Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Sejarah Singkat Kampung Panji Kubu Gadang, Dan Peluang Jalur Alternatif Kelok 44

Dibaca : 558

Maninjau, Prokabar — Panji Kubu Gadang, sebuah perkampungan terpencil Di atas bukit Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya. Dahulunya sempat jaya dan paling ramai dihuni penduduk, bahkan pernah ada Sekolah Dasar dan Sekolah Tenun Pertama di Kenagarian Maninjau di Kabupaten Agam.

Tanah yang subur dengan kesejukan udara, memberi keberkahan tersendiri dari masyarakatnya. Sehingga potensi pertanian, peternakan dan pariwisata sangat bisa diandalkan.

Awal kisah, sekitar Tahun 1940-an, salah satu perkampungan yang cukup favorit. Merupakan hasil “Manaruko” atau pembukaan lahan dan pemukiman baru dari masyarakat Matur, Ampek Koto, Banuhampu dulunya. Sekitar tahun 1970-an, pemukiman itu sangat ramai dan mulai lahir Sekolah Dasar dan Sekolah Tenun di sana. Masa puncak kejayaannya itu diiringi hasil alam yang merimpah ruah. Padi, cengkeh dan pala salah satu pertanian yang sangat menjanjikan pada saat itu. Harganya cukup mahal dan sangat mensejahterakan masyarakat, umumnya di Selingkar Danau Maninjau.

Pasar Tradisional Maninjau pun pertama kali berada di bawah kaki bukit, berdekatan dengan Masjid Ummi Qura pertama kali di bangun. Perbatasan antara Jorong Kukuban dengan Bancah. (Kini, Pasar Maninjau terletak di Simpang Empat Jalur Lintas Manggopoh-Padang Lua. Dan Masjid Ummi Qura telah berpindah letak posisi ke tiga saat ini, arah ke tepi Danau Maninjau).

Namun bencana besar datang. Galodo atau longsor sempat melanda daerah tersebut. Kejadian diperkirakan tahun 1979 hingga 1980. Membuat pengungsian besar-besaran sempat berlangsung pada masyarakat Maninjau.

Bahkan pada saat itu Pemerintah Kabupaten Agam (Bupati Ahmad Syahdid), Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Gubernur Azwar Anas) dan Pemerintah Pusat (Presiden Suharto) memberi kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan transmigrasi ke Dharmasraya dan Pasaman Barat. Sehingga banyaklah masyarakat Maninjau pada saat itu menjadi transmigran dan mendapatkan lahan baru yang cukup luas di daerah baru itu.

Berlahan, jumlah penduduk Panji Kubu Gadang mulai mengungsi, seiring sulitnya air bersih akibat bencana longsor yang terjadi. Bahkan sempat menjadi kampung mati atau kampung tinggal karena tidak ada lagi masyarakat menetap di sana. Kecuali sekelompok masyatakat yang berusaha mempertahankan lahan pertaniannya dengan bertanam.

Sejak saat itu pula, Pasar Kenagarian Maninjau mulai berpindah tempat ke lokasi saat ini. Sekolah Dasar yang sempat ada di sana, pindah ke Jorong Kukuban dan Bancah. Masjid Tertua pun ketiga kalinya berpindah lebih menjorok ke tepian Danau Maninjau(Sumber: Z.Datuak Putiah). Model bangunan terbuat dari kayu mulai sempat diperbaiki dibangun semen, bata dan kapur putih (tahun 1907).

Kebangkitan Panji Kubu Gadang Terlihat Terang.

Cahaya terang itu lahir setelah keberadaan Pondok Pesantren Profesor Doktor Buya Hamka pindah ke perbukitan, berada dekat dengan Perkampungan Panji Kubu Gadang. Aliran listrik mulai masuk dan saluran air bersih dibangun. Kondisi itu membahagiakan masyarakat setempat yang berada di Jorong Bancah, Kukuban dan Kubu Baru.

Peran aktif dari Walinagari Maninjau, Alfian beserta jajaran perangkat nagari beserta seluruh Tokoh Masyarakat Maninjau lainnya itu, tidak dapat dilupakan begitu saja. Mulai perjuangannya agar Pondok Pesantren Profesor Doktor Buya Hamka pindah ke lokasi hingga saat ini, masuknya arus listrik ke perkampungan hingga mulai kembali akses jalan dan sebagainya.

Membuat perantau asal Panji Kubu Gadang itu tersentak sadar dan bangkit. Kampung kelahiran dan asal usulnya sudah bersinar kembali memiliki harapan besar untuk bangkit.

Dari tahun ke tahun, sepinya perkampungan mulai hidup dihiasi tanaman dan perkebunan. Beberapa rumah mulai di huni, bahkan suatu tua di Panji mulai berkumandang azan. Imam Sampono dan M. Imam Batuah beserta tokoh masyarakat lainnya terus bergiat, membangkitkan semangat membangun kampung halamanya kembali.

Hingga ide pembangunan akses jalan Maninjau menembus ke Padang Gelanggang, Matua Mudiak, Kecamatan Matur dimulai. Ranah dan Rantau mulai bersatu. Membuat sebuah group what’s App salah, satu aplikasi perangkat lunak Android, penjalin komunikasi dan jalinan hati. Memperdekat komunikasi meski berjauhan dari pulau ke pulau. Meski dari provinsi ke provinsi, akan tetapi mampu mempercepat penyelesaian masalah dan penuntasan gagasan. Itulah hakikinya silahturahim kembali terjalin. Bersatu untuk misi bersama yang lebih besar.

Ratusan juta sudah mulai dihimpun dan dilontorkan untuk pembangunan akses jalan tersebut. Melintasi perkampungan Kubu 8, Kubu 9, dan Kubu 10 yang pernah ada sejak dulunya di perbukitan sana (Sumber: Imam Sampono). Sehingga tidak terlalu menyulitkan pembangunan beserta izin dari pihak berkepentingan. Dalam hal itu, peran aktif Walinagari Maninjau, Camat Tanjung Raya, dan jajarannya patut diapresiasi, karena menganggarkan Dana Desanya untuk akses tersebut.

Potensi Jalur Alternatif Kelok 44, Membantu Pemerintah Daerah dan Masyarakat dalam Sarana Transportasi serta Pengembangan Pariwisata Nasional.

Pembangunan akses jalan Padang Gelanggang menuju Panji Kubu Gadang ini, sesungguhnya salah satu solusi cerdas dalam penuntasan persoalan yang selama ini terjadi. Saat ini, Kelok 44 adalah merupakan jalur paling rawan longsor dan amblas. Sementara, kebutuhan sarana jalan itu sangat viral dan urgen.

Merupakan jalur Padang Lua ke Manggopoh, menghubungkan dua jalan Nasional Padang-Pasaman Barat dan Padang-Bukittinggi. Kelok 44 merupakan jalan Haritage (warisan) pejuang kemerdekaan dan nenek moyang terdahulu, patut dilestarikan dipelihara.

Elviroza Datuak Batuah, salah seorang Tokoh Perantau Maninjau sekaligus Dirjen Kementerian PUPR yang bertugas di Aceh saat ini menjelaskan Jalan simpang Padang lua-Manggopoh memiliki posisi strategis Nasional. Karena aset penting transpotasi pariwisata nasional Danau Maninjau ke Bukittinggi.

Jalan penghubung antara dua jalur jalan Nasional Utama di Sumatra Barat di pulau Sumatera. Jalan lintas tengah dan jalan lintas Barat Sumatera sebagai jalur logistik utama di Sumatra. Merupakan jalan nasional ke Ibukota Kabupaten Agam, Lubuk Basung yang satu-satunya ibukota belum dilewati jalan nasional.

Beliau menambahkan kondisinya saat ini tidak sesuai dengan standar jalan untuk jalur logistik. Tidak bisa dilewati untuk angkutan berat atau trailler, sehingga produksi Agam khususnya Agam Barat kesulitan dipasarkan ke luar Provinsi Riau jambi dan sebagainya. untuk perbaikan geometriknya butuh anggaran yang cukup besar. Tidak sanggup dengan APBD Provinsi Sumatra Barat kecuali dengan APBN.

Sementara itu, Bupati Agam, Indra Catri bersama Wakilnya, Trinda Farhan telah berupaya dan terus berusaha memperjuangkan Kelok 44 dan Jalur Simpang Padang Lua ke Simpang Manggopoh mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dan Pemerintah Pusat.

Bahkan mengusulkan adanya jalur alternatif yang lebih efektif, efisien, aman dan cepat dilalui masyarakat. Sehingga pengendara atau pengguna jalan tidak terfokus melintasi Kelok 44. Kondisi saat ini juga sudah banyak pula yang rusak.

Terbukanya pembukaan akses jalan baru, Padang Gelanggang menuju Panji Kubu Gadang adalah salah satu peluang yang sangat baik. Masyarakat dan perantau sudah merintis dengan swadayanya. Kini bagaimana Pemerintah Daerah menyikapi peluang tersebut.

Masyarakat Maninjau dan Sungai Batang, umumnya Agam Barat pasti senang jika ada akses baru yang lebih mudah dan aman dilalui. Lebih dekat dari kelok 44.

Peluang bangkitnya kejayaan Pariwisata Danau Maninjau pun terbuka lebar. Termasuk peluang pembukaan lahan pertanian yang telah pernah ada sejak dulunya. Membantu peralihan ekonomi masyarakat danau ke sektor pertanian dan pariwisata. Mengurangi dampak pencemaran air danau dari sektor perikanan atau pakan ikan yang berlebihan.

Selain Jalur alternatif Kelok 44 di Padang Gelanggang-Panji Kubu Gadang, juga ada jalur lainnya. Seperti Puncak Lawang-Puncak Sakura-Duo Koto dan Malalak Utara-Sungai Batang.

(R. Rajo Intan/Wartawan Muda)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top