Sejarah Panji Kubu Gadang, Kampung Tertua Di Maninjau

Penulis -

Kamis, 27 Mei 2021 - 09:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Prokabar — Sebuah Pantun Dr. Haji Abdul Karim Amrullah (Inyiak Rasul/ HAKA) memperkenalkan kampung tua Maninjau ini,

“Lenggek balenggek Surau Panji,
Tampak nan dari Kubu Gadang.
Lah dapek untuak pagi,
Kito cari pulo untuak patang.” (Inyiak DR/ Penuturan dari Muslim Sutan Sinaro).

Begitu sangat populernya dua kampung perbukitan itu di masa dulunya. Hingga Abdul Karim Amrullah atau dikenal Inyiak Rasul, Tokoh Ulama Pembaharuan di Minangkabau, Ayah Kandung Buya Hamka itu, memahami betul perkampungan tersebut.

Panji dan Kubu Gadang merupakan dua perkampungan tertua dan pertama ditempati di Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Sebelum adanya Jorong Bancah, Kukuban, Kubu Baru dan Gasang yang berada di tepian Danau Maninjau, Pemukiman Panji dan Kubu Gadang lebih dahulu ada dan cukup padat penduduknya. Bahkan sempat menjadi pusat pendidikan disaat masa pergejolakan Agresi Belanda, Jepang, DTII, PRRI dan PKI.

Panji Kubu Gadang terletak di atas perbukitan dengan jarak tempuh lebih kurang 3 kilometer dari jalan utama saat ini. Berdekatan dengan Pondok Pesantren Prof. Dr. Buya Hamka.

Pada 1980, terjadi longsor besar menyebabkan sumber air bersih hilang dan terjadi kekeringan. Bencana merubah nasip perkampungan menjadi mati. Perlahan penduduk mulai mengungsi ke pemukiman baru, seiring daerah tapian Danau Maninjau sudah ramai penduduk.

Akses jalan utama telah dibuka pada masa penjajahan Belanda, setelah berhasil menaklukan Kaum Padri yang dipimpin Syekh Tuanku Nan Tuo di Matur dan Lawang.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Penjelajahan panjang nenek moyangnya, melakukan sebuah ekspansi atau “Manaruko” dalam istilah budayanya. Rantau lokal untuk pengembangan wilayah dan menetap sebagai upaya memperluas lahan pemukiman baru. Karena daerah yang telah lama, sudah semakin sempit dan harus pindah ke lokasi baru.

Di Maninjau sendiri terdiri dari 7 suku induk beserta sebuah batu penanda kepemilikan wilayah. Pertama Suku Sikumbang dengan nama Batu Bulek, terletak di Rambai. Suku Tanjung memiliki Batu Kursi, terletak di Guguak Sarai. Ketiga, suku Melayu memiliki Batu Sulah di Kapalo Rumbuak.

Suku Caniago memiliki Batu Gajah di Ikua Koto. Suku Piliang terdapat Batu Hampa. Koto, Batu Simanahan dan Guci masih mencari data. Jika dihubungkan ke tujuh batu tuah pasukuan itu, akan terlihat berbentuk tengkorak manusia.

Menurut Angku Yus Datuak Parpatih, salah satu tokoh adat Minangkabau yang cukup memahami seluk beluk Sejarah Nagari Maninjau dan Sungai Batang menjelaskan, asal usul orang Maninjau maupun Sungai Batang, berasal dari Pauah Fanta berangsur ke, Ranah Sungai Landia hingga sampai di Padang Gelanggang (Nagari Matua Mudiak, Kecamatan Matur). Tidak lama melanjutkan perjalanan ke Ladang Balimo, Kubu Salapan, Kubu Pauah, Kubu Tigo, Kubu Sambilan baru sampai di Panji, Kubu Gadang dan Ujuang.

Edi Yuzwardi (57) salah satu tokoh Kampung Panji menerangkan, manaruko tidak hanya sampai di situ saja. Mulai sempit di Maninjau, ekspansi berlanjut ke Jorong Gasang dan terus turun ke daerah baru di Lubuk Basung. Seperti Balai Salasa, Kampuang Tangah, Manggopoh berlanjut ke Lambah Bawan (Kampuang Pinang dan Kampung Pili).

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Secara adat, tradisi ekspansi atau “Manaruko” adalah “Adaik Bakarilahan” antara warga yang menetap dengan penduduk yang melanjutkan penjelajahan daerah baru. Mereka menyepakati “Nan Ringan Tabaok, Nan Barek Ditinggakan.”

“Nan Ringan Tabaok,
Nan Barek tingga.
Kabau pai kubangan tinggi,
Nan wilayah pulang ka nan punyo.”

Berkembangnya penjelajahan nenek moyang Maninjau itu hingga terbantuknya dua lareh (bentukan penjajahan Kolonial Belanda setelah menaklukan Kaum Padri). Wilayah Lareh Anam Koto meliputi Nagari Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Baru, Koto Tinggi, Paninjauan, dan Koto Malintang. Sementara itu, wilayah Lareh Ampek Koto terdiri dari Maninjau, Sungai Batang, Bayua, Tanjung Sani.

Sejarah Pemukiman Maninjau ternyata berkaitan erat dengan nenek moyang atau Sejarah Nagari Sungai Batang. Selain berasal dari Panji dan Kubu Gadang, juga ada yang berasal dari Koto Tuo ke Nagari Malalak lanjut melalui jalan setapak menembus Jorong Batu Anjung hingga ke Batung Panjang, Tanjung Sani, terpecah ke Labuah dan Jorong Nagari.

Azweri Amir (59) menambahkan, setiap Nagari yang ada, memiliki sejarah dan karakter dan kelebihan budaya masyarakat masing-masing. Maninjau identik budaya Berbalas Pantun, Sungai Batang terkenal dengan Tambua Gadang, di Balai Akhai Anam Koto, terkenal dengan Alat musik Saluang Akhaik dan Salawat Sulang, untuk penghimbau gotong Royong julo-julo mangulah sawah. Di Koto Kaciak terkenal Pupuik Batang Padi Indang Tuonya.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Di Panji terdapat Surau Tuo dan diduga kuat, Surau Tertua pula di Maninjau. Mungkin di Tanjung Raya. Karena masih lestari Tonggak Macu meski telah ada sedikit perubahan akibat pembenahan dan perawatan. Pembuat Tonggak madu itu dikenal sebutan “Badu Tokok Paek.”

“Biriak-biriak turun ka samak,
dari samak turun ka halaman.
Dari inyiak turun ka mamak,
dari mamak turun ka kamanakan.”

Pantun di atas menjelaskan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman dimiliki orang-orang tua terdahulu, terutama dari nenek moyang hingga ke seorang ninik mamak atau mamak dalam satu kaum, semwstinya harus diturunkan ke kemenakannya. Dengan istilah “Mambasuik dari Bumi”.

Seorang anak atau kemenakan, semestinya harus pandai mengambil hati dan membujuk mamaknya agar diberikan sebuah kemampuan yang menunjang skill dan kepercayaan diri. Sehingga mampu berkompetisi di dalam hingga ke luar kampung halaman.

Kemampuan itu berupa pintar mengaji dan berdakwah, sebagai pondasi dasar beragama dan berkehidupan. Kepada Silek (silat) fisik, silek lidah dan silek batin. Silek Minangkabau memiliki Filosofi “Lahia mancari kawan, Batin mancari Tuhan.”

Prinsip hidup itu membentuk kepribadian Berketuhanan Yang Maha Esa, mampu menjalin hubungan dan komunikasi dengan baik “Habluminnannas Wahablumninallah.” Kemampuan itu akan memberi keseimbangan antar hidup didunia untuk menuju akhirat kelak. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 
Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB