapan tenaga kerja yang terdidik.

“Karena mereka yang bisa bekerja di sini harus trampil dan mendapat pelatihan. Menjadi teknisi. Misalkan anak-anak di sini belajar dia. Setelah punya modal, mereka bisa mengembangkan sendiri,” tuturnya.

Kami lanjutnya dari perikanan kedepan akan mengembangkan teknologi budidaya udang skala rumah tangga. Tidak perlu digali, tapi pakai terpal saja ukuran diameter 10×10, itu sudah bisa menghasilkan kehidupan mereka.

Tetapi orangnya belum kita siapkan, dengan adanya Pak Lukman selaku tenaga ahli sekaligus pengusaha ini sudah sangat membantu. Tenaga kerjanya yang sudah trampil akan mendidik masyarakat sekitar. Biasanya tenaga teknisi didatangkan dari lampung, medan dan jawa. Secara bertahap itu akan berkurang.

Untuk pemasaran, itu tidak ada masalah. Karena penampung ekspor sangat banyak. Karena udang ini salah satu komuniti ekspor sektor perikanan yang tidak ada masalah. Jumlahnya berapapun ekspor. Makanya sekarang pemerintah mendorong semua tambak-tambak rakyat dari tambah udang windu menjadi udang paname. Jadi tidak ada masalah.

“Makanya kita berharap jika bisa menghasilkan nanti 500 ton hingga 1000 ton perminggu, itu sudah bisa nanti membangun pabrik pengolahan udang ini. Tapi saat ini kita harus menjualnya ke Medan, ke Lampung dan Jakarta. Dan itu mereka yang datang. Untuk di Padang kebutuhan konsumen menampung sekian ton seharinya,” pungkas Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatra Barat tersebut. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top