Oleh : Muthia Azizah Malsi
Mahasiswi Sastra Minangkabau Universitas Andalas
Setiap daerah di Indonesia kaya akan budaya. Mulai dari makanan, tradisi, kepercayaan, bangunan, hingga pakaian. Sumatera Barat juga memiliki salah satu dari sekian pakaian khas yang rancak. Pakaian ini kerap digunakan dalam hampir seluruh upacara adat, terutama kaum wanita.
Songket Pandai Sikek adalah kain khas Minangkabau yang berasal dari daerah Pandai Sikek, Sumatera Barat. Songket dominan ditenun dengan bahan benang berwarna emas dan perak. Untuk motifnya, sangat beragam karena seiring kreatifitas para penenun saat ini.
Namun, ada dua dasar pola motif, yaitu cukie dan sungayang. Songket Pandai Sikek memiliki tiga motif wajib, diantaranya pohon pinang, jalinan lidi, dan biji bayam. Warna dasar dari Songket Pandai Sikek adalah merah, kuning, dan hitam. Warna-warna tersebut tidak hanya sebagai penambah estetika kain, akan tetapi memiliki arti tersendiri.
Tiga warna tersebut melambangkan kaum adat, cendekiawan, dan ulama.
Penenun Songket Pandai Sikek berasal dari seluruh kalangan wanita. Ilmu dalam menenun diwariskan turun temurun dan dijaga hingga saat ini.
Songket Pandai Sikek ditenun dengan cara tradisional, mulai dari pemintalan benang, penenunan, dan dijahit. Proses yang lama inilah yang membuat harga dari kain Songket Pandai Sikek relatif mahal.
Tenunan khas Minangkabau ini adalah seni budaya spesifik di benua Asia. Konon, Songket Pandai Sikek berasal dari daratan negeri Cina sejak 1000 tahun yang lalu. Dalam kisah perjalanan yang panjang, tenun songket juga hadir di Thailand (Negeri Siam), kemudian menyebar ke berbagai daerah di dunia, seperti Selangor, Kelantan, Trengganu, dan Brunei Darussalam.
Songket dikatakan berasal dari India melalui pusat Sumatera di Palembang dan Jambi, menurut penduduk Terengganu. Mereka mengajukan kasus ini berdasarkan fakta bahwa tenun songket dipraktikkan di Sriwijaya, yang secara fisik lebih dekat ke Malaysia daripada Kamboja atau Thailand.
Perkawinan campuran antara bangsawan Malaysia dan Sumatera sering digunakan untuk membentuk hubungan politik. Pengantin Sumatera membawa kain songket mereka ke negara baru mereka, dan nantinya mereka juga sebagai penenun.
Cukie dan sungayang adalah dua motif yang terdapat pada Songket Pandai Sikek. Bagian pinggir kain, bagian kepala kain, badan kain, dan pembatas antara dua motif merupakan tempat penggunaan cukie. Nama cukie diambil dari nama kain kuno yang khusus dipakai saat acara adat. Sungayang, di sisi lain, adalah desain tema yang mencakup seluruh kain songket.
Tiga macam motif diperlukan untuk alasan tradisional dan penggunaan sehari-hari di Songket Pandai Sikek. Motif pohon pinang, motif biji bayam, dan motif anyaman lidi adalah ketiganya. Tema-tema ini memisahkan Songket Pandai Sikek dari Songket lainnya di Minangkabau.
Kain yang menjadi bahan dasar pembuat Songket Pandai Sikek terbagi menjadi dua jenis. Kain pertama dipenuhi dengan motif. Hal ini berdampak pada warna dasarnya yang akan tertimpa, sehingga tidak jelas terlihat. Kain selanjutnya hanya menempatkan motif pada bagian tertentu.
Motifnya disusun menyerupai jejeran bintang. Namun, kain Songket Pandai Sikek mana yang akan digunakan, memilki peran dan waktu tersendiri. Pada acara adat, Songket yang akan digunakan harus berwarna dasar merah dan hitam, dengan motif kuning keemasan. Warna merah untuk wanita dan hitam untuk pria.
Selanjutnya, filosofi warna pada kain tenun Pandai Sikek memilki makna tersndiri. Warna kuning melambangkan keagungan. Warna hitam melambangkan keabadian. Warna merah melambangkan keberanian dan kesanggupan akan cobaan hidup. Jika ketiga warna ini dipaduka, akan melambangkan tiga penguasa dalam masyarakat Minangkabau, yaitu kaum adat (hitam), ulama (kuning), dan cendekiawan (merah).
Metode pakan tambahan digunakan untuk membuat benang emas di Songket Pandai Sikek. Caranya adalah dengan memelintir beberapa helai benang lusi sesuai ukuran motif yang diinginkan. Setelah itu, benang emas disilangkan dengan benang pakan. Tuhuak adalah metode tambahan yang digunakan oleh Songket Pandai Sikek. Songket Pandai Sikek dengan kualitas bervariasi dapat dibuat dengan menggunakan metode ini. Masukkan beberapa helai benang di antara benang lungsi untuk melakukan ini. Jumlah benang pakan antar benang lusi menentukan pengelompokan Tuhuak. Di antara benang lusi, Pandai Sikek biasanya menyisipkan dua, empat, atau enam benang pakan.
Ilmu menenun Songket Pandai Sikek diwariskan oleh para tetua kepada para kaum wanita, karena memang menenun adalah keterampilan para wanita sejak dahulu. Menenun akan diajarkan ketika anak perempuan menginjak umur delapan tahun. Di Pandai Sikek sendiri, keahlian menenun sangat dijaga hingga saat ini. Sehingga, jika anda berkunjung ke Pandai Sikek, anda akan menemui banyak rumah produksi dan kios-kios yang memajang kain Songket Pandai Sikek.
Dengan pewarisan yang masih terjaga ini, budaya Minangkabau tersebut masih memiliki nilai jual disamping baju-baju modern saat ini. Tidak hanya penduduk asli, para wisatawan dan pendatang juga bisa belajar bagaiman menenun ala Songket Pandai Sikek.
Siapa yang akan belajar menenun harus menyiapkan mahar berupa satu gantang beras, uang, pinang, pinang, rangkaian bunga, dan sebatang rokok untuk ahli waris yang akan belajar menenun. Barang-barang yang menjadi syarat tersebut memiliki arti yang tidak semena-mena. Padi melambangkan suatu pekerjaan yang dilakukan dengan baik untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sirih adalah tanda keramahan dan permintaan izin untuk memulai sesuatu dari tuan rumah. Sedangkan uang merepresentasikan kenyataan bahwa suatu tugas akan memberikan hasil sesuai dengan tujuannya.
Kedekatan antara pemberi warisan dan penerus menentukan siapa yang mewarisi pengetahuan tentang cara menenun Songket Pandai Sikek. Jika keduanya tinggal dalam satu rumah, maka harta warisan akan dibagi rata.
Sedangkan jika keduanya tidak bersaudara atau tidak bertempat tinggal dalam satu rumah, maka pewarisan hanya sebatas penciptaan tema. Komunitas Pandai Sikek telah mengubah Songket Pandai Sikek menjadi harta keluarga. Akibatnya, ada larangan proses menenun diturunkan ke komunitas lain.
Orang yang melanggar aturan ini, menurut komunitas Smart Sikek, akan mengalami kerugian dan malapetaka. Tujuan positifnya, agar Songket Pandai Sikek terjaga nilainya dan tidak bisa ditiru oleh pihak lain. (*)
















