Sawahlunto Layak Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Panjat Tebing Internasional

Penulis -

Jumat, 25 Agustus 2017 - 17:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sawahlunto, Prokabar – Tidak hanya menjadi tuan rumah kejuaraan panjat tebing berskala nasional, Kota Sawahlunto juga sudah pantas menjadi tuan rumah kejuaraan panjat tebing berskala internasional. Sebab, sarana pertandingan di daerah ini sudah memadai dan didukung oleh keunikan dan keindahan kota bekas pertambangan batu bara ini.
“Kami ingin event panjat tebing internasional bisa digelar di kota ini. Mengajak para atlet panjang tebing kelas dunia bertanding di sini dan melihat cantik dan indahnya Sawahlunto,” ujar Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) Faisol Riza saat memberikan sambutan pembukaan Kejurnas Kelompok Umur XII di Wall Taman Silo, Sawahlunto, Sumatera Barat, Jumat (25/8).

Riza menegaskan, saat ini FPTI sedang menghadapi tugas berat karena harus mempersiapkan atlet untuk memenuhi target dua emas panjat tebing saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Tugas itu harus dipikul sekuat tenaga agar bisa dipenuhi, sekaligus untuk menorehkan sejarah karena perhelatan tahun depan merupakan kali pertama panjang tebing dipertandingka di Asian Games.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Saat ini, optimisme untuk memenuhi target emas Asian Games 2018 juga terus menyala melihat perkembangan positif para atlet nasonal yang sedang menjalani Pelatnas di Yogyakarta. Bahkan ada yang memiliki catatan waktu melewati rekor dunia meski tidak resmi karena  dicatat dalam latihan. Hal ini juga diharapkan menambah motivasi para atlet muda yang bertanding d Kejurnas Kelompok Umur XII 2017 untuk bisa mencontoh kakak-kakak mereka di Pelatnas.

Meski tidak dipertandingkan di tiga SEA Games terakhir, menyusul dominasi Indonesia yang hampir menyapu bersih emas saat Indonesia menjadi tuan rumah SEA Games 2011, panjat tebing kini berpotensi besar untuk mengharumkan nama bangsa di pentas internasional. Tidak hanya Asian Games tahun depan, PP FPTI juga berharap bisa meraih sukses saat panjat tebih untuk kali pertama di pertandingkan di Olimpiade 2020 di Jepang.  Dengan menjadi cabor remi olimpiade, panjat tebing juga diharapkan bisa dilombakan kembali di SEA Games 2019 di Filipina.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

“Panjat tebing sudah menjadi cabor resmi olimpiade 2020. Siapa tahu nanti atlet olimpiade ada yang dari Sawahlunto dan mudah-mudahan dapat emas. Untuk itu, para atlet di Kejurnas Kelompok ini jangan lembek, harus berlatih keras untuk membawa nama daerah, provinsi masing-masing dan negara,” tutur Riza.

Ada 160 atlet dari berbagai daerah di Tanah Air yang tercatat mengikuti Kejurnas Panjat Tebing Kelompok Umur XII yang sudah mulai dipertandingkan pada Kamis (24/8). Para atlet di rentang usia 10-19 tahun ini akan memperebutkan 26 medali emas dari 26 nomor yang dipertandingkan dari tiga katagori speed, lead dan boulder. Kejurnas ini merupakan program FPTI untuk mengetahui perkembangan atlet di masing-masing daerah sekaligus menjadi alat ukur FPTI menentukan peringkat nasional atlet yang akan menjadi acuan dalam seleksi di kejuaraan internasional.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Walikota Sawahlunto, Ali Yusuf menyambut baik perhelatan Kejurnas yang digelar di daerahnya. Sekaligus bangga dan siap jika FPTI dapat menghadirkan kejuaraan internasional ke kota ini. Sebab, hal ini menjadi ajang promosi bagi Sawahlunto yang tengah mempersiapkan diri menjadi kota tua untuk diakui Unesco.

“Batubara di kota ini yang sudah tidak bisa diperbaharui. Sehingga lewat panjat tebing ini mudah-mudahanan Sawahluntu terus maju dan berkibar di internasional. Kami siap menjadi tuan rumah ajang nasional dan internasional,”  ujar Ali Yusuf . (rls)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB