Sastra Minangkabau Unand Latih Menulis WBP Lapas Muara Padang

Penulis -

Minggu, 3 Oktober 2021 - 23:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas menjalin kerjasama dengan Lapas Kelas II A Muaro Padang menjalin kerjasama. Realisasi kegiatan telah dimulai dengan Pelatihan Penulisan Kreatif kepada Warga Binaan Pemasyarakatan.

Kerjasama disepakati antara Kepala Lapas Kelas II A Muaro Padang, Era Wiharto dengan Ketua Jurusan Sastra Minangkabau, Yerri Sastria Putra pada, Rabu (29/9) lalu. Kegiatan dimulai dengan menghadirkan dua orang pembicara dosen Sastra Minangkabau Unand, yakni Bahren dan Rona Almos.

Kegiatan merupakan bentuk pengabdian masyarakat. Dan direncanakan berakhir ada akhir November 2021 nanti.

“Bahren memberikan materi seputar penulisan kreatif, dalam paparan materinya menyebutkan masyarakat Minangkabau dengan kebiasaan berkias melahirkan sebuah tradisi bertutur yang baik, salah satu tradisi itu adalah berpantun,” ungkap Yerri.

Bahren mengatakan banyak hal dalam berbagai siklus hidup Masyarakat Minangkabau, di setiap acara menggunakan pantun sebagai media penyampaian pesan.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

“Siklus hidup mulai dari kelahiran, hingga kematian tidak terlepas dari kegiatan berpantun ini. Biasanya kegiatan berpantun, tertuang dalam pidato adat dan pidato pasambahan disampaikan pemuka adat, agama ataupun keluarga yang menyelenggarakan kegiatan,” tuturnya.

Ia melanjutkan, berpantun khususnya pantun Minangkabau memiliki pola yang mudah untuk diikuti. Seperti pola rima yang berlaku untuk pantun secara umum termasuk pantun Minangkabau.

Selain itu pola penggalan silabe juga menyebabkan pantun Minangkabau menjadi mudah untuk digubah. Lebih lanjut, Bahren menyebutkan pola umum penggalan silabe dalam pantun Minangkabau biasanya terdiri dari 9 sampai 11 silabe, artinya setelah mengikuti pola rima kita juga harus memperhatikan pola silabe.

“Lapas Muarao tapi di lawik
Talataknyo di Batang Arau
Kok disabuik sakik iduik
Di dalam sel badan mararau,” ungkap Bahren mencontohkan pantun pola silabe.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Pola penggalan silabe yang dimakud dalam pantun di sini adalah, jika setiap kalimat dalam sampiran pantun di atas dipisah pisah maka akan menjadi sembilan bagian.. Yaitu /la/ /pas/ /mua/ /ro/ /di/ /ta/ /pi/ /la/ /wik/ untuk kalimat sampiran pada pantun bari pertama, begitu juga dengan sampiran baris kedua dan isi pantun pada baris ketiga dan ke empat.

Ayang, salah seorang peserta menanyakan terkait silabe

Berbagai pertanyaan pun muncul dari para peserta pelatihan mengenai silabe ini dan ketetapan pola penggalannya itu apakah harus begitu atau bagaimana.

Bahren mengatakan, pola yang dimaksud digunakan agar mudah untuk menerapkan dan diaplikasikan ke jenis karya lain. Seperti penulisan lirik lagu dan cerita, pola ini akan sangat membantu.

Rona Almos menjelaskan pola silabe merupakan istilah dalam ilmu bahasa yang merujuk pada suku kata, masuk bidang kajian morfologi. “Silabe merupakan kajian bahasa yang menitik beratkan pada kajian kata dan suku kata serta hal-hal yang membuatnya menjadi berubah makna,” jelasnya.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Warga binaan berharap ke depan diberikan pelatihan serupa tetapi untuk jenis yang lain. Misalnya penulisan cerita, artikel atau yang lainnya. Sejumlah karya lahir berapa pantun dari Warga Binaan. Diantaranya.

“Rumah sajik di tangah balai,
Dikuncinyo jo kuro-kuro.
Baa nasib indak kasansai,
Badan takuruang di panjaro,” karya Nusirwan.

“Jalan-jalan ka Koto Kaciak,
Singgah sabanta ka Kampuang Jao.
Jan ragu cinto uda ka adiak,
Uda lai ka pulang juo,” Karya Ances Setiawan.

“Di Tapi lauik badarum ombak,
Darunnyo tadanga di pinjaro.
Den takana jo amak abak,
Badan takuruang manangguang doso,” karya Efriza Junius, tutup Rona Almos. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB