Oleh : Nurul Azmi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Baterai HP tinggal satu persen, seolah dunia ikut sekarat. Padahal baru dua jam listrik padam, tapi panik sudah menyeruak. “Nggak bisa kerja, nggak bisa nonton, nggak bisa apa-apa,” keluh seseorang. Kita menyebutnya kemajuan, padahal yang terjadi hanyalah keterikatan tanpa sadar pada alat-alat yang dulu katanya hanya untuk bantuan.
Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika dunia terasa bergeser. Bukan karena isu nasional seperti efisiensi anggaran atau pengesahan RUU TNI, melainkan karena listrik padam. Saat itulah kita tersadar, bahwa teknologi telah membius hidup kita.
Kehabisan token listrik bukanlah hal langka. Namun setiap kali terjadi, respons kita selalu sama. Panik. Gadget tak lagi berguna karena baterai habis, Wi-Fi mati, pekerjaan tertunda. Taufik Hidayat dalam Seri Sains: Listrik (2020:6) menulis bahwa energi listrik kini menjadi kebutuhan dasar, dari pagi hingga malam.
Teknologi itu seharusnya memudahkan. Namun realitanya, kita jadi ketergantungan. Alarm kini bukan lagi suara kokokan ayam atau jam weker, tapi HP dan smartwatch. Memasak air pun tak lagi dengan kayu, melainkan dispenser dan rice cooker. Buku cetak digantikan oleh e-book, PDF, dan AI. Surat berubah jadi pesan instan yang dibungkus dalam ketikan. Video call menjadi rutinitas. Jalan kaki tergeser ojek online dan kendaraan listrik. Semua itu membutuhkan dua hal, yaitu daya dan koneksi.
Kita gelisah saat lupa membawa ponsel. Panik melihat baterai tersisa beberapa persen. Kesal karena sinyal lemah. Di ruang keluarga, kebersamaan berubah menjadi kesibukan masing-masing dengan gawai. Mahasiswa kehilangan daya pikir kritis karena terlalu bergantung pada AI. Media sosial menyita waktu tanpa disadari. Judi online merajalela. Game online menjadi pelampiasan. Teriakan kasar di dunia maya menjadi kebiasaan. Perlahan, teknologi bukan lagi alat, tapi penguasa tak terlihat. Bahkan nilai moral pun ikut tergerus.
Mudahnya akses informasi lewat smartphone, justru membuat banyak orang lebih memilih melihat video pendek, meme, atau game online dari pada membaca buku dan artikel panjang. Padahal menurut data UNESCO, minat baca di Indonesia tergolong sangat rendah, yaitu sekitar 0,001% saja. Artinya dari 1000 orang di Indonesia, yang rajin membaca hanya sekitar satu orang saja.
Waktu kecil sebelum gadget merajalela, halaman rumah dipenuhi suara anak-anak yang sibuk dengan dunianya. Saat angin kencang mulai datang, tandanya musim layangan telah tiba. Ketika hujan deras turun, mereka tidak langsung masuk ke dalam rumah, justru malah bermain bola sambil bergelut dengan lumpur. Baju kotor, badan basah kuyup, diiringi dengan tawa bahagia.
Saat listrik padam, tidak ada yang langsung mencari handphone, orang-orang malah keluar rumah, kemudian duduk di teras bersama para tetangga menggantikan suara TV. Bintang-bintang di langit terlihat banyak dan lebih terang, membuat malam terasa lebih hidup meskipun di tengah kegelapan. Tidak ada distraksi atau suara notifikasi, yang terdengar hanyalah obrolan hangat dan kisah-kisah sederhana yang mengikat
Teknologi bukan musuh. Ia hanyalah alat. Tapi manusia harus tetap mengendalikan, bukan malah dikendalikan. Jika tidak, kejutan seperti ini akan terus datang. Bukan lagi sebagai peringatan, tapi penyesalan.
Pada akhirnya, ketergantungan pada teknologi bukan kesalahan. Ia menjadi pengingat. Pengingat bahwa kemudahan hari ini jangan sampai mencuri kendali atas hidup kita. Teknologi boleh berkembang, tapi arah tetap harus dipegang manusia. Sebab hidup yang diserahkan sepenuhnya pada mesin, akan kehilangan yang paling penting, yaitu kemanusiaan.
“Aku takut suatu hari teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan dipenuhi oleh generasi orang-orang bodoh.”
Albert Einstein
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















