Waspada, Sumbar Berpotensi Diterjang Tsunami, Ini yang Harus Dilakukan

Penulis -

Selasa, 15 Januari 2019 - 17:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Sumatera Barat (Sumbar) berpotensi diterjang tsunami yang bisa terjadi kapan saja terutama di daerah pesisir pantai. Bahaya tsunami berlaku bagi semua daerah pesisir pantai di Sumbar. Terdapat tujuh daerah pesisir pantai di Sumbar.

Pemicunya bisa diakibat tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia (Sesar tegak atau miring) di zona megathrust di kawasan Mentawai dan Kemudian sesar Sumatera.

Hal itu disampaikan Pakar Tsunami Institut Teknologi Bandung (ITB) Hamzah Latief disela-sela kegiatan Semiloka dan FGD pengenalan dan kajian awal konvergensi adaptasi perubahan iklim (API) dan pengurangan resiko bencana dalam kebijakan dan perencanaan metropolitan PALAPA, khususnya kawasan pesisir di kantor Bappeda Sumbar, Selasa (15/1).

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

“Kami sering melakukan penelitian disini, bahayanya ya sepanjang itu, mulai dari abrasi, gelombang besar dan pastinya tsunami,” jelasnya.

Menurutnya, potensi gempa yang menyebabkan tsunami itu ada. Sisa energi gempa itu masih ada.

“Mudah-mudahan tidak keluar dalam skala besar yang menyebabkan tsunami yang besar. Kita berharap energi itu keluar perlahan sehingga tidak memicu tsunami,” katanya.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Dilanjutkannya Anca, panggilan akrab Hamzah Latif, pemerintah daerah harus mengatur tata ruang yang baik agar bahaya ini bisa diminimalisir, kemudian ditambah dengan memperkuat pengetahuan masyarakat soal tsunami serta memperbanyak shelter.

“Harusnya salah satu mitigasi itu dengan mengatur tata ruang. Apalagi Padang ini kebanyakan masyarakat tinggal dibawah radius 15 meter dari permukaan laut,” jelasnya.

Disampaikannya, pemerintah pusat dan para peneliti harus mengakaji lebih dalam lagi soal tsunami, dan memberikan perhatian khusus untuk Padang (Sumbar).

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

“Memberikan pemahaman kepada masyarakat sangat sehingga terjadi tsunami tidak banyak memakan korban,” tegasnya.

Dia melihat Padang sudah cukup baik soal mitigasi dengan membangun shelter di daerah yang dekat dari pantai. Namun ditegaskannya lagi, sistem bermukim masyarakat harus diatur lagi.

“Kalau kita lihat masyarakat kebanyakan membangun dan bermukim di pinggir pantai, seharusnya ini perlahan diatur,” tukasnya. (*/mbb)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 
Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB