Sakato Lahia jo Batin, Baitu di Minangkabau

Penulis -

Selasa, 20 Oktober 2020 - 18:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kamudiak saantak galah, kailia sarangkuah dayuang, sakato lahia jo bathin, sasuai muluik jo hati.

Artinya untuk melaksanakan suatu pekerjaan dalam masyarakat, pemimpin harus satu kata dengan perbuatan, seiya dan sekata. (dikutip dari Pepatah petitih Minangkabau Idrus Hakimy Dt Rajo Penghulu)

*
Ada jelas? Begitulah kalau jadi gubernur di Sumatera Barat ini. Orang cedik semua di sini. Tapi, kalau dapek gili-nya, jangan disebut, mereka sokong beramai-ramai. Salah satu kiatnya, sesuai pepatah-petitih di atas, sakato lahia jo batin, sasuai muluik jo hati.

Begitu benarlah. Inilah yang dipesankan Jenderal Fakhrizal. Keturunan Pejuang Perang Kamang 1908 itu, tahu untuk menjadi pemimpin maka jangan lain kata lain perbuatan. Ia minta siapa saja harus begitu. “Kalau sudah begitu, cigin larinya Sumbar, percayalah,” kata dia.

Ini harus diikuti sikap anti korupsi yang dibuktikan dengan perbuatan. Maka orang-orang yang bekerja di Pemprov Sumbar menurut dia, pertama-tama harus berakhlak. Dengan itu semua muatan tentang jujur, tepat waktu, dan menghargai orang lain.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Karena itu, kata dia, kita harus kembali belajar adat secara sungguh-sungguh.”Tak menghabiskan waktu, sekali sepekan saja cukup, sampai merasa sudah cukup, bisa 6 bulan, bisa setahun.”

Menurut Jenderal, jika kita terlalu jauh dari akar budaya,maka ketika itu akan merasa sansai sendiri. Itulah kemudian, antara lain yang menyebabkan, tidak ada kepedulian pada rumah gadang, posisi datuak, harga menghargai dan apresiasi sudah tidak ada pada nenek moyang membuat sawah-sawah berjenjang. “Ini kaji dari bawah benar, jadi mari kita berjalan bersama, membangun Sumatera Barat, untuk masa depan yang lebih baik,”kata dia.

Tidak ada yang sulit kalau bersama, mau jalan tol, mau industri, mau UMKM, asal tak main sendiri-sendiri, bisa. Pemerintah katanya, harus fokus dan didukung oleh kelompok pemikiran yang kuat. “Makanya saya melihat Bappeda harus kuat,” katanya Ahad (18/1).

Menurut dia, semoderen-moderennya hidup, maka akar jangan lupa. Malah kian maju sebuah bangsa, makin dekat ia ke akar budayanya. “Makoe nan ka jadi gubernur tu yo nan dapek gamak Minanglah,” itu kawan seorang warga. Rakyat Sumbar bisa menerima pembaruan apa saja, termasuk jalan tol, tapi kalau kanai kucuah tagak mana dia mau.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Karena itu juga lah infrastruktur di Sumbar berjalan lambat pembangunannya. Ia pun mengamati kerusakan jalan sepanjang Alahan Panjang – Muaro Labuah. Kondisi jalan yang sejak dirinya menjadi Kapolda Sumbar 2017-2019 masih tetap sama. Tidak ada yang berubah signifikan.

Jalan di sepanjang Alahan Panjang sampai Muaro Labuah masih seperti itu-itu juga. Masih banyak lubang dan rusak. Bahkan di beberapa titik ada yang terban sampai 50 persen. “Idealnya, jalan dari Lubuk Selasih hingga Muaro Labuah minimal 8-10 meter. Apalagi topografi yang melintasi bukit, sangat rentan kendaraan masuk jurang,” katanya.

Selain itu, Fakhrizal juga melirik akses jalan Muaro Labuah – Kambang (Pesisir Selatan) dan Padang Aro ke Sungai Rumbai (Dharmasraya). Untuk jalan Muaro Labuah – Kambang, akses jalan hanya bisa dilalui oleh kendaraan trail roda dua. Sedangkan jalan Padang Aro – Sungai Rumbai sudah bisa di lalui kendaraan roda empat.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Pengurusan dan eksekusi pembenahan jalan ini, bagi Fakhrizal berada pada keseriusan seorang gubernur. Pasalnya, negara sudah menyediakan cara dan aturan bagi setiap daerah untuk bisa berkembang dan maju.

“Saya jadi Kapolda lima tahun. Dua tahun di Kalimantan Tengah dan tuga tahun di Sumbar. Tahu betul saya bagaimana perkembangan daerah itu ada pada keseriusan gubernurnya. Jika Gubernurnya lalai, maka lalai pula daerahnya,” ucapnya.

Di sisi lain, tol juga sudah dibuat. Belum sudah. Panjang dari sana, pendek dari sini. Baru 4,5 Km. Beringsut. Jenderal melihat, tol penting untuk pergerakan barang dan orang. Salah satu kasus pergerakan orang antarkota adalah saat Idul Fitri dan akhir pekan. Sedangkan untuk distribusi barang, makin ke depan, kian penting kecepatan. (Rls)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB