Pasaman, Prokabar — Sudah sepekan polemik penanggulangan dan pembuangan sampah masyarakat di Pasaman menyeruak. Dimana duduk, di situ masalah sampah menjadi topik pembahasan masyarakat.
Di Lubuk Sikaping, di Bonjol sampai-sampai bagian utara Pasaman, Kecamatan Panti sekitarnya, sampah menjari polemik. Ini sebabnya.
Kabid Perumahan Rakyat, Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman, Budi Cendekia Putra meluruskan, polemik cukup terganggunya penanggulangan sampah beberapa hari ini dikarenakan situasi. Bukan disengaja atau semacamnya.
“Kondisi saat ini, jalan menuju TPA via Koto Tangah ada pengerjaan tebing jalan. Akibatnya jalan buka tutup. Ditambah material tanah liat membuat jalan licin dan tidak bisa dilewati. Kamipun terpaksa merubah rute perjalanan ke TPA via Bonjol-Kumpulan, Kecamatan Bonjol,” kata Budi.
Akibat hal ini, rute yang biasa jarak tempuhnya sekitar 15 kilo meter, menjadi 60 kilometer ke TPA. Ini berpengaruh besar pada proses pengangkutan yang biasanya delapan kali sehari oleh empat operator supir truck, menjadi empat kali.
“Belum lagi anggota kita tengah difokuskan mengangkut sampah bekas bencana banjir di beberapa kecamatan. Jadi kami berharap, masyarakat sedikit bersabar dan mohon pengertian. Ini situasi yang cukup sulit, bencana, keadaan jalan yang tidak memungkinkan ditambah adanya bak sampah yang direnovasi beradu dalam situasi satu waktu yang tidak tepat,” tutup Budi. (Ola)
















