Bola

Sosok: Aprisman Aranda, Wasit Termuda Indonesia Berlisensi FIFA

Dibaca : 483

Padang, prokabar – Nama Aprisman Aranda terus melejit sebagai salah satu wasit sepakbola terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Dia satu di antara wasit muda yang terus berkibar di Indonesia. Tentunya ini sebuah nilai lebih bagi sepakbola Sumatra Barat.

Meski masih berusia muda untuk ukuran seorang wasit, Aprisman merupakan pengadil di lapangan hijau yang sudah memiliki lisensi FIFA. Namun begitu, tak mudah baginya, butuh perjuangan dan pengorbanan untuk mencapai level tersebut.

Pria kelahiran Padang Panjang tersebut mengawali kariernya sebagai wasit pada 2006. Ketika itu, dia masih duduk di kelas 2 SMA. Aprisman Aranda terus menekuni bidang pekerjaan sebagai wasit dan akhirnya mendapatkan lisensi nasional pada 2008.

Aprisman mengaku tertarik menjalani karier sebagai seorang wasit karena mengikuti jejak sang ayah. Pria yang kini berusia 30 tahun itu menyebut, ayahnya merupakan wasit nasional yang pernah memimpin sejumlah pertandingan kompetisi di Indonesia.

“Bapak saya dulu adalah wasit nasional, terakhir bertugas di Liga Bank Mandiri tahun 2003. Jadi saya ikut beliau, dari pertandingan ke pertandingan. Mulai dari pertandingan tarkam sampai beliau memimpin pertandingan Liga Bank Mandiri,” jelas Aprisman.

Lelaki, yang juga menyandang gelar adat sebagai penghulu kaumnya di Nagari Paninjauan, X Koto Tanah datar, dengan gelar Datuk Bagindo Pangulu ini mengaku, seolah-olah darah itu (menjadi wasit) terbawa kepada dirinya.

”Untuk mulai menjadi wasit itu saya pada 2006, waktu itu saya masih kelas 2 SMA, dan mendapat lisensi menjadi wasit nasional itu pada 2008,” lanjutnya.

Telah mengantongi lisensi wasit nasional, Aprisman Aranda tak cepat berpuas diri. Dia pun akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar sebagai wasit FIFA pada 2012.

Namun, upaya Aprisman untuk mendapatkan lisensi wasit FIFA tidak mudah. Dia harus mengorbankan pekerjaan di salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia serta harus menunggu sampai delapan tahun, sebelum akhirnya mendapatkan lisensi FIFA pada 2020.

“Perjalanan untuk bisa sampai ke sini butuh perjuangan. Saya pada 2012 sebenarnya sudah mau meninggalkan tugas menjadi wasit, karena saya waktu itu masih menjadi guru honorer, ya tahu sendiri lah berapa gaji guru honorer,” kata Aprisman.

Halaman : 1 2

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top