Daerah

Sejarah Lahirnya SLB Negeri 1 Lubuk Basung

Agam, Prokabar — Kisah menarik saat menyimak perjalanan panjang pendidikan anak-anak difabel di SLB Negeri 1 Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Proses yang telah berlangsung 35 tahun tersebut memiliki lika-liku perjalanan sangat berat dan panjang. Meski demikian, berkat dukungan semua pihak dan kegigihan bersama, sekolah tersebut menjadi tempat terbaik bagi anak-anak difabel tersebut.

Menurut Kepala Sekolah SLB Negeri 1 Lubuk Basung, Sarip Suzar’an, sekolah tersebut lahir sejak kehadirannya bersama 4 rekan lainnya didatangkan dari Yogyakarta. Sebagai guru berkebutuhan khusus bagi anak-anak disabilitas, tidak mudah untuk menjalani proses ajar mengajar.

Butuh kesabaran yang sangat dan ide kreatif tinggi, agar anak-anak mau mengikuti arahan. Pasalnya, tingkat kemampuan anak-anak difabel atau disabilitas jauh berbeda dari anak-anak normal pada umumnya. Seperti Tuna Netra, Tuna Grahita, Tuna Runggu, Tuna Daksa dan Autis.

Dari 5 orang guru yang didatangkan tersebut seperti Sarip, Adi Subagio, Putrianingsih, Yuni Sukarsan dan Suraya hanya dirinya yang masih mampu bertahan. Bahkan tahun 1984 datang lagi guru tambahan (Ngateman, Rusli dan Suhindra). Mereka inilah menjadi perintis hingga sekolah tersebut terus berlangsung saat ini.

SLB tersebut disambut antusias masyarakat, karena sangat dibutuhkan kehadirannya. Saat itu, sekolah disabilitas tersebut pertama  ada di Kabuaten Agam. Pada saat itu, Kota Bukittinggi masih bagian dari Kabupaten Agam.

“Pada saat itu Bupati Agam bernama Mohammad Nur Syafe’i beserta Istri Mutia Farina. Sedangkan Kepala Kantor Departemen Pendidikan Kecamatan Lubuk Basung setara UPTD pada saat itu bernama Abdul Ghafar,” terangnya.

Antusias masyarakat lanjutnya sangat tinggi atas kehadiran sekolah ini. “Kami sangat senang sambutan masyarakat sangat baik,” ujarnya.

Dengan dukungan masyarakat tersebut hingga akhirnya berdiri Yayasan Penyantun Anak Cacat hingga mendirikan sebuah asrama. Tempat tinggal bersama anak-anak ini diutamakan dari luar daerah.

Anak didik tidak hanya berasal dari Lubuk Basung saja, melainkan ada dari Tanjung Raya, Kinali, Palembayan, Tanjung Mutiara, Ampek Nagari dan Padang Pariaman.

“Saat ini anak didik sudah mencapai 92 orang. Guru pendidik berjumlah 18 orang, 1 orang Kepala Sekolah dan 2 orang penjaga sekolah,” terangnya.

Rumah dinas berjumlah 11 unit, 9 unit rumah dinas guru, 1 unit rumah kepala sekolah dan 1 unit rumah penjaga sekolah. “Standar 1 kelas, 1 orang guru mengajar 8 murid difabel setingkat SMP dan SMA. Sedangkan untuk setingkat SD, 1 guru mengajar 5 orang siswa,” pungkasnya. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top