Penulis: Aidina Fitra
Mahasiswa Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
Fenomena tutupnya sejumlah gerai ritel Transmart belakangan ini telah mencuri perhatian publik. Banyak yang berpendapat bahwa penutupan gerai tersebut merupakan indikasi kegagalan atau kolapsnya lini bisnis milik Chairul Tanjung. Namun, apakah benar tutupnya sebagian gerai Transmart menandakan kegagalan yang tak terelakkan? Mari kita telaah fenomena ini dengan perspektif yang lebih luas.
Data yang diperoleh dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) menunjukkan bahwa PT Trans Retail Indonesia yang merupakan pengelola gerai ritel Transmart, mengalami penyusutan sejumlah gerai pada tahun 2022. Di saat yang sama, sejumlah perusahaan ritel modern lainnya justru mengalami pertumbuhan yang signifikan dibandingkan tahun 2021. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy N. Mandey, menegaskan bahwa penutupan gerai merupakan hal yang biasa terjadi dalam dunia ritel. Penting untuk memahami bahwa penutupan gerai bukanlah satu-satunya indikator kegagalan sebuah perusahaan. Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi keputusan untuk menutup gerai, seperti berakhirnya masa sewa gerai, penurunan kunjungan konsumen di daerah tertentu, atau perubahan dalam strategi bisnis secara keseluruhan. Sebagai contoh, Giant, salah satu perusahaan ritel besar di Indonesia, menutup seluruh gerainya pada tahun 2021. Namun, penutupan ini bukan berarti kolapsnya perusahaan tersebut, melainkan merupakan keputusan strategis yang diambil oleh manajemen dalam menghadapi tantangan yang ada.
Aprindo juga menegaskan bahwa yang terjadi di Transmart bukanlah kegagalan atau kolaps, melainkan merupakan langkah strategis dalam melakukan re-engineering business plan. Dalam konteks ini, re-engineering business plan merujuk pada upaya perusahaan dalam mengubah dan memperbarui strategi bisnisnya untuk meningkatkan kinerja dan daya saing. Strategi Re-Engineering Bisnis adalah pendekatan yang digunakan oleh perusahaan untuk melakukan perubahan radikal dalam proses bisnisnya dengan tujuan meningkatkan kinerja, efisiensi, dan daya saing. Konsep ini diperkenalkan oleh Michael Hammer dan James Champy dalam buku mereka yang terkenal, “Reengineering the Corporation: A Manifesto for Business Revolution” (1993).
Re-Engineering Bisnis melibatkan pemikiran ulang mendalam terhadap cara kerja, struktur organisasi, proses operasional, dan sistem manajemen yang ada. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan menghilangkan hambatan, birokrasi, dan ineffisiensi yang menghambat kemajuan perusahaan. Melalui pendekatan ini, perusahaan berusaha menciptakan proses yang lebih sederhana, otomatis, dan fokus pada nilai tambah bagi pelanggan.
Pada konteks Re-Engineering Bisnis, perubahan yang diusulkan tidak hanya terbatas pada perbaikan inkremental atau perbaikan kecil dalam proses yang ada. Sebaliknya, perusahaan melakukan transformasi yang fundamental dengan menghapus, menggabungkan, atau merancang ulang ulang proses yang ada untuk mencapai hasil yang lebih baik. Pendekatan ini memerlukan pemikiran kreatif dan berani untuk mempertanyakan asumsi-asumsi yang ada dan mengeksplorasi solusi baru.
Hammer dan Champy menggarisbawahi pentingnya teknologi informasi sebagai pendorong utama Re-Engineering Bisnis. Mereka menekankan bahwa teknologi dapat menjadi alat yang kuat untuk mengubah dan meningkatkan proses bisnis. Dalam artikelnya yang berjudul “Reengineering Work: Don’t Automate, Obliterate” (1990), Hammer menjelaskan pentingnya melihat teknologi sebagai alat untuk merancang kembali cara kerja yang lebih efektif, bukan hanya untuk mengotomatisasi proses yang ada.
Selain itu, John P. Kotter dan Dan S. Cohen juga membahas pentingnya faktor manusia dalam implementasi Re-Engineering Bisnis dalam buku mereka yang berjudul “The Heart of Change: Real-Life Stories of How People Change Their Organizations” (2002). Mereka menyoroti perlunya melibatkan karyawan secara aktif, membangun komunikasi yang efektif, dan membangun budaya organisasi yang mendukung perubahan.
Transmart sedang melakukan perubahan yang signifikan dengan merestrukturisasi dan memperbarui strategi bisnisnya, serta mengalokasikan kembali sumber daya yang dimiliki.
Perubahan strategis yang dilakukan oleh Transmart merupakan langkah yang penting dalam menghadapi tantangan dalam industri ritel yang semakin kompetitif. Manajemen Transmart sedang berupaya untuk meredefinisi ulang posisi dan pangsa pasarnya, serta menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen dan persaingan yang semakin ketat. Selain itu, Transmart juga sedang melakukan evaluasi terhadap gerai-gerainya untuk menentukan mana yang perlu ditutup dan mana yang perlu diperkuat.
Dalam upaya memperkuat bisnisnya, Chairul Tanjung, pemilik Transmart, terjun langsung ke lapangan dengan melakukan roadshow ke seluruh gerai Transmart sejak Agustus 2022. Hal ini memungkinkan Chairul Tanjung untuk melihat secara langsung kondisi gerai-gerai yang ada dan membuat keputusan yang lebih tepat dalam menghadapi tantangan yang dihadapi oleh setiap gerai. Pendekatan ini menunjukkan keterlibatan langsung pemilik dalam mengelola bisnisnya dan komitmen untuk memperkuat Transmart.
Bukan hanya penutupan gerai, penjualan yang meroket juga menjadi indikator bahwa Transmart sedang mengambil langkah yang tepat dalam menghadapi perubahan pasar. Menurut data yang diungkapkan oleh Vice President Corporate Communication Transmart, Satria Hamid, penjualan berbagai lini bisnis Transmart mengalami peningkatan yang signifikan setelah Chairul Tanjung terjun langsung ke lapangan. Peningkatan penjualan sebesar 48 persen pada Desember 2022 dibandingkan dengan Agustus 2022 menunjukkan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh Transmart memberikan hasil yang positif.
Selain itu, data tersebut juga menunjukkan peningkatan penjualan pada lini bisnis department store sebesar 67 persen, lini bisnis elektronik sebesar 55 persen, dan Transhardware sebesar 26 persen pada periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa re-engineering business plan dan strategi baru yang diimplementasikan oleh Transmart memberikan dampak yang signifikan dalam meningkatkan kinerja dan daya saing perusahaan.
Data yang diperoleh oleh Bisnis dari Kemendag memperlihatkan perbedaan jumlah gerai Transmart pada tahun 2021 dan 2022. Meskipun data tersebut menunjukkan adanya penyusutan jumlah gerai, hal ini tidak berarti bahwa Transmart mengalami kolaps. Perlu dicatat bahwa jumlah gerai yang ada merupakan hasil dari keputusan strategis perusahaan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan pasar dan lingkungan bisnis yang ada.
Demi menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks dalam industri ritel, setiap perusahaan perlu melakukan evaluasi terus-menerus terhadap strategi bisnisnya. Perubahan lingkungan bisnis yang dinamis menuntut perusahaan untuk beradaptasi dan berinovasi guna mempertahankan daya saingnya. Transmart telah melakukan langkah-langkah yang tepat dengan melakukan re-engineering business plan dan strategi baru, serta melibatkan pemilik secara langsung dalam mengelola bisnisnya.
Kesimpulannya, penutupan sejumlah gerai Transmart bukanlah tanda kegagalan atau kolapsnya perusahaan tersebut. Melainkan merupakan langkah strategis dalam melakukan re-engineering business plan dan menyesuaikan diri dengan perubahan pasar dan persaingan yang semakin ketat. Transmart telah membuktikan kemampuannya untuk beradaptasi dan bertahan dalam industri ritel yang kompetitif. Langkah-langkah yang diambil oleh Transmart, termasuk keterlibatan langsung pemilik dalam mengelola bisnisnya, telah memberikan hasil yang positif dalam peningkatan penjualan dan kinerja perusahaan. Dalam menghadapi perubahan yang terus-menerus, strategi re-engineering seperti yang dilakukan oleh Transmart menjadi kunci dalam menghadapi tantangan dan mempertahankan reputasi perusahaan di tengah persaingan yang semakin sengit.
Referensi:
- Hammer, M., & Champy, J. (1993). Reengineering the Corporation: A Manifesto for Business Revolution. HarperBusiness.
- Hammer, M. (1990). Reengineering Work: Don’t Automate, Obliterate. Harvard Business Review, 68(4), 104-112.
Kotter, J. P., & Cohen, D. S. (2002). The Heart of Change: Real-Life Stories of How People Change Their Organizations. Harvard Business Review Press
















