Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

SDM dan Anggaran Penentu Pengembangan Pariwisata. Bagaimana di Tanah Datar?

Dibaca : 405

Tanah Datar, Prokabar – Minimnya Sumber daya manusia (SDM) serta anggaran dalam mengelola destinasi wisata, menjadi permasalahaan pengembangan pariwisata di Tanah Datar. PerananSDM dalam pengembangan wisata sangatlah penting. Namun, kapasitas SDM yang masih kurang, sehingga perkembangan wisata di Tanah Datar sangat sulit berkembang.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Tanah Datar Efrison menjelaskan, dari 150 lebih objek wisata yang ada di Tanah Datar, 12 di antaranya menjadi top destinasi.

Ke-12 destinasi tersebut adalah Istano Basa di Pagaruyung, Puncak Pato di Lintaubuo Utara, Desa Terindah di Pariangan, Puncak Aua Sarumpun di Rambatan.

Kemudian Lembah Anai, Pandai Sikek, Pemandian Aie Angek di Padang Gantiang, Panorama Tabek Patah, Danau Singkarak, Pacu Jawi, Batu Angkek-angkek, dan Pasar Van Der Capellen.

Dari seluruh objek wisata itu, sebut Efrison, hanya dua objek wisata saja yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Tanah Datar melalui Dinas Parpora yakni, Istano Basa Pagaruyung dan Puncak Pato.

“Nah, selain itu, pengelolaan pada umumnya dilakukan oleh pemilik ulayat, pribadi, maupun nagari. Dan kondisi nyatanya memang masih minim SDM. Untuk itu kita dari Pemkab selalu berusaha mendampingi pengelola objek wisata dengan memberikan bimbingan teknis (bimtek) peningkatan kapasitas pengelolaan pariwisata,” sebutnya.

Salah satu bentuk kegiatan itu, kata Efrison, bimtek terhadap pengelola objek wisata se Tanah Datar sebanyak 40 orang, yang digelar Rabu-Minggu kemaren (9-13/9).

“Selama bimtek ini diberikan berbagai bekal ilmu bagi para pengelola, di antaranya cara-cara mengelola, cara melayani, hingga cara promosi. Harapan kita tentu peserta ini mampu menjadi agen perubahan di nagari mereka masing-masing dengan bekal yang sudah didapatnya. Termasuk dengan melakukan studi ke lapangan dan studi tiru ke daerah lain,” harapnya.

Efrison mengakui, sejak pandemi Covid-19, pariwisata Tanah Datar secara umum lumpuh total. Namun, jika dibiarkan akan menjadi mimpi buruk bagi pelaku wisata. Oleh karena itu, dengan mengikuti prosedur kesehatan Covid-19, perlahan-lahan objek wisata mulai kembali bergerak.

“Memang belum nampak hasilnya. Jika dipersentasekan hanya sekira 30 persen pergerakan wisata kita. Dan itu hanya masih bersifat lokal saja,” sebutnya.

Jika Covid-19 selesai, sebut Efrison, pihaknya sudah mempersiapkan berbagai event pada 2021 mendatang. Di antaranya Festival Budaya Minangkabau, Pacu Jawi, dan sejumlah kegiatan lainnya.

“Jika kondisi masih belum memungkinkan, terpaksa kembali semua event kita undur.” tutupnya.(eym)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top