Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Sekda Agam: Bangsa Besar itu yang Menghargai Jasa Para Pahlawannya

Dibaca : 186

Agam, Prokabar —Focus Group Discussion atau FGD Rumah Kelahiran Buya Hamka memantik jiwa undangan yang mengikuti kegiatan itu, Kamis (27/8). Sekitar 50 orang lebih peserta dari pengawas sekolah, guru pendidik, pengelola cagar budaya dan Komunitas Pemuda terhening senyap setelah Sekda Kabupaten Agam, Martias Wanto dan seluruh pemateri menyentakan sikap abai yang tengah berlangsung.

“Kita Kabupaten Agam adalah bangsa besar. Hampir 80 persen di Sumatra Barat dan Nasional, melahirkan Tokoh Pejuang Nasional. Buya Hamka, Hatta, M. Natsir, Agus Salim, Rasuna Saat, Rohana Kudus dan seterusnya. Dan kita tidak boleh evoria dengan kehebatan orang tua kita ini. Kita harus melanjutkan perjuangannya dengan terus menggiring generasi penerus kepada nilai-nilai kepahlawan, kesatria dan ketulusan pejuang kita itu,” tegasnya.

Buya Hamka lahir di Sungai Batang. Kampung kecil dan sangat jauh dari perkiraan banyak. “Bagaimana beliau bisa hebat hingga harum sampai saat ini, itu sebenarnya yang patut kita ketahui dan beritahu anak-anak,” ajaknya lagi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam, Isra mengatakan untuk menindalanjuti FGD Rumah Kelahiran Buya Hamka dilaksanakan Hotel Nuansa Maninjau ini, telah diambil kebijakan. “Seluruh sekolah se-kabupaten Agam wajib mengunjungi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka dua kali dalam setahun. Atau satu kali dalam semester. Dan surat edaran telah dibagikan ke setiap sekolah.

“Kita termotivasi atas gerakan pemuda berkat dorongan Camat Tanjung Raya, Handria Asmi. Membentuk Komunitas Pemuda Generasi Hamka, membantu pengelolaan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka beserta pergerakan-pergerakan di sekitar Museum. Ini tampak jelas membantu kami,” tutur Isra.

Kadisdikbud Kabupaten Agam ini juga menambahkan MOU dengan seluruh sekolah dan Fakultas Ilmu Budaya sebagai akademisi paling perhatian terhadap Buya Hamka ini juga direalisasikan secepatnya. “Ini peluang besar yang harus kita segerakan. Meningkatkan kecintaan kita dan generasi kita kepada Ulama Besar Buya Hamka kita,” imbuhnya.

Camat Tanjung Raya, Handria Asmi tidak mau kalah. Selaku narasumber membeberkan keprihatinannya, minimnya perhatian semua pihak terhadap sosok dan perjuangan Pahlawan Nasional tersebut. Parahnya, bahkan di Kampung Halamannya sendiri.

Memperlihatkan sejumlah media nasional asal Malaysia yang terus menunjukan kecintaannya terhadap Buya Hamka. Menunjukan kekompakan semua lini, tua dan muda, pejabat maupun masyarakat kecil sangat peka terhadap nama besar Buya Hamka.

“Bapak-bapak, Ibuk-ibuk, sama meminta maaf.
Melihat baju merah-merah yang duduk di belakang itu. Teman-teman, mohon berdiri! Lihatlah mereka! Mereka telah melakukan pergerakan yang sangat masif dan agresif beberapa tahun ini. Komunitas Pemuda Generasi Hamka baru saja terbentuk dan melakukan berbagai aksi membanggakan. Hanya modal tekat dan kuat, bahkan nol anggaran mampu menggelar gerakan yang sudah kita lihat sebelumya. Ini adalah tamparan keras kepada kita semua. Kita dari Instansi yang memiliki milyaran anggaran, apa yang telah kita lakukan?,” tuturnya.

Dalam hal ini kita coba bertanya kepada diri kita masing-masing, sudahkah kita membawa dan mengajarkan nilai-nilai yang terdapat dalam Kepahlawanan Buya Hamka? Sejauhmana kita mengenal dan memahami perjuangannya?

Handria melanjutkan, yang kita butuhkan rasa peduli kita. “Dimulai dari diri kita, kepada anak kandung kita. Kepada anak-anak didik kita. Dilingkungan kita semua. Ajak dan bawa mereka ke tempat dimana ada sumber ilmu pengetahuan perjuangan pahlawan kita ini. Ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka,” pintanya.

Siapa berbuat apa dan bagaimana kedepannya? Dan bagaimana seharusnya? Kita butuh kerjasama dan kolaborasi. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. “Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Kecamatan, Walinagari Wali Jorong beserta seluruh sekolah harus peduli dan kerjasama,” terang Camat Tanjung Raya, Handria Asmi.

Sementara itu, Dr. Pramono, selaku narasumber dan akademisi Fakultas Ilmu Budaya Unand, membenarkan paparan Camat Tanjung Raya, Handria Asmi tersebut. Harus bersama menggiatkan menanamkan nilai-nilai kepahlawanan dan semangat patriot kepada diri kita dan generasi penerus.

“Buya Hamka ini lahir diantara dua zaman penyiaran Islam reformis dengan kaum tua. Kita sama-sama tau ayah Buya Hamka adalah Dr. Andil Karim Amrulah atau lebih dikenal Nyiak Rasul. Sementara kakeknya, Syekh Amrullah dengan amalan Tarikat Syatariah. Dua tokoh ulama besar di Sumatra Barat dengan beragam perbedaan,” jelas Dr. Pramono.

Proses lahirnya sebuah tokoh itulah yang sangat penting dipahami untuk bisa melahirkan seorang tokoh besar dimasa akan datang. Tidak serta merta lahir dengan sendiri begitu saja tentunya. “Kita di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas sangat berbangga dan senang sekali, bisa diikutsertakan menjadi bagian pergerakan Sejarah Buya Hamka ini. Berlanjut dengan intensitas kolaborasi akademisi maupun praktisi pengembangan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka kedepannya,” pungkas Dr. Pramono. (rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top