Soal Impor Jagung, Eksportir: Biasa saja itu, kok Gaduh?

Penulis -

Sabtu, 10 November 2018 - 17:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Prokabar – Sejumlah eksportir produk hortikultura di Tanah Air, angkat bicara soal rencana Kementan akan melakukan impor jagung. Mereka menilai, langkah Mentan sudah tepat sebagai alat kontrol dan stabilitas harga.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan, kebijakan impor jagung yang dilakukan pemerintah di tengah surplus komoditas pangan itu.

Impor yang akan dibuka hanya berkisar 50 ribu ton hingga 100 ribu ton, atau jauh lebih sedikit dibandingkan dengan 2014 hingga 2016.

“Kalau dibandingkan 2014, angka impor jagung malah hampir 4 jutaan ton dalam setahun. Sampai Rp10 triliun itu,” kata Muhammad Bayu Vesky, eksportir hortikuktura jenis manggis, dalam sebuah diskusi, Sabtu (10/11)

Angka impor jagung sendiri, sejatinya terus menurun di era kepemimpinan Presiden Jokowi dan Mentan Andi Amran Sulaiman.
Pada 2015, Pemerintah membuka keran impor jagung namun dengan volume berkurang menjadi 2 juta ton.

Baca Juga :  ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Lalu, penurunan volume impor kembali berkurang pada 2016 di mana hanya menjadi 900 ribu ton. “Pada 2017, Pemerintah sudah stop impor. Tahun 2018, malah Indonesia ekspor jagung 370 ribu ton,” urai Muhammad Bayu Vesky.

Dia heran, kadang publik mau ribut begitu kran impor produk jagung dibuka walau hitungan sedikit. Sementara, saat keberhasilan Pemerintah melakukan ekspor, ini kerap didiam diamkan.

“Harusnya objektif saja, kinerja Mentan yang bersih, anti korupsi, banjir prestasi dan membuka sederet kran ekspor produk horti, seakan akan dilupakan begitu saja saat ada rencana impor jagung yang hitungannya juga tidak banyak,” sebut Muhammad Bayu Vesky, Direktur Kerjasama Antar Lembaga PT Bumi Alam Sumatera.

Sebelumnya, Menteri Amran menyinggung munculnya pertanyaan mengapa harus impor jagung 50-100 ribu ton, jika Indonesia bisa ekspor dan produksi jagung masih dinyatakan surplus 13 juta ton.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

“Artinya masih surplus kan. Masih berprestasi petani kita, tolong hargai petani Indonesia. Kalau tidak mau hargai saya, enggak masalah. Itu saudara kita sendiri yang berproduksi,” katanya.

Ia juga menyampaikan, impor 50 ribu ton tersebut juga tak ada artinya. Menurutnya, impor jagung yang dilakukan sebagai alat kontrol dan stabilitas harga. Nantinya jagung impor ini akan disimpan di Bulog jika harga jagung turun.

“Nah 50 ribu ton ini tidak ada artinya sangat kecil dan ini sebagai alat kontrol saja. Nanti petani jagung marah lagi. Itu nanti disimpan Bulog. Kalau harga turun ini tidak akan keluar. Dan sebentar kita panen raya lagi. Ini sebagai kontrol saja,” katanya.

Ia pun menjelaskan, kebijakan impor ini untuk melindungi para peternak. Sebab, para pengusaha besar yang seharusnya mengimpor 200 ribu gandum untuk pakan ternak tak terealisasikan karena harga dolar yang naik.

Baca Juga :  ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Dengan tak adanya impor gandum untuk pakan ternak, maka para pengusaha ini menyerap jagung para peternak kecil yang membuat mereka  tak kebagian jagung untuk pakan ternak.

“Peternak kita hanya bisa menggunakan jagung tapi peternak besar di mix gandum pakan ternak dan jagung. Ada 200 ribu tapi tidak dilakukan impor gandum. Kemudian peternak kecil turun, kami turun apa yang terjadi sedangkan kita hitung ini lebih. Ternyata ada 200 ribu ton tidak direalisasikan dan kita tidak ingin peternak kecil ini menderita. Ini membeli pakan yang mahal,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengatakan harga jagung saat ini memang tergolong mahal. Impor diperlukan untuk menurunkan harga jagung ke level Rp4.000/kg. Adapun pantauan Satgas Pangan, harga jagung di pasar bisa mencapai Rp5.200-5.300/kg. (vbm)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo
ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia
Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI
Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok
Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut
Jelang Muktamar Muhammadiyah, 10 PWM Sepakati Risalah Bukitinggi
Rahmat Saleh Dorong Keterbukaan Tata Niaga Impor Gula
ADPI Sukses Launching IADP melalui Technical Guidance Book Chapter Writing – Springer.

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:39 WIB

ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Rabu, 30 September 2026 - 17:37 WIB

Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI

Rabu, 23 September 2026 - 10:46 WIB

Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok

Selasa, 22 September 2026 - 12:04 WIB

Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB