Jakarta, Prokabar.com– Jawa Timur harus siap siaga bencana, begitu kata Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Penelitian dan pemodelan BMKG menyebut Jawa Timur menyimpan potensi gempa yang cukup besar
Namun, BMKG belum bisa memastikan kapan bencana gempa itu akan terjadi.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut skenario terburuk gempabumi di Jawa Timur mencapai M 8,7 dengan potensi tsunami 30 meter di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Dwikorita mengimbau, pemerintah daerah Jawa Timur untuk segera melakukan mitigasi bencana.
“Kami melakukan evaluasi di beberapa klaster wilayah Indonesia yang mengalami peningkatan gempa.”
“Di klaster Jawa Timur ada di lepas pantai selatan Jawa Timur dan Selatan Selat Sunda, Selatan Jawa Barat.”
“Selain itu uga di Selatan Jawa Tengah serta sebelah barat Kepulauan Mentawai yang berdampak ke Sumatera Barat,” kata Dwikora saat Wibinar Kajian dan Mitigasi Gempabumi dan Tsunami di Jawa Timur, Jumat (28/5/2021).
Baca Juga:
Di XL Axiata, Rekrutmen dan Peningkatan Kompetensi Karyawan Tanpa Batasan Gender
Progres Manunggal BBGRM Di Lubuk Lintah Lebihi Target
Permudah Penyidikan, Supir Bus Maut yang menewaskan Tiga Orang Penumpang Ditahan Polisi
Gempa di Jawa Timur
Gempabumi di Jawa Timur selama sebulan, rata-rata terjadi 300 sampai 400 kali.
Sejak Januari 2021, jumlah gempabumi di Jawa Timur meningkat rata-rata 600 kali sebulan.
Pada penelusuran pantai mulai dari Jawa Timur sampai Selat Sunda catatan sejarah gempa sebesar M 7,0.
Skenario terburuk dari catatan tersebut kekuatan gempa yang akan datang bisa mencapai M 8,7 dan bisa membangkitkan tsunami.
“Makanya yang kami cek adalah kesiapan aparat setempat dan pemerintah daerah serta sarana prasarana evakuasi jika terjadi tsunami.”
“Itulah yang kami sampaikan dari kajian dan survei kami,” lanjut Dwikorita.
Skenario terburuk ini dari sekian ratus kali gempabumi, kata Dwikorita, ada zona yang kosong alias seismic gap.
Zona kosong inilah yang memunculkan kekhawatiran gempa berskala besar lantaran belum melepaskan energi sebagai gempa.
“Kita ambil magnitudo tertinggi ini juga dari kajian Pusat Studi Gempa Nasional kemungkinan M 8,7.”
“Itulah yag menjadi dasar skenario terjadinya tsunami,” katanya lagi.
Tapi, Dwikorita tidak bisa memastikan kapan terjadinya, berapa jarak masuknya, sehingga mengharuskan BMKG melakukan pemetaan bahaya tsunami.
Sejarah Gempabumi dan Tsunami di Jawa Timur
Sejak tahun 1936 hingga 1972 ada sembilan kejadian gempabumi yang merusak dengan intensitas guncangan mencapai VII.
“Kalau masa lalu sudah pernah terjadi, kemungkinan juga bisa terjadi di masa depan,” ungkap Dwikorita.
Di Jawa Timur ada patahan aktif seperti Kendeng, Pasuruan.
Pemerintah daerah di wilayah ini perlu mewaspadai Probolinggo yang masuk RMKS (Rembang, Madura, Kedaeng dan Sakala)
Baca Juga Milenialisme.com
Syarat dan Klarifikasi BKN soal Pendaftaran CPNS 2021
Cyber PR Penunjang Ritel Modern Daya Mart Kota Padang
Cyber PR dalam Komodifikasi Pesan Media
Selain gempa, Jawa Timur juga pernah terjadi tsunami sebanyak enak lai.
Terakir pada 2 Juni 1994 di pesisir Pantai Selatan Jawa Timur, termasuk Banyuwangi.
Berdasarkan simulasi dan pemodelan BMKG yang sistematis perihal potensi tsunami, tinggi maksimum terjadi di Kabupaten Trenggalek dengan 26 sampai 29 meter. Kecepatan tiba tercepatan di Kabupaten Blitar selama 20-24 menit.
Berikut rincian daerah dan potensi ketinggian tsunami:
- Pantai Popoh Tulung Agung 30 maksimum 30 meter.
- Teluk Sumbreng Trenggalek maksimum 22 meter.
- Pantai Munca Banyuwangi maksimum 18 meter.
- Pancer Banyuwagi 12 meter.
- Teluk Pacitan 22 meter.
- Pasirian Lumajang 18 meter.
- Tempursari Lumajang 18 meter.
















