Budaya

Saat Kearifan Lokal Mulai Memudar dari Masyarakat Minangkabau

Agam, Prokabar – “Caliak contoh ka nan manang, caliak Tuah nan sudah (Melihat contoh yang menang, melihat Tuah yang telah ada), kenapa anak-anak yang lahir di Sungai Batang ini hebat-hebat? Karena alamnya hebat, gizinya banyak dan pendampingan semua orang tua terdahulu masih kuat dan banyak,” Kata Bupati Agam, Indra Catri saat menyampaikan pesan kepada masyarakat dan Tim Penilaian Kader Posyandu Terbaik Sumbar, Di Batung Panjang, Tanjung Raya, Agam, Senin (30/7).

Teringat masih kecil-kecil dulu lanjutnya, saat ibu hamil, ia mengaji didampingi suami, mertua, Ipa dan Bisannya. Mereka saling jalang-manjalangi (kunjung-mengunjungi) sambil membawa makanan bergizi. Sehingga ibu hamil dan anaknya mendapat kekuatan iman, perlindungan Illahi disertai makanan yang sehat bergizi dari semua keluarganya.

“Beragam buah, sayur mayur, ikan, daging, serta makanan bergizi lainnya didapakan dari kearifan lokal budaya masyarakatnya. Dari sisi psikologis perhatian berupa ketenangan, keamanan dan kenyamanan mulai hamil hingga melahirkan didapatkannya pula. Namun sekarang itu mulai pudar akibat banyak faktor. Maka budaya ini penting dibangkitkan kembali,” tutur Bupati Agam tersebut.

Kita tahu, Salingka Danau Maninjau, banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional hebat yang turut berjuang pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan RI ini. Mulai dari Akademisi, Politisi, Agamais, Negarawan dan Sastrawan. Seperti Hamka beserta Ayahnya Haji Abdullah Karim Ambrullah, Achyar Ilyas (World Bank), Ahmad Fuadi, Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, Hasnan Habib, Kaharuddin Datuak Rangkayo Basa, Loetan St. Toenaro, Moh. Natsir, Moh. Nazir, Muhammad Isa Anshary, Rasunan Said dan banyak lagi tokoh lainnya.

Ninik Mamak Nagari Sungai Batang, Ahsin Dt. Bandaro Kayo mengakui kenyataan terjadinya pergeseran pola budaya masyarakat. “Kita tidak bisa pungkiri, pengaruh budaya global serba instan menipiskan budaya gotong royong atau kearifan lokal kita. Tradisi Jalang Manjalang Keluarga, seperti dari minantu ke mintuo atau sebaliknya mulai pudar,” ungkap Ahsin.

Ninik Mamak tersebut juga tidak bisa memungkiri kondisi alam dahulunya subur dan dipenuhi beragam tumbuhan bergizi, sekarang mulai menipis. Beragam ikan di danau juga sudah banyak yang punah. “Penyebap tersebut akibat ulah tangan kita sendiri sebagai manusia yang terlalu berlebihan mengeruk alam ini. Akibatnya juga dirasakan langsung pada masyarakat salingka danau ini,”lanjutnya.

Untuk itu, kita harus bersama-sama kembali menciptakan alam tumbuh subur dipenuhi ragam tumbuhan dan makanan bergizi. “Menciptakan kembali alam yang hebat sesuai ridho-NYA, sehingga melahirkan manusia yang hebat pula nantinya,” tutupnya. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top