Padang, Prokabar – Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas menjalin kerjasama dengan Lapas Kelas II A Muaro Padang menjalin kerjasama. Realisasi kegiatan telah dimulai dengan Pelatihan Penulisan Kreatif kepada Warga Binaan Pemasyarakatan.
Kerjasama disepakati antara Kepala Lapas Kelas II A Muaro Padang, Era Wiharto dengan Ketua Jurusan Sastra Minangkabau, Yerri Sastria Putra pada, Rabu (29/9) lalu. Kegiatan dimulai dengan menghadirkan dua orang pembicara dosen Sastra Minangkabau Unand, yakni Bahren dan Rona Almos.
Kegiatan merupakan bentuk pengabdian masyarakat. Dan direncanakan berakhir ada akhir November 2021 nanti.
“Bahren memberikan materi seputar penulisan kreatif, dalam paparan materinya menyebutkan masyarakat Minangkabau dengan kebiasaan berkias melahirkan sebuah tradisi bertutur yang baik, salah satu tradisi itu adalah berpantun,” ungkap Yerri.
Bahren mengatakan banyak hal dalam berbagai siklus hidup Masyarakat Minangkabau, di setiap acara menggunakan pantun sebagai media penyampaian pesan.
“Siklus hidup mulai dari kelahiran, hingga kematian tidak terlepas dari kegiatan berpantun ini. Biasanya kegiatan berpantun, tertuang dalam pidato adat dan pidato pasambahan disampaikan pemuka adat, agama ataupun keluarga yang menyelenggarakan kegiatan,” tuturnya.
Ia melanjutkan, berpantun khususnya pantun Minangkabau memiliki pola yang mudah untuk diikuti. Seperti pola rima yang berlaku untuk pantun secara umum termasuk pantun Minangkabau.
Selain itu pola penggalan silabe juga menyebabkan pantun Minangkabau menjadi mudah untuk digubah. Lebih lanjut, Bahren menyebutkan pola umum penggalan silabe dalam pantun Minangkabau biasanya terdiri dari 9 sampai 11 silabe, artinya setelah mengikuti pola rima kita juga harus memperhatikan pola silabe.
“Lapas Muarao tapi di lawik
Talataknyo di Batang Arau
Kok disabuik sakik iduik
Di dalam sel badan mararau,” ungkap Bahren mencontohkan pantun pola silabe.
Pola penggalan silabe yang dimakud dalam pantun di sini adalah, jika setiap kalimat dalam sampiran pantun di atas dipisah pisah maka akan menjadi sembilan bagian.. Yaitu /la/ /pas/ /mua/ /ro/ /di/ /ta/ /pi/ /la/ /wik/ untuk kalimat sampiran pada pantun bari pertama, begitu juga dengan sampiran baris kedua dan isi pantun pada baris ketiga dan ke empat.
Ayang, salah seorang peserta menanyakan terkait silabe
Berbagai pertanyaan pun muncul dari para peserta pelatihan mengenai silabe ini dan ketetapan pola penggalannya itu apakah harus begitu atau bagaimana.
Bahren mengatakan, pola yang dimaksud digunakan agar mudah untuk menerapkan dan diaplikasikan ke jenis karya lain. Seperti penulisan lirik lagu dan cerita, pola ini akan sangat membantu.
Rona Almos menjelaskan pola silabe merupakan istilah dalam ilmu bahasa yang merujuk pada suku kata, masuk bidang kajian morfologi. “Silabe merupakan kajian bahasa yang menitik beratkan pada kajian kata dan suku kata serta hal-hal yang membuatnya menjadi berubah makna,” jelasnya.
Warga binaan berharap ke depan diberikan pelatihan serupa tetapi untuk jenis yang lain. Misalnya penulisan cerita, artikel atau yang lainnya. Sejumlah karya lahir berapa pantun dari Warga Binaan. Diantaranya.
“Rumah sajik di tangah balai,
Dikuncinyo jo kuro-kuro.
Baa nasib indak kasansai,
Badan takuruang di panjaro,” karya Nusirwan.
“Jalan-jalan ka Koto Kaciak,
Singgah sabanta ka Kampuang Jao.
Jan ragu cinto uda ka adiak,
Uda lai ka pulang juo,” Karya Ances Setiawan.
“Di Tapi lauik badarum ombak,
Darunnyo tadanga di pinjaro.
Den takana jo amak abak,
Badan takuruang manangguang doso,” karya Efriza Junius, tutup Rona Almos. (rud)
















