Sebelum Membenahi Wisata, Bedahi Dulu Budayanya!

Penulis -

Senin, 30 Agustus 2021 - 10:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Prokabar – Nagari Sungai Batang kembali terpilih masuk nominasi Anugrah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Dari hasil seleksi 300 desa se Indonesia, mengerucut menjadi 100 desa, Sungai Batang masih bertahan bersama Nagari Lawang.

Sebelumya, Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka yang terletak di Nagari Sungai Batang ini juga masuk 10 nominasi Anugrah Pesona Indonesia (API) 2021, dalam katagori Situs Sejarah terfavorit. Kini masih berjuang berkompetisi mencari terbaik hingga Oktober 2021 nanti.

Berdasarkan hasil Like Youtuber, Instagram dan SMS Keyword 12F terhitung 2 Agustus 2021, Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka berada peringkat pertama dengan angka persentase 37,84 %, menang tipis dari Situs Sejarah Megalitik Basemah, Kota Pagaralam.

Masuknya Sungai Batang dalam 100 desa terbaik, kembali dihadapi tantangan dan perjuangan hebat. Pertanyaannya, ada apa dengan Sungai Batang? Kenapa Sungai Batang? Apa benar hebatnya Sungai Batang ini?

Jawabannya, masih banyak tersimpan emas terpendam yang belum tergali. Apa sebab, minimnya penggalian potensi dan pendampingan secara maksimal. Kini, potensi itu mulai terapungkan. Entah siapa yang mengapungkan, itu tidak terlalu penting.

Yang paling utama, bagaimana semua masyarakat dan semua pihak memahami, menggali, memproteksi bahkan mengembangkan serta memanfaatkan potensi hebat itu, untuk meningkatkan sumber daya manusia dan kesejahteraannya.

Potensi sejarah, filsafat, dan budaya yang selama ini terpendam itu bisa dijadikan sumber referensi sejarah dan ilmu pengetahuan umat manusia. Khususnya perkembangan sejarah Islam di Minangkabau.

Apa benar yang menjadikan Sungai Batang sebagai referensi sejarah, filsafat dan budaya? Di sini lahir ulama hebat Buya Hamka yang hampir dikenal Asia Tenggara dan Negeri Timur Tengah.

Bahkan sampai ke Jepang dan Amerika Serikat berkat bukunya berjudul “4 Bulan Di Amerika”.

Ditikam jejak Buya Hamka, muncul pula sosok ayahnya, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah. Ulama pertama Indonesia bersama Abdullah Ahmad mendapat gelar doktor dari Universitas Al Azhar, Mesir.

Tokoh pembaharuan Islam di Minangkabau, pahlawan dari guru pendidik dan pencetus pergerakan pesantren modren di Sumatera.

Ia mencoba menandingi pendidikan barat yang didirikan Kolonial Belanda. Penjajah selalu mendiskriminasi Pendidikan Agama Islam dimasa itu.

Dari pergerakan beliau ini, banyak lahir guru-guru pendidik yang sempat berbagi ilmu ke negeri Jiran Malaysia.

Merunut pula lebih jauh, Nagari Sungai Batang pernah pula menjadi pusat pendidikan Agama Islam di Luhak Agam semasa Syekh Muhammad Amrullah (kakek Buya Hamka) menggantikan kakeknya Tuanku Nan Tuo atau Tuanku Pariaman.

Pusat Pemondokan dan Pendidikan Surau itu berada di Jorong Nagari, Kenagarian Sungai Batang, Lareh Ampek Koto (Kini menjadi Kecamatan Tanjung Raya).

Dulunya, Surau itu bernama Masjid Jami’ dan kini telah berganti Masjid Syekh Amrullah dengan bangunan baru pula.

Ada juga Rumah Gadang dan Rumah Baca Nur Sutan Iskandar. Sosok Sastrawan Angkatan Balai Pustaka.

Penggemar dan Peneliti sastra Indonesia, hampir tidak ada yang tidak mengenal Nur Sutan Iskandar. Sastrawan paling produktif dimasanya.

Jejak sejarah itu mulai memudar, seiring tidak ada yang melanjutkan perjuangan tokoh tua tersebut. Entah apa sebab, belum terjawab secara kongkrit. Butuh kajian lebih mendalam untuk bisa mengungkapnya.

Kini tersisa makam dan sejumlah cagar budaya berupa bangunan tua. Saksi bisu perjuangan ulama dan sastrawan terdahulu yang harus digali dan dikembangkan, agar bermanfaat untuk generasi penerus.

Penanaman Nilai Budaya Harus Diutamakan Sebelum Pengembangan Wisata.

Sebelum mengembangkan potensi wisata, sebaiknya nilai budaya dan sejarah dibangkitkan dulu agar akar rumput tatanan sosial masyarakat kembali berfungsi. Mengembalikannya secepat mungkin, agar tidak terlambat ditelan waktu.

Nilai tatanan tertinggi dalam pengembangan wisata itu sendiri adalah nilai budaya. Dapat kita mencontohkan berbagai belahan dunia, daya tariknya adalah budaya lokal nan bersahaja.

Jika nilai-nilai budaya asli belum hidup mengakar dalam kehidupan masyarakat, akan kurang dilirik karena kurang daya tarik wisatawan. Bali, Thailand, Cina, Hawai, Taiwan, Jepang, Yunani dan Mesir merupakan beberapa contoh negara wisata paling diminati para wisatawan. Ada juga Mentawai dan Papua Nugini sebagai daerah pedalaman. Diminati wisatawan mancanegara karena keunikan budayanya.

Meski berbeda corak nilai budaya, Sungai Batang tentu memiliki market share atau pangsa pasar tersendiri dalam nilai jual kepariwisataan.

Corak religius Islam lebih kental dan menjadi daya tarik bagi wisatawan beragama muslim. Ataupun wisatawan pecinta budaya dan sejarah Islam.

Timbul lagi pertanyaan, bagaimana kondisi Sungai Batang saat ini? Apakah budaya religius dan keislamannya sesuai harapan saat ini?

Sejak mangkatnya Syekh Muhammad Amrullah, Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Buya Hamka, ada pula tokoh lain seperti Yusuf Amrullah (adik kandung Dr. H. Abdul Karim Amrullah) A. R. Sutan Mansur dan Isa Ansyari, kondisi negeri ini jauh berbeda. Butuh pergerakan semangat juang generasi penerus untuk dapat membangkitkanya kembali.

Pendidikan Surau menjadi Solusi.

Tuanku Nan Tuo menyiarkan Islam berpusat di Koto Tuo, Balai Gurah, Kecamatan Ampek Angkek. Meski demikian juga menyiarkan Islam di Lareh Ampek Koto (Kecamatan Tanjung Raya) yang berpusat di Jorong Nagari, Kenagaraian Sungai Batang, peradapan Islam lahir dengan dilanjutkan generasi penerusnya.

Saat tokoh Padri perintis Tarikat Cangkiang atau Tarikat Nahsabandiyah itu meninggal, langsung digantikan cucunya, Syekh Muhammad Amrullah hasil pernikahan anaknya Siti Saerah dengan minantunya Syekh Abdullah Saleh atau Syekh Guguk Katur.

Tuanku Nan Tuo Cangkiang sendiri mendapatkan pendirikan melalui Tuanku Mansiang Nan Tuo yang berguru kepada Syekh Burhanuddin di Ulakan. Pola pendidikan pemondokan yang memusatkan masjid atau surau sebagai pusat pendidikan Ilmu Pengetahuan.

Jadi, surau tidak hanya pusat pendidikan Agama Islam semata, jauh lebih lengkap segala ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu. Namun, semuanya tetap merujuk pada Al Quran dan Hadis. Semua ilmu harus tetap merujuk dan tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam.

Syekh Burhanuddin memberikan ruang dan waktu untuk belajar, kepada semua kelompok di berbagai wilayah Minangkabau maupun luar daerah. Belajar menuntut ilmu Agama Islam dan ilmu pengetahuan umum dengannya.

Para santri itu diberi kesempatan mendirikan surau kecil dan pemondokan sendiri mengelilingi Surau Gadang milik Syekh Burhanuddin.

Menurut Profesor Duski Samad dalam penelitiannya menyebutkan, Pemondokan Pola Surau ini tidak hanya pendidikan biasa, bahkan setara Universitas yang berkembang saat ini.

Semakin hebat dan luas ilmu pengetahuan seorang Guru setara ulama di Surau itu, maka akan semakin hebat pula kemajuan dan perkembangannya.

Pola Pendidikan Surau ini pula lah yang akhirnya melahirkan generasi emas Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia seperti Tuanku Imam Bonjol, Haji Agus Salim, M. Hatta, M. Natsir, Buya Hamka, Rasuna Said, Tan Malaka dan sebagainya.

Karena mereka terlahir dimasa kejayaan Surau, mencetak generasi siap pakai. Mencetak generasi berkarakter tegas, lugas, cerdas, cendikiawan, sederhana, mandiri, bermartabat, amanah, jujur, adil, kesatria, patriot dan hebat berdiplomat.

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah menjadi pondasi dasar dengan filosifi “Alam Takambang Jadi Guru” dalam diri mereka. “Raso Pareso” adalah ketajaman jiwa dalam berinteraksi sosial, sehingga sikap kehati-hatian memperhalus budi, bertutur kata yang indah. Pituah itu seperti :

Nan Kuriak Kundi,
Nan Merah Sago.
Nan Baiak Budi,
Nan Indah Bahaso.

Budaya inilah sebagai rel kereta yang mendidik melalui Pendidikan Surau untuk berpijak di atas Bumi, berfikir dalam alam logika, merasa di hati sanu bari, bergerak melangkah dan bertindak dengan panca indra.

Surau tidak hanya mematangkan Ilmu Agama Islam yang menjadi hubungan dengan Sang Kaliq, juga melatih diri kepada sesama Makluk-NYA. Habluminannas wa Habluminallah.

Di surau lah orang tua, guru, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai mendidik mengasah ketajaman lahir dan bathin dengan Silat. Silat Lahiriah, Silat Bathiniah dan Silat Lidah. “Lahia mencari kawan, Bathin mencari Tuhan”.

Merujuk lagi kepada tatanan sosial matrilineal Minangkabau, terdapat tiga komponen penting, yang bahu membahu, saling melengkapi dan menjaga generasi menjadi lebih baik dimasa akan datang.

Istilah “Tigo Tali Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan” merupakan tiga tokoh wajib ada, berperan dan bertanggungjawab.

Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai terhimpun dalam wadah Kerapatan Adat Nagari. Memegang beban pengawasan, kontrol sosial bahkan memberi sanksi sesuai Adat Salingka Nagari yang tetap merujuk pada Al Quran dan Hadis.

Pertanyaannya, sudahkah ini berjalan sebagaimana mestinya? Hanya masyarakat itu sendiri yang bisa menjawab.

Pada dasarnya, tiga komponen ini hanya bisa dicetak dan dikader melalui pendidikan surau, sementara program tersebut tidak lagi berfungsi dan bahkan hampir punah. Alasan klasiknya, pendidikan formal telah menggantikan posisi Surau.

Apakah pemangku itu tidak bisa menggagas lagi aturannya sendiri agar Pendidikan Surau ini dapat tetap berjalan? Tidak ada yang tidak mungkin, jika azas musyawarah mufakat dilaksanakan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Surau yang menyesuaikan kondisi saat ini tentunya.

Intinya, budaya surau di Minangkabau, khususnya di Nagari Sungai Batang dengan sejarahnya, harus dimunculkan kembali. Jika tidak, akan tenggelam dan tergerus dalam persaingan budaya global.

Sementara, pariwisata membuka pintu masuk budaya luar, dengan mudahnya merongrong generasi pada dampak asimilasi ataupun akulturasi budaya.

Apakah kita siap untuk itu? Sementara kita belum kuat mempertahankan dan menjaga diri dari kehancuran budaya sendiri. (***)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB