Pasaman, Prokabar — Peredaran narkoba memang momok yang tak ada habis-habisnya di Sumatera Barat. Terutama narkoba jenis ganja. Bila sudah berbicara ganja, tidak bisa terlepas dari Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara dan Pasaman.
Dua daerah ini sering menyatu dalam pengungkapan kasus peredaran narkoba. Mandailing Natal sebagai daerah asal narkoba yang masuk ke Sumatera Barat dan Pasaman sebagai daerah yang menjadi batu sandungan bagi pengedar atau kurir hingga berakhir di balik jeruji tahanan.
Kapolres Pasaman, AKBP Hendri Yahya mengatakan, Pasaman memang menjadi perlintasan masuk narkoba dari provinsi tetangga. Kesiapsiagaan penuh adalah harga mati setiap harinya bagi anggota Polres Pasaman. Sedikit saja lengah, tidak terbayang berapa besar ganja masuk ke wilayah Sumatera Barat.
“Baru-baru ini kami mengamankan 61 kilogram ganja, sebelumnya juga ada, puluhan kilo juga banyaknya. Kalau sudah dari Mandailing Natal, tangkapan kami pasti paling sedikit 10 kilogram,” kata AKBP Hendri berbagi kisah perihal pencegahan ganja di wilayah hukum Pasaman, Kamis (20/2).
Diakui AKBP Hendri, meski daerah asal ganja yang masuk ke Pasaman jelas (Mandailing Natal), namun pengungkapan tokoh pemasok atau bandar di daerah itu cukup sulit.
Ini dikarenakan rantai komunikasi kerap terputus antara pemesan atau kurir dengan bandar.
“Bila ada tangkapan, siapa bandarnya, kerap tidak terungkap. Ini dikarenakan, pemesan dalam menjalankan aksinya menggunakan jasa kurir. Kurir ini, pada umunya tidak tahu dengan bandar. Lantaran, mereka hanya sebagai penjemput ganja. Semua dikendalikan lewat komunikasi di HP. Bahkan, kalau kurir ini tertangkap, kami hanya bisa mengejar siapa tukang pesan. Itupun sering terhenti, bila si pemesan mengetahui kurirnya tertangkap,” jelas AKBP Hendri.
Diakui AKBP Hendri, sejauh ini pihaknya telah bekerjasama dengan Polda Sumbar dan Polda Sumatera Utara untuk pencegahan dan penanganan peredaran narkoba ke wilayah Sumatera Barat.
“Sudah banyak koordinasi yang kami lakukan. Namun, memang susah untuk mencari dimana bandar dan ladang-ladang ganja ini di Mandailing Natal atau daerah lainnya di Sumatera Utara,” kata AKBP Hendri.
Meski susah mengungkap bandar, AKBP Hendri mengaku tidak memberi ruang bagi kurir yang membawa ganja dari Sumatera Utara ke Sumbar. Berkat relasi informasi dari masyarakat, banyak pelaku peredaran ganja yang berakhir di tahanan.
“Rata-rata pelaku semuanya orang di luar Pasaman. Untuk itu, kami tekankan jangan coba-coba mengedarkan ganja atau bawa ganja di Pasaman. Insyallah kami mengetahuinya dan bakal melakukan penindakan,” tukas AKBP Hendri. (Ola)
















