Wisata

Suku Modo di Wae Rebo, Sang Penjaga Warisan Leluhur


Catatan Perjalanan Ekspedisi Merdeka (3/habis)

Flores, Prokabar – Jam 4 Subuh. Dingin di Desa Denge menusuk tulang. Kamar yang dihuni oleh para jurnalis digedor Blasius. Terpaksa, air sedingin es dibasuhkan ke muka. Sebagian dari jurnalis bahkan memilih untuk mandi.

Setelah Shalat Subuh dan sarapan seadanya, tim ekspedisi ini bersiap menjajal jalan terjal. Dari homestay, kami diantar oleh ojek menuju posko pertama. Raungan sepeda motor memecah subuh buta, meliuk diantara rimba. Menggigil karena dingin.

Matahari belum sempurna. Kami sudah berkumpul di ujung jalan aspal. Pemandu yang akan membawa kami ke puncak Wae Rebo bernama Long melakukan briefing singkat. Menjelaskan jalur yang akan dilalui. Dan perjalanan menuju kampung saudara jauh Minangkabau itu dimulai.

Dua ratus meter pertama, jalur mendaki dilalui dengan mudah. Semuanya baik baik saja. Ada yang berlari, ada yang berjalan cepat. Selepas itu, nafas beberapa tim mulai sesak. Jalur pendakian itu mulai berat.

Dari Denge ke Wae Rebo, normalnya ditempuh 2,5 jam berjalan kaki. Itupun hanya dengan istirahat sebentar. Jalur yang dilewati penuh dengan tanjakan, nyaris tidak ada jalur mendatar atau menurun.

“Berat, lebih berat dari jalur Marapi, Singgalang ataupun Talang. Tidak ada bonus jalan mendatar disini,” ujar Toad sambil terengah – engah mengambil nafas.

“Beruntung saya rajin jalan kaki ke Gunung Padang,” sambung Defri Mulyadi, atau akrab dipanggil Imung.

Selain tanjakan, pengunjung juga harus ekstra hati hati, karena jalanan lumayan licin. “Sudah banyak yang jatuh di jalur ini, bahkan ada yang masuk jurang,” jelas Long, pemandu tim ekspedisi ini.

Makin tinggi, jalur tanjakan makin curam. Fisik sudah terkuras. Berjalanpun semakin pelan. Posko 2 tinggal beberapa puluh meter di depan.

“Saya tunggu di posko dua saja, tanggung istirahat di sini,” kata Aries, staf Kemendes yang mendampingi jurnalis selama di NTT.

Jarak yang harus ditempuh sekitar 5 km. 3 km adalah jalan menanjak. Sedangkan 2 km Selanjutnya jalan mulai landai dan menurun. Jalur ini terdiri dari 3 posko. Posko 1 lokasi start jalan. Posko 2 dengan pemandangan laut Flores. Dan Posko 3, tak jauh dari Wae Rebo.

Badan sudah basah oleh peluh. Akhirnya tim ekspedisi sampai di Posko 3. Artinya tidak jauh lagi akan sampai di Rumah Kasih Ibu. Rumah ini terdapat sebuah kentongan. Setiap tamu datang wajib memukul kentongan itu. Dari rumah ini sudah terlihat Mbaru Niang.

“Sebelum masuk ke Rumah Gendang, tidak boleh mengambil foto dan video,” perintah Long.

Kami patuh, dan langsung masuk ke rumah utama untuk melakukan prosesi adat Waelu’u. Di dalam rumah, sudah menunggu tetua adat Rafael serta penerjemah Lucki. Waelu’u adalah prosesi untuk menyambut semua tamu. Tujuannya adalah mendoakan tamu agar selamat. Selain itu juga sebagai penghormatan terhadap arwah leluhur, yang dipercaya masyarakat bersemayam di kampung mereka.

“Selamat datang di Wae Rebo, kami senang dengan kehadiran bapa bapa, apalagi dari Minangkabau. Leluhur kita satu, dan jelas kita bersaudara,” kata Lucki setelah prosesi selesai.

Kampung Wae Rebo terletak di lembah, diapit oleh pegunungan. Kampung ini berada di 1270 Mdpl. Rumah adat yang disebut Mbaru Niang, berdiri kokoh, jumlahnya 7 buah. Tidak boleh ditambah dan dikurangi. Jumlah tersebut dipercaya merupakan cerminan kepercayaan leluhur untuk menghormati tujuh arah puncak gunung di sekeliling Kampung Wae Rebo, yang dipercaya sebagai pelindung kemakmuran kampung.

Rumah utama di Wae Rebo adalah Rumah Gendang. Di sini tetua adat tinggal. Di dalamnya terdapat 8 kamar, mewakili 8 keluarga di Suku Modo.

Rumah berbentuk kerucut itu memiliki 5 lantai dengan fungsi berbeda. Lantai pertama untuk aktivitas, ditengahnya terdapat 8 tungku memasak. Lantai 2 untuk menyimpan makanan yang akan dimasak. Lantai 3 menyimpan benih yang akan ditanam pada saat Penti atau tahun baru suku Modo. Lantai 4 menyimpan stok makanan jika terjadi kekeringan, dan lantai paling atas menyimpan barang barang sakral yang hanya dipakai pada saat upacara Penti.

Di Wae Rebo bermukim sekitar 130 jiwa. Rata rata penduduknya bercocok tanam kopi. Sementara untuk kebutuhan lain, dibawa dari Desa Kombo. Desa ini, kampung kedua suku Modo. Rata rata mereka punya rumah di Kombo. Begitupun anak anak mereka, untuk sekolah, mereka tinggal di Kombo.

Tim ekspedisi menghabiskan waktu di Wae Rebo mengeksplorasi alam dan kekayaan budaya. Tidak lupa, secangkir kopi menemani di pagi yang berkabut itu.

“Apakah kalian tidak terasing di tengah globalisasi yang semakin menggila?” pancing Agusmardi kepada Lucki, Patris dan Long ketika bicara santai.

“Tidak bapa, kami bangga, sampai mati kami akan menjaga tradisi, adat dan budaya leluhur kami,” jawab Lucki dengan sorot mata tajamnya.

Tiga anak muda Wae Rebo ini menjadi gambaran, bagaimana suku Modo sangat menghargai budaya mereka. Keselarasan dengan alam membuat mereka menjadi pribadi pribadi hebat. Masa depan Wae Rebo ada di tangan mereka.

Tim ekspedisi tidak bisa berlama lama di Wae Rebo. Masih ada perjalanan yang harus dituntaskan. Namun, Setidaknya Wae Rebo mengajarkan kepada kami bahwa Ada kebahagiaan lebih hakiki, yaitu hidup selaras dengan alam, menjunjung tinggi kebersamaan, dan menghormati orang lain seperti saudara sendiri. Sementara teknologi tidak berarti apa apa di Wae Rebo.

Di tempat lain, Stafsus Mendes PDTT, Febby Dt Bangso berharap, perjalanan ini memberikan gambaran baru tentang bagaimana desa wisata bisa mensejahterakan masyarakat.

“Bukan tidak mungkin di Sumatera Barat ada desa wisata seperti Wae Rebo ini, yang dicari bukan kemewahan destinasi, tapi malah kesederhanaan, ini yang mahal,” kata Febby.

“Bayangkan orang datang dari penjuru dunia ke Wae Rebo, jalannya saja tidak mulus, tidak ada listrik, mereka pun harus membayar mahal, tapi ratusan orang datang tiap bulan ke desa ini,” sambung Febby.

Cerita Wae Rebo harus kami akhiri di sini. Tapi goresan keindahan jadi memori seumur hidup. Wae Rebo tidak hanya desa terindah di dunia, tapi juga desa yang punya banyak pelajaran penting tentang kehidupan.

Tim ekspedisi merdeka tidak banyak bicara ketika turun dari Wae Rebo. Masing masing kami punya catatan sendiri di kepala. Kami belajar banyak dari Wae Rebo, tentang mengelola wisata, sekaligus tentang hakikat kehidupan.(laf)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top