Bola

Stadion H. Agus Salim, Antara Pengelolaan dan “Marasai” Kena Bully

Oleh : Rizal Marajo
(wartawan Utama)

Ditengah pertandingan Semen Padang vs Persipura Jayapura, 26 Oktober 2019 lalu, mendadak muncul Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit. Kehadiran orang nomor dua di jajaran Pemprov Sumbar itu sedikit mengejutkan, karena sejak awal musim belum pernah sekalipun datang menyaksikan pertandingan Semen Padang.

Menariknya lagi, kedatangan Wagub tidak diarahkan protokoler ke tribun kehormatan, tetapi langsung “nyelonong” ke tribun barat dan berbaur dengan penonton umum.

Hal tak lazim itu tentu ditanggapi beragam penonton. Ada yang menanggapi antusias, minta selfie-selfie segala macam. Ada yang dengan senyum simpul saja, maklum Pak Wagub kabarnya akan maju di Pilkada mendatang untuk kursi Sumbar-1. Hitung-hitung pencitraaan sedikitlah.

Tapi banyak juga penonton yang ‘cuek bebek” tak menghiraukan kehadiran Wagub. Lebih menarik bagi mereka melihat dua tim berketuntang di lapangan hijau, ketimbang melirik kedatangan sang Wagub.

Terlepas dari apapun motivasi kedatangan Wagub, yang jelas moment itu jadi santapan lumayan lezat media. Isu yang diangkat tentu seputar Stadion H. Agus Salim Padang. Tentang kondisinya, pastinya tentang pengelolaannya juga.

Stadion H. Agus Salim, selama ini “marasai”, kerap jadi bahan bully bagi suporter-suporter tim Liga 1 lainnya. Karena kondisi dan fasilitas yang tersedia jauh dari standart kelayakan untuk menggelar laga kasta tertinggi.

Hanya karena manajemen Semen Padang pintar “ngeles” pada regulator Liga, makanya Stadion semata wayang ini tetap lolos. Tapi ya itu tadi, selalu jadi bahan bully dan tertawaan suporter tim lain, yang membuat suporter Semen Padang hanya bisa mengelus dada. Bagaimana lagi, memang hanya itu yang kita punya dan kondisinya juga seperti itu.

“Ini stadion apa pasar malam ya, remang-remang begitu.”celetuk usil netizen di medsos, menyentil lampu stadion tak memadai penerangannya untuk sebuah pertandingan sepakbola level atas. Di layar kaca pun nampak, penerangan stadion buram, tak seperti stadion-stadion lain yang cerah.

Tak ketinggalan, permukaan lapangan yang “balak-balak”, keras, plus rumput berwarna coklat juga jadi bahan tertawaan. O ya, kalau sudah hujan lebat, Panpel ketar-ketir sambil mulutnya komat-kamit berdoa, semoga lapangan tak jadi danau mini.

Belum lagi, box ticketing yang disebut mirip kandang ayam, serta WC yang bau pesing, tak ketinggalan dapat sentilan. Itulah diantara “derita” yang dialami penikmat bola Sumbar jika menonton di Stadion kebanggaan mereka yang begitu-begitu saja sejak dulu.

Apa hendak dikata, kuncinya ada pada pengelolaan. Jika pengelolaannya rapi dan jelas, tentu kondisinya tak akan separah itu. Stadion kebanggaan yang kehilangan marwahnya. Tak ada lagi kebanggaan bermain disana, karena siapapun bisa bermain disana, yang penting izin dan sewa lancar.

Pada ujung-ujungnya, Semen Padang sebagai penyewa Stadion kerap harus mengelus dada. Disamping harus memperbaiki dan menambah fasilitas agar bisa memenuhi tuntutan regulator Liga, mereka tak mendapatkan fasilitas dan kondisi yang sebanding untuk menggelar pertandingan Liga 1.

Selama ini, pengelolaan Stadion H.Agus Salim yang sejatinya aset Provinsi, diserahkan pada Pemerintah Kota Padang. Sayangnya selama di pegang Pemko Padang, kondisinya tetap memprihatinkan. Entah dimana salahnya, yang jelas pengelolaan Stadion selalu menjadi polemik. Makin gemas, sepotong komentar pun tak ada dari Wako soal stadion.

Menarik, ketika pelatih Semen Padang tiba-tiba mengeluhkan kondisi lapangan yang disebutnya sebagai salah satu penyebab tidak maksimalnya permainan Semen Padang di rumah sendiri. Musim ini lebih banyak kalahnya ketimbang menangnya.

30 November nanti, kesepakatan pengelolaan Stadion dengan Pemko Padang akan berakhir. Menarik ditunggu, apakah Provinsi masih akan mempercayakan pengelolaan kepada Pemko Padang.

Kini bola ada ditangan Wagub Nasrul Abit, setelah meninjau kondisi stadion secara mendadak tatkala menyaksikan pertandingan Semen Padang FC melawan Persipura.

Satu catatan yang diberikan Wagub terkait sarana dan fasilitasnya, yang harus harus betul-betul sesuai standarisasi Liga, sehingga betul-betul representatif untuk menggelar pertandingan selevel Liga 1. sebuah sindirin ringan sebenarnya untuk pihak pengelola.

“Meski stadion ini aset provinsi, siapa pun yang mengelola tidak masalah. Terpenting itu terawat, laik, dan sesuai standar. Pengelolaan untuk lima tahun ke depan akan segera dibicarakan,” begitu salah satu pernyataan Wagub.

Hingga saat ini, bagaimana kelanjutan pengelolaan belum jelas. seperti dikatakan Kadispora Sumbar, belum ada keputusan apa-apa soal pengelolaan stadion untuk lima tahun ke depan. Apakah masih akan diserahkan ke Pemko Padang, atau dikelola langsung oleh Provinsi sebagai pemilik aset, atau bisa pula diserahkan kepada pihak ketiga, swasta misalnya.

Konon kabarnya, Pemko Padang masih berselera mengelola Stadion ini. Bahkan mereka sudah melayangkan surat permintaan perpanjanagan pengelolaan, plus statusnya ditingkatkan jadi dihibahkan, bukan sekadar dalam bentuk pinjam pakai. Alasanya, jika dihibahkan tentunya pihak Pemko bisa memperbaiki dan melengkapi fasilitas.

Apapun alasannya, yang jelas Stadion tersebut adalah aset terbaik yang dimiliki sepakbola Sumbar, seharusnya jadi Wembley-nya Ranah Minang. Tapi hari ini tak lebih seperti stadion kebanyakan.

Siapapun pihak pengelolanya, harusnya bisa merawat stadion itu sehingga tak lagi bahan olok-olok, disebut stadion seperti kandang ayam oleh orang luar. Sementara pengelola tetap memetik sewa dari siapapun yang berminat memakai stadion itu.

Tak banyak yang diminta para pecandu bola yang rajin mendatangi stadion menyaksikan pertandingan disana, tak lain tak bukan merasa nyaman dan bangga menonton disana. Tak perlu merasa kuping panas dan dada sesak karena dibully penonton luar.

Seandainya Pemko Padang kembali dipercaya mengelola, hala terpenting tentu manajemen pengelolaaannya harus rapi, jelas, transparan, dan yang terpenting ada kemauan untuk merawat dan membuatnya tercelak lagi. Trotoar saja bisa didandani, masa stadion yang jadi landmark kota tidak bisa.(*)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top