Daerah

Serai Wangi, Sekali Tanam Untung Berlipat Ganda

Tanah Datar, Pokabar — Budi daya serai wangi mungkin bisa menjadi pilihan bagi anda yang berencana untuk mengolah lahan kosong menjadi lahan produktif. Selain harga minyaknya yang tergolong cukup mahal perkilogramnya, proses pembudidayaan tanaman dengan nama ilmiah cymbopogon nardus ini juga tidak terlalu rumit dan mengeluarkan modal yang banyak.

Biaya penanaman maupun biaya perawatan juga sangat terjangkau. Panen perdana dapat dilakukan pada umur enam bulan dan rata-rata per tahun bisa dilakukan empat kali atau per-tiga bulan panen. Dalam kurun waktu lima tahun, petani juga tidak perlu menanaman bibit baru. Bahkan bila dirawat dengan baik, serai wangi produktif hingga 10 tahun.

Kini, di kabupaten Tanah Datar, sebagian petani mulai menggeluti usaha ini. Tidak hanya menanam, para petani juga secara lansung melakukan penyulingan daun serai menjadi minyak atsiri yang sangat baik.

Afrinal, seorang petani serai wangi Di kecamatan Rambatan mengatakan jika dalam satu hari ia mampu menghasilkan minyak atsiri sebanyak 6 kilogram. Bahan baku untuk menghasilkan minyak sebanyak angka tersebut dibutuhkan 700 sampai 800 kilogram bahan baku serai wangi. Jumlah tersebut sesuai dengan kapasitas alat suling yang ia miliki.

Ia mengatakan, untuk mendapatkan minyak atsiri dibutuhkan waktu yang cukup lama, yaitunya 7 hingga 8 jam. Hal terpenting yang perlu diperhatikan selama proses penyulingan berlansung, yakninya menjaga suhu panas pada tungku penyulingan. Ia menambahkan, untuk membangun alat penyulingan, ia dahulunya harus mengeluarkan kocek hingga 60 juta rupiah hingga bisa beroperasi.

Saat ditemui dilokasi penyulingan, Afrinal juga menjelaskan bagaimana proses penyulingan yang ia lakukan, hingga mendapatkan minyak atsiri yang kita sebagai komoditi ekspor ke negara eropa tersebut.

“ Bahan baku kita masukkan kedalam tabung, dibawah tabung tersebut berisikan air yang dipanaskan, dimana fungsinya untuk mendapatkan atau menyangrai daun serai wangi tersebut. Uap dari daun serai akan keluar melalui pipa diatas puncak tabung dan mengalir ke bak penampungan atau bak pendingin. Dari bak pendingin tersebut akan kembali melalui proses pemisahan antara air dan minyak,” ungkap Afrinal yang juga pensiunan pegawai negeri sipil dilingkungan pemkab Tanah Datar itu.

Selain mengolah hasil ladang sendiri, petani serai yang satu ini juga menerima pengolahan serai menjadi minyak dari para petani lain yang datang dari berbagai kecamatan di kabupaten Tanah Datar. untuk bisa menyuling serai, para petani cukup dikenakan biaya 300 ribu rupiah atau setara dengan satu kilogram harga minyak serai wangi dipasaran.

“ kita hanya mengambil upah, dan biaya kayu perapian. Untuk 8 jam penyulingan kayu yang dihabiskan setara deengan harga 100 ribu rupiah,” katanya.

Afrinal menjelaskan, jika dalam kondisi normal 1 kilogram minyak serai wangi bisa dijual seharga 300 – 340 ribu rupiah. Namun sayang, kondisi saat ini harga minyak yang menjadi komoditi ekspor iitu dalam kondisi turun, dimana 1 kilogram hanya dibandrol seharga 210 hingga 240 ribu rupiah perkilogramnya.

“meski murah, kita tetap produksi, hasil produksi kita simpan dulu, sampai harga minyak atsiri kembali normal,” tutupnya. (eym)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top