Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Strategi Pembelajaran Kitab-kitab Islam Klasik

Dibaca : 963

Oleh : Tamin Ritonga

Kitab-kitab Islam Klasik yang lebih akrab dengan “kitab kuning” sebagai khazanah keilmuan dan warisan ulama terdahulu sangat akrab di lingkungan pesantren. Kitab yang sejatinya hasil karya tulis para ulama masa lampau itu bukan hanya sebagai ikon yang khas dan unik bagi pesantren, melainkan juga mata rantai yang menyambungkan tradisi keilmuan Islam masa lampau dengan masa kini.

Menurut Azyumardi Azra, kitab kuning merefleksikan perkembangan sejarah sosial Islam di Indonesia, sedangkan pesantren adalah lembaga pendidikan tertua yang melekat dalam perjalanan kehidupan masyarakat Indonesia sejak 600 tahun yang silam sejak abad ke-15 mengiringi masuknya Islam ke negeri ini, yang dikategorikan sebagai lembaga pendidikan yang unik dan mempunyai karakteristik tersendiri yang khas.

Istilah kitab kuning pada mulanya disebutkan oleh kalangan luar pesantren sekitar dua dasawarsa silam dengan nada merendahkan. Dalam pandangan mereka, kitab kuning dianggap sebagai kitab yang berkadar keilmuan rendah, ketinggalan zaman, dan menjadi salah satu penyebab terjadinya kemunduran befikir ummat. Sebutan ini pada mulanya sangat menyakitkan memang, tetapi kemudian nama kitab kuning diterima secara meluas sebagai salah satu istilah teknis dalam studi kepesantrenan.

Di kalangan pesantren sendiri, di samping istilah kitab kuning beredar juga istilah kitab klasik (al-qutub al-qadimah), untuk menyebut jenis kitab yang sama. Bahkan, karena tidak dilengkapi dengan baris (syakal), kitab kuning juga kerap disebut oleh kalangan pesantren sebagi kitab gundul.

Kekhasan kitab kuning adalah penyajian setiap materi dalam satu pokok bahasan selalu diawali dengan mengemukakan definisi-definisi yang tajam, yang memberi batasan pengertian secara jelas untuk menghindari salah pengertian terhadap masalah yang sedang dibahas. Setiap unsur materi bahasan diuraikan dengan segala syarat-syarat yang berkaitan dengan objek bahasan kajian dan pada tingkat syarah (ulasan atau komentar) dijelaskan pula argumentasi penulisnya, lengkap dengan penunjukan sumber hukum.

Metode pembelajaran kitab kuning yang sering dipraktekkan di pesantren adalah metode bandongan atau seringkali disebut sistem weton. Secara etimologi diartikan dengan pengajaran dalam bentuk kelas sekelompok murid mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan dan mengulas buku-buku Islam dalam Bahasa Arab. Setiap murid memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan tentang kata-kata atau buah pikiran yang sulit, berupa baris atau makna mufrodhat atau penjelasan (keterangan tambahan). Kelompok kelas dari sistem bandongan ini disebut dengan halaqoh yang arti bahasanya lingkaran murid atau sekelompok siswa yang belajar dibawah bimbingan seorang guru.

Cara lain adalah dengan metode sorogan atau belajar secara individu kepada sang kyai dengan membutuhkan keseriusan bagi santri untuk mengikutinya, santri diberi tugas untuk di pelajari, kemudian berjanji menyetorkan bacaannya kepada guru dengan waktu yang ditentukan untuk dikoreksi. Menurut Arief (2002:150) dengan sorogan seorang santri dengan seorang guru terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya.

Manfaat yang dapat diambil dari belajar kitab kuning adalah untuk memahami kedua sumber utama Al-Qur’an dan Hadits Nabi, sebab kandungan kitab kuning merupakan penjelasan yang siap pakai dan rumusan ketentuan hukum yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang dipersiapkan oleh para ulama di segala bidang keagamaan dan untuk memfasilitasi proses pemahaman keagamaan yang mendalam sehingga mampu merumuskan penjelasan yang segar.

Pada masa sekarang ini banyak dari kalangan santri, mahasiswa, dan masyarakat yang meragukan akan isi kitab kuning karena tidak sesuai dengan konteks pada zaman sekarang, sehingga mengakibatkan sedikitnya orang-orang yang mau dan bergairah mempelajari kitab kuning. Oleh karena itu, perlu diadakannya pendekatan atau metode baru dalam memahami kitab kuning dengan Pembelajaran Pemberdayaan Santri Senior (PPS2).

Model pembelajaran pemberdayaan santri senior melibatkan santri secara langsung dalam pembelajaran guna membangun minat, menimbulkan rasa ingin tahu, dan merangsang mereka berpikir. Santri tidak bisa berbuat apa-apa jika pikiran mereka tidak dikembangkan oleh guru. Strategi pembelajaran ini langsung melibatkan santri sebagai guru akan membangun berbagai pengetahuan santri secara aktif. Pembelajaran santri senior memiliki konstruksi model yang dibangun terdiri dari: Perencanaan Pembelajaran KIK (Kitab-kitab Islam Klasik), Pelaksanaan Pembelajaran KIK, Peer Teaching santri senior, Pembelajaran santri junior, kontrol proses dan evaluasi.

Langkah-langkah guru dalam pemberdayaan santri senior menjadi guru dimulai dari guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Langkah ini diikuti oleh penyajian informasi. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Langkah terakhir pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok dan evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu agar siswa dapat termotivasi dalam mengikuti model pembelajaran kooperatif atau kerja kelompok. Pembelajaran kooperatif sangat positif dalam menumbuhkan kebersamaan dalam belajar pada setiap santri sekaligus menuntut kesadaran dari santri untuk aktif dalam kelompok, karena jika ada santri yang pasif dalam kelompok maka hal itu dapat mempengaruhi kualitas pelaksanaan pembelajaran kooperatif. Langkah terakhir yang harus dilakukan oleh kyai adalah pengontrolan proses terhadap santri senior untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai selama mengikuti pembelajaran. Pada kondisi dimana siswa mendapatkan nilai yang memuaskan, maka akan memberikan dampak berupa suatu stimulus, motivator agar siswa dapat lebih meningkatkan cara pembelajaran.

Sedangkan langkah-langkah yang harus dipersiapkan oleh santri senior adalah menyiapkan santri junior baik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Langkah awal ini dilakukan untuk memberikan motivasi pada santri junior untuk berperan penuh pada proses pembelajaran kitab-kitab Islam klasik. Langkah kedua adalah santri senior mempresentasikan materi kitab-kitab Islam klasik dengan membaca, menjelaskan, selanjutnya memberikan kesempatan kepada santri junior untuk melakukan latihan dan memberikan umpan balik.
Langkah akhir, santri senior memberikan latihan untuk menerapkan konsep yang telah dipelajari, membuat rangkuman bersama-sama santri junior, melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang sudah berlangsung, merencanakan kegiatan tindak lanjutnya, menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Sistem sosial yang diharapkan muncul adalah santri senior berperan sebagai pembimbing dalam membantu santri junior belajar dan melaksanakan pembelajaran serta mengomunikasikan pengalaman, adanya proses kerja sama saling membantu dalam memahami konsep-konsep materi, adanya sikap tanggung jawab individual santri dalam kelompok untuk mengomunikasikan hasil pengetahuan.

Prinsip reaksi adalah santri senior berperan sebagai pembimbing dalam kelompok belajar yang saling tergantung, sedangkan santri junior berperan sebagai santri yang siap untuk belajar dalam kegiatan pembelajaran. Reaksi dalam pembelajaran menempatkan santri senior sebagai pengatur yang mengarahkan agar santri junior bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi antara santri senior dan junior.

Pengalaman santri senior menjadi guru adalah yang terpenting dalam perkembangan kepribadian mereka serta penumbuhan perasaan positif dianggap penting dalam pembelajaran mereka. Hal ini sesuai dengan pendekatan humanistik mengutamakan peranan peserta didik dan berorientasi pada kebutuhan sebagai suatu totalitas yang melibatkan orang secara utuh, bukan sekedar sebagai sesuatu yang intelektual semata-mata. Seperti halnya guru, peserta didik adalah manusia yang mempunyai kebutuhan emosional, spiritual, maupun intelektual. Peran santri hendaknya dapat membantu dirinya dalam proses pembelajaran yang bukan sekedar penerima ilmu yang pasif.

Dampak nyata dalam pembelajaran ini adalah santri senior merasa senang, bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.

Sedangkan bagi santri junior adalah terdapat semangat kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Miftahul Huda (2011: 24-25) ketika siswa bekerja sama untuk menyelesaikan suatu tugas akan lebih paham dan akan memiliki kesadaran untuk lebih giat belajar. Santri junior belajar dari santri senior yang memiliki status umur yang tidak jauh berbeda dari dirinya sendiri, sehingga anak tidak merasa begitu terpaksa untuk menerima ide-ide dan sikap dari gurunya yang tidak lain adalah seniornya. Guru yang dipercaya dalam pembelajaran ini adalah senior yang memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi dari teman-temannya, diharapkan memberikan motivasi dan bantuan belajar kepada teman-teman juniornya. Motivasi dan bantuan belajar yang dilakukan oleh senior dapat menghilangkan kecanggungan dalam proses belajar di kelas maupun luar kelas. Penjelasan teman sebaya lebih mudah dipahami. Selain itu, dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya, sehingga diharapkan siswa yang kurang paham tidak segan-segan untuk mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.

Penutup
Pemberdayaan santri senior menjadi guru kitab-kitab Islam klasik akan selalu mengadakan evaluasi terhadap dirinya, baik kemampuan dalam penguasaan materi maupun cara menyampaikan materi. Dengan begitu, kemampuan kognitif satri akan dapat meningkat, mampu membuat santri lebih aktif belajar, dan lebih punya kesempatan untuk merespon atau memberikan umpan balik terhadap informasi yang diberikan serta penguatan terhadap pengetahuan yang dimilikinya. Dengan partisipasi belajar yang tinggi sangat memungkinkan siswa memperoleh hasil belajar yang tinggi pula.

Pemberdayaan santri senior menjadi guru akan dapat menciptakan tanggung jawab belajar secara mandiri bagi santri dan tanggung jawab bekerja sama dengan teman sebaya dan junior. Setelah memiliki tanggung jawab maka akan terbangun rasa percaya diri santri dalam melaksanakan pembelajaran. Selanjutnya santri akan mengekspresikan apa yang dia rasakan dan yang ia yakini sebuah pengetahuan untuk disampaikan kepada santri junior berdasarkan materi-materi pokok pembahasan, maka akan terciptalah gairah untuk mempelajari dan mendalami kitab-kitab Islam klasik.***

Artikel ini ditulis berdasarkan disertasi yang berjudul “Proses Pembelajaran Kitab-Kitab Islam Klasik pada Pesantren Darussalam Parmeraan” dengan Tim Promotor: Prof. Dr. Azwar Ananda, M.A.; Prof. Dr. Dasman Lanin, M.Pd; dan Dr. Helmi Hasan, M.Pd.


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top