Suka Duka KPPS di Pasaman, Pergi Pagi Pulang Pagi Untuk Sukseskan Pemilu

Penulis -

Sabtu, 20 April 2019 - 20:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasaman, Prokabar — Ujung tombak berhasilnya proses pencoblosan itu, ada di tangan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Begitulah kira-kira. Memang, tampaknya sederhana, tapi begitulah kira-kira.

Menjadi KPPS itu, tidak mudah. Berat. Kesehatan jadi taruhannya. Pergi pagi pulang pagi. Itupun kalau proses rekap hasil pencoblosan cepat selesai tanpa kendala. Kalau ada kendala, bisa-bisa dua hari satu malam baru selesai. Tanpa tidur, tanpa henti. Istirahat hanya untuk makan atau shalat saja. Habis itu, kerja lagi.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

“Sampai-sampai ada tim kami yang tertidur sambil duduk. Kepalanya tertumpu pada pena di atas berkas-berkas yang harus ditandatangani. Kalau diingat lagi, ganas. Tapi begitulah, kami KPPS luar biasa, setelah melewati masa pencoblosan itu,” kata Reski Busmar Putra, salah satu Ketua KPPS, di Nagari Tanjung Beringin, Kecamatan Lubuk Sikaping, Sabtu (20/4).

Perihal honor, di Pasaman untuk Ketua KPPS besarannya, Rp550 ribu. Sementara anggota Rp500 ribu. Di luar uang makan, dan biaya pembuatan TPS.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

“Pertama yang ada di benak kami, hanya untuk mendapatkan uang. Biar bisa mengasapi dapur. Tapi, setelah terjun, tidak sekedar itu, kami dapat banyak pengalaman. Bagaimana pentingnya keberadaan kami KPPS, pentingnya menggunakan hak suara. Serta apa itu demokrasi, kami memahaminya,” lanjut Chandra, anggota KPPS 01 yang dinahkodai Reski.

Itu baru segelintir ‘penderitaan’ anggota KPPS yang umum terjadi. Masih banyak lainnya. Ada yang dimaki-maki warga, karena tidak bisa mencoblos. Ada yang menangis, karena kesalahan dalam proses rekapitulasi dan harus diulang, ada pula, mulanya gagah dan cantik, pulangnya tak ‘berbentuk’ lagi. Kusam, lemah, lesu tanpa arah.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

“Ini pengalaman berharga. Kami tidak putus asa. Tidak sedikit anggota KPPS yang melambaikan tangan, menyerah dan tidak ingin lagi menjadi anggota KPPS di masa yang akan datang. Tapi kami, KPPS 01, optimis bakal jadi KPPS lagi. Biar bisa berpartisipasi mensukseskan Pemilu,” tutup Reski. (Ola).

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 
Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB