Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Selamat Hari Raya, Kita di Rumah Saja

Dibaca : 285

Padang, Prokabar — Sayup terdengar suara takbir, seperti suara yang datang dari masa kanak-kanak. Duduk terhenyak, mamandang keluar, ketika negeri sudah disungkup gelap. Tak ada suara lengking anak-anak dan kaki kecil mereka berlarian di jalan depan rumah. Tak ada. Yang ada hanyalah, suara televisi. Negeri sudah berubah, kawan.

Serasa ngilu menikam ulu hati ketika kita ngilu-ngilu asam melihat keadaan yang senyap oleh corona. Lebaran hebat sepanjang usia, tersungkur pada 2020 ini. Hidup harus terus berjalan, walau hari raya ini, tak ada pakaian baru untuk ke lapangan Shalat Id, tak ada lagi keluh-kesah dalam hati karena sebelum shalat banyak benar sambutan. Tak ada marah dalam hati, karena kutbah panjang benar.

Begitulah senja jatuh menimpa sore. Siang masuk pada malam dan malam tak mungkin mendahului siang, ketika itulah suara azan Magrib Sabtu (23/5) berkumandang, selesai sudah berpuasa. Magrib datang lalu gelap menyertainya. Ada yang terasa sempit, sesempit pikiran atau lebar, selebar lebaran. Betapa meriahnya kiriman-kiriman WA, seperti juga tahun lalu. Ada di antara saudara kita yang telah pergi, tak tahu ada corona dan lebaran tahun ini, menikam ulu hati. Ia sudah tenang di alam sana. Ada yang baru lahir dan berusia beberapa bulan, belum mengerti lebaran, tapi ia bagian dari siksa alam yang dahsyat ini: corona.

Sejarah tak selalu linier, kini masuk ke tikungan tajam, tak ada kue lebaran tak ada tamu. Sebagian ada yang terkepung, berpisah suami istri, mereka didera rasa sakit yang amat sangat. Masih beruntung, ketimbang saudara-saudara kita yang masih di rumah sakit, dirawat dan merawat. Beruntung, karena ada yang wafat dijemput wabah corona. Lebaran tahun ini, pertama dalam sejarah hidup manusia yang hidup sekarang.

Lebaran adalah keriduan pada kampung halaman, kini di rumah saja, semewah atau seserhana apapun rumah itu. Ada juga yang tak berubah, tetap saja berlebaran di kampung halaman, karena rindu menikam kuduk, tak tentu yang akan disebut, kalau tak pulang.

Jika soal cinta, masa remaja yang terindah, maka lebaran, masa kanak-kanak yang tak terlupakan.Warisan keriduan masa kanak-kanak itulah yang menyerat langkah pulang kampung. Hal serupalah yang menyebabkan anak-anak masa kini menikmati lebarannya, karena orang tua mereka semua, ingat akan masa lalu.

Kala kecil saya mandi lebih awal, berpakaian terbaik dan mengiringi kakek ke masjid sembari sepanjang jalan bersalaman-salaman. Makin lama yang berjalan bersama kakek kian banyak saja, semua mengumandangkan takbir. Kakek saya berjubah, bersurban, mengomandoi bacaan syahdu itu. Saya ikuti saja walau tak pernah bisa fasih. Selepas dari masjid, kami kanak-kanak akan tenggelam pada dunia kami, yang sangat meriah itu. Jika sudah batuk, maka pertanda lebaran sudah selesai.

Lebaran kini

—————————————

Lebaran kini adalah lebaran juga, namun tidak meriah. Sejak Maret lalu, rakyat Indonesia dikurung dirinya sendiri dalam dirinya. Tarang jalan ka dapua, samak jalan ka halaman, bagi yang bisa, tidak bagi yang harus mencari nafkah. Diseret juga badan diri keluar, demi sesuap nasi, menyelinap dalam kelompok ini, mereka yang sebenarnya tak perlu, tapi pergi juga.

Itulah susana batin dalam wabah corona. Batin yang ngilu, tapi hati ngilu-ngilu asam melihat keadaan, melihat video orang-orang yang terkapar di pinggir jalan, melihat angka-angka kematian yang tinggi. Hati jadi marah membaca yang salah, tak peduli hoaks atau informasi akurat.

Lebaran kini adalah lebaran sepi, sesepi hati, sesepi kampung, sesenyap masa depan yang tak jelas, ketika dunia mulai berubah. Tatkala takdir dialihkan Allah ke takdir yang lain. Rasa sepi itu dimulai ketika sura azan Magrib berkumandang, lalu berbuka, lalu terdengar sayup suara takbir, seperti datang dari masa silam nan jauh.

Masa silam sebagian besar kita adalah desa, dengan jalan setapak yang kita hapal, sehitam apapun malam, takkan pernah tersesat. Itu doeloe. Kini? Tak tentu yang akan disebut, disebut jugalah. Lebaran kini sempit, sesempit pikiran dan lebar selebar pikiran juga. Anda yang mana?

Banyak kata banyak salah, banyak salah, banyak dosa, maaf lahir batin.

(Khairul Jasmi)

 


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top