Cirebon, Prokabar–Keinginan Mas’amah mengubah perekonomian keluarganya dengan cara berangkat ke Arab Saudi, sirna sudah. Sembilan tahun lamanya, Mas’amah justru harus terpisah dengan keluarga terutama suami dan anak semata wayangnya.
“Kalau dipikir lagi, sembilan tahun itu waktu yang cukup lama. Aku nggak bisa ketemu keluarga di kampung. Keburu kena masalah (dituduh membunuh),” kenang Mas’amah pada Prokabar ketika ditemui di rumahnya di Desa Buntet, Astanajapura, Kabupaten Cirebon, belum lama ini.
Istri dari Hamid Sanusi (40) ini lantas menceritakan apa yang telah terjadi saat dirinya bekerja di rumah keluarga Ghalib. “Aku jadi TKW tahun 2008 lalu. Aku kena masalah di tahun 2009, sebelumnya aku kerasan tinggal di keluarga majikan. Mereka baik dan memperlakukanku sangat manusiawi,” kenangnya.
Baru tujuh bulan bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan pengasuh, Mas’amah malah kena fitnah. Tak tanggung lagi, tuduhan itu menyebut wanita berusia 36 tahun ini sebagai pembunuh.
“Masya Allah mana mungkin aku membunuh. Aku nggak punya dendam, mereka baik sama aku. Aku bersumpah tidak membunuh Marwa, ini kecelakaan,” sebut Mas’amah menyebut nama anak majikannya yang ditemukan sudah tak bernyawa lagi.
Saat kejadian berlangsung, Mas’amah sedang membuatkan susu untuk Marwa di dapur. Kebetulan saat itu, bayi berusia 11 bulan ini tengah menangis. “Aku buatkan susu di dapur. Masak air dan cuci botol. Nggak taunya setelah siap, aku melihat Marwa sedang ditindih kakaknya (Marwan berusia 3,5 tahun),” bebernya.
Sontak Mas’amah kaget dibuatnya. Ia lantas berlari dan mendorong tubuh Marwan. “Marwa sudah tidak menangis lagi. Aku pikir Marwa pingsan, tapi setelah di cek, nafasnya sudah tidak ada lagi,” ungkap Mas’amah.
Tentu saja Mas’amah kebingungan. Apalagi saat itu ibu Marwa tengah berada di kamarnya karena sakit. Sambil memeluk Marwa di pangkuannya, Mas’amah lantas menutupkan mata Marwa.
Di waktu yang bersamaan, Sa’ad (11) yang juga anak majikan melihatnya menutupkan mata. Mas’amah pun menyebut innalilahi wa innailaihi rojiun di hadapan Sa’ad. “Ternyata sidik jari aku ada di wajah Marwa. Karena memang aku menutupkan mata untuk Marwa,” kenangnya.

Mas’amah yang belum fasih berbahasa Arab ini tentu saja kesulitan ketika polisi setempat mengintrograsinya. Mas’amah disebut telah mengakui menghabisi nyawa Marwa dengan tangannya sendiri.
“Saat ditanya polisi aku nggak paham bahasa Arab. Jadinya hanya bahasa isyarat. Terjadi salah komunikasi. Aku pikir pertanyaan kamu yang menutup mata justru berbeda. Aku malah mengakui membunuh Marwa,” sesalnya. (beb)
















